Pengobatan Hipertensi
Pengobatan Hipertensi
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

OPINI, balipuspanews.com – Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 139 mmHg yang terus-menerus atau tekanan darah diastolik lebih dari 89 mmHg. Seseorang dikatakan hipertensi jika tekanan darah yang cenderung naik (lebih tinggi dari normal), setelah dilakukan observasi yang berulang kali dalam jangka waktu beberapa minggu.

Populasi yang sering mengalami hipertensi adalah lanjut usia, dimana angka hipertensi pada lansia di dunia menurut WHO sebanyak 64,7% pada tahun 2010 dan diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya.

Prevalensi hipertensi di Indonesia meningkat dari 25,8% di tahun 2013 menjadi 34,1% di tahun 2018 (Riset Kesehatan Dasar, 2018).

Pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun obat-obatan yang efektif banyak tersedia. Pengontrolan hipertensi tidak adekuat karena obat-obatan yang diberikan oleh dokter kadang tidak rutin diminum dan ada pula yang tidak meminumnya sama sekali dengan berbagai alasan.

Faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi di bagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi yaitu merokok, konsumsi alkohol berat, obesitas (penumpukan lemak dalam tubuh tinggi), asupan diet tinggi garam, kadar insulin tinggi dalam darah, asupan diet rendah kalium, kalsium dan magnesium.

Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu riwayat keluarga dengan hipertensi, bertambahnya usia, ras dan jenis kelamin.

Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya komplikasi berupa penyakit pembuluh darah, kematian dini, stroke, penyakit ginjal dan kerusakan retina mata.

Penatalaksanaan yang dapat dilakukan melalui modifikasi gaya hidup yang bisa menjadi prioritas utama kesehatan masyarakat.

Gaya hidup yang harus dilakukan yaitu, berhenti merokok, membatasi asupan garam, berhenti mengkonsumsi alkohol, menjaga berat badan ideal, hindari makanan yang manis-manis, hindari stress, dan rutin berolahraga. Sedangkan untuk pengobatan dapat diberikan obat antihipertensi, namun pemberian obat antihipertensi harus dipertimbangkan umur dan adanya penyakit merupakan faktor yang akan mempengaruh reaksi obat. Hendaknya pemberian obat dimulai dengan dosis kecil dan kemudian ditingkatkan secara perlahan.

Pengobatan hipertensi merupakan hal yang esensial dalam mengontrol hipertensi lansia. Tujuan pengobatan hipertensi yaitu menurunkanangka kematian dan angka kesakitan akibat hipertensi dengan memelihara tekanan darah disamping mencegah resiko penyakit kardiovaskuler lainnya.

Namun kenyataannya kepatuhan pengobatan lansia masih rendah dibandingkan dengan pasien yang lebih muda. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan adalah masalah dunia dalam terapi penyakit kronis. Hasil penelitian yang dilakukan tahun 2016 di Hongkong mengatakan bahwa kepatuhan pengobatan hipertensi sebanyak 44,1%, sedangkan di Indonesia yang dilakukan oleh riset kesehatan dasar tahun 2018 mengatakan bahwa kepatuhan pengobatan hipertensi sebanyak 54,4 %.

Salah satu penyakit kronis dengan angka kepatuhan pengobatan yang rendah adalah hipertensi.

Berbagai faktor yang menyebabkan kepatuhan pengobatan yang rendah pada lansia yaitu fungsi kognitif, depresi, sindrom kelemahan, usia, tingkat pendidikan, hidup sendiri, kepuasan pengobatan, penjelasan tentang konseling obat, akses terbatas ke layanan kesehatan, dan dukungan sosial. Penurunan fungsi memori yang bekerja pada pasien dengan gangguan kognitif merupakan faktor risiko penting yang menyebabkan ketidakpatuhan pengobatan.

Lansia yang mengalami depresi cenderung mengabaikan diri dan enggan untuk melakukan sesuatu sehingga mempengaruhi kepatuhan pengobatan. Lansia dengan kelemahan fisik memiliki kepatuhan pengobatan yang lebih rendah dibandingkan dengan lansia yang tidak mengalami kelemahan fisik.

Usia yang lebih tua lebih cenderung untuk tidak mematuhi pengobatan dibandingkan dengan usia yang lebih muda.

Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan. Semakin rendah tingkat pendidikan maka semakin rendah kepatuhan pengobatan. Pasien lansia yang hidup sendiri cenderung tidak mematuhi pengobatan.

Faktor kepuasan pengobatan, pasien yang tidak puas atas pengobatan akan lebih tidak patuh terhadap kepatuhan pengobatan. Faktor penjelasan tentang konseling obat membuat pasien tidak patuh jika kurangnya penjelasan dari tenaga kesehatan mengenai obat-obatan yang akan di konsumsi. Faktor akses ke pelayanan kesehatan yang terbatas atau jarak yang jauh membuat pasien enggan untuk mematuhi pengobatan.

Faktor dukungan keluarga juga mempengaruhi kepatuhan pengobatan.Komunikasi yang baik juga sangat memperbaiki kepatuhan pengobatan pasien.

Dampak dari ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan yaitu terjadinya efek samping obat yang dapat membahayakan kesehatan, banyaknya biaya pengobatan. Untuk meningkatkan kepatuhan lansia dalam pengobatan dibutuhkan edukasi. Edukasi pasien merupakan suatu proses yang dijalankan oleh pasien itu sendiri dan juga tenaga kesehatan lainnya yang terkait dengan penanganan pasien, pasien tidak bisa dengan sendirinya memahami atau mengetahui penyakit yang dideritanya tanpa bantuan atau edukasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan.

Pada umumnya pasien tidak perduli akan pengobatan yang diterimanya, sehingga banyak pasien yang harus datang kembali ke rumah sakit dengan keluhan penyakit yang sama seperti semula atau malah penyakit yang baru, hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pemahaman atau pengetahuan pasien akan pentingnya pengobatan dan pengetahuan penyakit yang dideritanya.

Apabila pasien mengetahui dan memahami akan penyakit yang dideritanya, baik itu tentang perjalanan penyakit, gejala penyakit, makanan-makanan yang tidak diperbolehkan untuk dimakan, cara minum obat yang baik, maka pasien akan memiliki potensi untuk cepat mendapatkan hasil dari pengobatan yang diterimanya.

Pentingnya dilakukan edukasi pasien yang dilakukan tenaga kesehatan baik dokter, perawat, ataupun farmasi kepada pasien mengenai pengobatan, gaya hidup yang benar setelah adanya keluhan penyakit yang dideritanya, akan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pemberian edukasi kepada pasien dapat memperbaiki aktifitas fisik, program diet yang sehat bahkan mengurangi gejala penyakit yang dideritanya baik gejala penyakit yang ringan atau bahkan gejala penyakit yang berat.

Dukungan kepada pasien dan pemberian informasi pengobatan yang tepat akan sangat dibutuhkan pasien baik selama perawatan maupun setelah pasien di rumah. Ketidaktahuan pasien akan prognosis penyakit yang di deritanya serta bagaimana cara penanganannya membuat pasien memilih mundur dari kesibukan pasien, aktifitas sehari-hari atau bahkan pekerjaannya.

Pada umumnya apabila pasien tidak mengetahui akan penyakitnya dan pengobatan yang didapatkan, pasien akan malas minum obat, tidak mau melakukan aktifitas atau pekerjaan yang dijalani.

Penguatan dapat dilakukan jika pasien memiliki motivasi untuk memperdayakan dirinya sendiri sehingga dapat meningkatkan kemampuan pasien dalam mengambil keputusan dan memilih yang terbaik bagi hidupnya setelah adanya keluhan penyakit yang dideritanya.
Pasien yang mempunyai pengetahuan akan pentingnya pengobatan yang didapatkannya, maka akan meningkatkan pemberdayaan diri, sehingga pasien memiliki kemampuan yang lebih besar lagi dalam mengontrol dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan mengenai pengobatan yang akan diterimanya untuk peningkatan kualitas hidupnya.

Adanya pengetahuan dan pemahaman pasien mengenai pengobatan yang diterimanya akan membawa pasien mencapai kemandirian dalam minum obat secara benar dan tepat dan pasien mampu mengendalikan atau mengontrol penyakitnya dan mengendalikan hidupnya lebih baik.

Edukasi yang diberikan kepada pasien selain mengenai pemahaman tentang penyakit dan pengobatan, edukasi juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara mandiri yaitu seperti mengurangi rasa sedih, meningkatkan rasa percaya diri bahwa penyakit yang dideritanya akan sembuh dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Edukasi yang diberikan kepada pasien dapat berjalan efektif, jika pasien mampu dan mau menggunakan atau membaca brosur yang diberikan bahkan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani terapi atau pengobatannya.

Pemberian edukasi yang terstruktur, jelas, tepat dan baik kepada pasien dapat meningkatkan kemampuan pasien secara optimal sehingga dapat meningkatkan kemandirian pasien baik dalam minum obat ataupun pencegahan kambuhnya keluhan yang lain.

Edukasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan hipertensi pada pasien lansia yaitu edukasi terstruktur lansia dan keluarga. Edukasi yang dilakukan ini menggunakan materi meliputi gambaran penyakit terkait hipertensi, cara menjalani hidup sehat bagi pasien seperti pengelolaan diet atau program diet hipertensi, latihan fisik atau olahraga, dan program pengobatan hipertensi yang teratur. Sedangkan edukasi keluarga meliputi edukasi terkait dukungan memberi informasi dan emosional kepada pasien lanjut usia.

Edukasi dukungan memberi informasi. merupakan bentuk dukungan berupa nasehat. Edukasinya berisi petunjuk-petunjuk dan pemberian informasi terkait dengan waktu dan jumlah obat yang harus dikonsumsi lansia.

Sedangkan edukasi terkait dukungan emosional, tenaga kesehatan menganjurkan keluarga untuk selalu memberikan empati, kehangatan, kepedulian dan perhatian terhadap lansia sehingga lansia tersebut merasa ada yang memberikan perhatian dan mendengarkan apa yang dibutuhkan dalam pengobatannya.

Pada dasarnya, tujuan edukasi pengobatan pada lansia untuk mengubah perilaku individu, keluarga yang merupakan cara berfikir, bersikap, dan berbuat dengan tujuan membantu pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan promosi hidup sehat.

Hal yang harus diperhatikan dalam memberikan edukasi oleh professional kesehatan baik dokter atau perawat adalah dengan adanya teknik komunikasi yang baik kepada pasien dan keluarga.

Komunikasi memegang peranan penting dalam tercapainya edukasi dan dapat meningkatkan ketaatan bagi pasien dan keluarga. Kurangnya edukasi pada pasien cenderung mengakibatkan berulangnya kembali keluhan penyakit yang diderita.
Sangat di anjurkan kepada tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga demi tercapainya pengobatan yang efektif untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan khususnya pada pasien lanjut usia dengan hipertensi.

Tenaga kesehatan juga sangat di anjurkan dalam memperbaiki teknik komunikasi saat memberikan edukasi agar informasi yang diberikan dapat diterima dengan dengan jelas oleh pasien dan keluarga.

Penulis:
Harmili S.Kep.,Ns., & Nina Dwi Lestari, M.Kep.,Ns.,Sp.Kep.Kom
Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

Advertisement
Loading...