Kapolsek Gerokgak, Kompol Made Widana menyerahkan bantuan sembako kepada pengungsi, Adi Susanto (50) asal Desa Majeluk, Kecamatan Mataram, Kabupaten Lombok Barat, tinggal sementara di Desa Patas.

Singaraja, balipuspanews.com — Kehadiran 10 jiwa pengungsi gempa asal Lombok,  menumpang sementara di rumah milik Sulikah (60) RT 04, RW 06, Banjar Yeh Biu, Desa Patas, Kecamatan Gerokgak Buleleng, menjadi perhatian Kapolsek Gerokgak, Kompol Made Widana.

Nah, meringankan beban hidup pengungsi itu, Kapolsek Widana turun bersama anggota menyalurkan bantuan berupa sembako.

Kedatangan Kapolsek Widana didampingi aparat pemerintah desa setempat, disambut senyum sumringah warga pengungsi.

Sebelum paket sembako diserahkan, Kapolsek Widana sempat berbincang-bincang untuk mengetahui perkembangan kesehatan kondisi para pengungsi tersebut.

“Saya merasa terketuk, setelah menerima informasi dari aparat desa, bahwa ada pengungsi gempa asal Lombok Barat, tinggal di Patas. Melihat senyum mereka, tentunya kami merasa bahagia, meskipun kami sadar bantuan ini nilainya tidak seberapa, dan hanya sebatas ikut berpartisipasi meringankan beban mereka (pengungsi). Astungkara, semuanya dalam keadaan sehat,” ungkap Kapolsek Widana, Selasa (4/9).

Salah satu pengungsi, Adi Susanto (50) asal Desa Majeluk, Kecamatan Mataram, Kabupaten Lombok Barat menuturkan, pasca gempa, ia bersama dua kepala keluarga lainnya terpaksa mengungsi ke kerabatnya di Patas, Gerokgak, lantaran rumah yang mereka huni rusak akibat gempa.

Tak hanya itu, keputusan untuk mengungsi dipicu kepanikan, menyusul adanya kabar akan ada gempa besar susulan dan teror gempa berpotensi tsunami.

“Listrik padam, membuat kami sekeluarga panik. Kemudian, kami pun sepakat mengungsi ke rumah kerabat (Sulikah) di Buleleng. Kami tidak punya bekal, hanya bawa baju melekat di badan. Selama menumpang, makan minum dibantu sepenuhnya oleh kerabat dan pengurus masjid,” katanya.

Susanto menyebutkan, 3 Kepala Keluarga (KK) berjumlah 10 jiwa pengungsi asal Majeluk tinggal sementara di Patas, istrinya Rusnah (49) dan anaknya Hendri Iswanto (18).

Kemudian, Iin Lisawati (30) bersama tiga anaknya Asifa Junita Putri (9), Iqbal Hakiki (6) dan Iyazi Ali Sya’bandi (3).

Lalu, Istiyani (27) bersama dua anaknya, Ibnu Rafael Sanjaya (5) dan Rizqiara Syakila (1,5).

Dalam waktu dekat, imbuh Susanto, seluruh keluarga mengungsi berencana kembali ke Lombok.

“Rencananya sih mau segera balik ke Lombok, karena dibilang sudah aman. Namun, sekaramh masih terkendala ongkos transportasi. Apalagi, kami membawa anak-anak dan bayi,” ungkapnya.

Seperti diketahui, gempa berkekuatan 7,0 SR yang mengguncang Lombok Utara, pada Minggu (5/8) lalu, memporak-porandakan bangunan gedung serta rumah penduduk.