Pengunjung Taman Beji Paluh Wajib Terapkan Prokes 3 M

Pengunjung wisata Taman Paluh Penarungan wajib terapkan prokes Covid -19
Pengunjung wisata Taman Paluh Penarungan wajib terapkan prokes Covid -19

BADUNG, balipuspanews.com- Pengunjung Beji Taman Paluh yang berlokasi di banjar Dauh Peken, Penarungan, Mengwi, Badung diwajibkan menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Untuk mendukung hal itu, pihak pengelola sudah menyediakan wastafel untuk cuci tangan di depan candi taman. Masyarakat yang melukat juga diminta tetap menjaga jarak untuk mengikuti himbauan pemerintah soal penerapan prokes.

Selain warga datang melukat, di sekitar lokasi Taman Paluh juga ramai dikunjungi warga yang berolahraga.

“ Lintasan ini selalu ramai dikunjungi.kalau tidak melukat, ya olahraga.Tapi telah disediakan wastafel untuk cuci.tangan,” kata Nyoman Oka Saputra, warga Dauh Peken, Penarungan kepada balipuspanews.com, Sabtu (28/11/2020.

Menurut Oka yang rumahnya dekat Taman Paluh, sejak pandemi Covid, pengunjung yang datang melukat memang menurun.

“ Biasanya ramai saat rerainan dan hari.libur,” sebut Oka Saputra.

Taman Beji Paluh dijadikan wisata spiritual setelah selesai dilakukan pembangunan taman dan fasilitas pendukungnya.

Cerita yang berkembang, konon pada jaman dahulu kala, air yang mengucur di Taman Beji Paluh adalah merupakan sungai yang mengaliri Tukad Yeh Penet dan Bebengan.

Namun, dikarenakan subak Desa Kapal memerlukan aliran air untuk mengaliri persawahan di Desa Kapal, maka masyarakat mencoba untuk mengarahkan aliran Mata Air dari Desa Penarungan ke Desa Kapal, yang dimulai dari Banjar Abing – yang sekarang dikenal sebagai Banjar Dauh Peken – dengan cara dibuatkan urugan (sebagai pembatas) untuk mengarahkan aliran air.

Namun ternyata, usaha tersebut tidaklah mudah karena urugan yang dibuat tersebut selalu jebol. Diceritakan kemudian, konon akibat hal tersebut ada salah satu anggota masyarakat secara tidak sengaja berihtiar memohon pada penguasa alam bahwa barang siapa yang datang paling akhir akan dipakai pekelem (tumbal) agar usaha yang dilakukan dapar berhasil.

Dan Hal tersebut akhirnya benar – benar terjadi. Seseorang yang datang paling akhir – yang dikenal seorang Pangliman (Petugas pengatur air) – terjatuh dan meninggal dunia saat berjalan di pinggir urukan sungai. Sejak saat itu akhirnya urugan yang dibuat tidak pernah lagi mengalami masalah hingga saat ini.

Bekas jebolan urugan sungai tersebut membuat permukaan tanah menjadi tidak rata atau “mepaluh-paluh” hingga kemudian tempat bekas urugan tersebut dikenal sebagai Taman Beji Paluh hingga saat ini.

PENULIS : Tim Liputan Covid

EDITOR : Oka Suryawan