lomba Penjor Aci Usabe Goreng yang dimulai pada Senin (07/10/2019)
lomba Penjor Aci Usabe Goreng yang dimulai pada Senin (07/10/2019)
sewa motor matic murah dibali

KARANGASEM, balipuspanews.com – Penjor dengan tema “Dewi Laksmi“ menjadi pusat perhatian pemedek diareal jaba teben Pura Puseh Desa Adat Geriana Kangin, Desa Duda Utara, Selat, Karangasem dalam momen lomba Penjor Aci Usabe Goreng yang dimulai pada Senin (07/10/2019).

Dalam synopsis tema Penjor garapan tangan – tangan terampil Komunitas Batu Kong ini diceritakan peran Dewi Laksmi saat perputaran Gunung Mandara Giri dalam upaya mencari tirtha amerta (Tirta Kehidupan).

Ceritra ini kemudian dituangkan kedalam bentuk yang ditonjolkan adalah rangkaian buah berbentuk kura- kura (empas) yang dililit naga yang ditaruh dibawah sanggah penjor.

Untuk mempertegas makna synopsis, dalam janur dibuat juga Dewi Laksmi dengan bahan pokok ulatan yang komplit terbuat dari anyaman ental. Selain itu untuk mempertegas dasar dari sanggah penjor juga dibuat kolam sebagai media samudra atau laut.

Namun dibalik semua kreasi yang ditampilkan harapan dan tujuan utama pembuatan penjor ini adalah agar semua kalangan bisa memahami makna dari cerita yang disajikan dengan cara mengamati media yang dibalut melalui kreasi penjor yadnya.

Hal inilah yang coba untuk ditonjolkan oleh I Gede Subrata salah seorang anggota Komunitas Batu Kong yang juga sebagai pendisain Penjor tersebut. Menurut Subrata diera revolusi Industri 4.0 merupakan era distraction dimana masyarakat dunia mengalami globalisasi disajikan kecanggihan teknologi dan komunikasi.

Namun, dibalik itu semua perlu diantisipasi juga dampak negatif globalisasi yang bisa menyebabkan terkikisnya adat, tradisi dan budaya sehingga perlu mendapat perhatian sejak dini. Kemampuan yang dituntut pada abad ini adalah kemampuan lyterasi dimana dengan membaca wawasan akan berkembang sehingga masyarakat selalu memiliki pikiran positif.

Berangkat dari sinilah, Komunitas Batu Kong kemudian membuat media lyterasi berupa penjor yang dilengkapi dengan sebuah synopsis dari tema yang dibuat. Biasanya, cerita – cerita seperti ini kebanyakan hanya dipahami oleh orang – orang yang mendalami Sekar Agung (Wirama/mekekawin). Namun melalui media inovasi Penjor, cerita – cerita semacam ini secara tidak langsung bisa diperkenalkan serta mudah dimengerti oleh semua kalangan baik anak- anak, muda maupun dewasa.

“Tertujuan kami yang utama adalah melalui Penjor sebagai salah satu sarana dalam upaya melestarikan seni dan budaya serta mengenalkan cerita religius, tatwa dan cerita hindu,” kata Subrata.

Sementara itu, Lomba penjor semacam ini memang sudah menjadi agenda rutin setiap tahunnya saat Aci Usabe Goreng. Ada dua kategori yang dilombakan yaitu kategori A untuk penjor dengan tinggi 15 meter atau lebih) dan kategori B tinggi 12 meter.

Adapun keriteria penilaian penjor upakara terbagi atas kelengkapan, kerapian, keserasian dan keindahan. Kelengkapan yang dinilai penggunaan panca pala yaitu pala bungkah (umbi- umbian), pala gantung (buah- buahan), pala rambat (buah tanaman yang merambat), pala wija (biji – bijian).

Untuk pembuatan penjor kategori A sendiri memerlukan waktu sekitar dua minggu untuk mempersiapkan segala perlengkapannya mulai dari pencarian bambu, bahan – bahan serta proses perangkaiannya. Sementara untuk kreasi dan lyterasi penjor tidak dibatasi sehingga setiap tahun penjor yang dilombakan sangat beragam. (Rls/bpn/tim)