Dr. Somvir ditemui usai memberikan klarifikasinya kepada Bawaslu.
sewa motor matic murah dibali

SINGARAJA, balipuspanews.com — Calon Legislatif (caleg) DPRD Provinsi Dr. Somvir mendatangi Kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Buleleng, Senin (29/4) siang. Kedatangannya untuk memberikan klarifikasi kepada Bawaslu terkait tudingan money politik yang dialamatkan kepada politisi kelahiran India tersebut.

 

 

 

Somvir datang sekira pukul 13.15 Wita. dengan mengendarai Mobil Toyota Fortuner, DK 1540 UY. Sesampai di kantor Bawaslu, Guru Yoga itu langsung masuk ke dalam kantor Bawaslu untuk memberikan klarifikasi.

 

 

 

Berselang satu jam, sekitar pukul 14.00 Wita politisi Nasdem ini keluar dari ruangan. Ia langsung menemui awak media yang sudah menantinya di lobi kantor Bawaslu untuk dimintai keterangan terkait klarifikasinya kepada Bawaslu.

 

 

 

Kepada awak media, Somvir mengaku jika klarifikasi yang ia sampaikan kepada Bawaslu sangat sederhana.

 

 

Menurutnya, tuduhan money politik yang dialamatkan kepadanya sehari sebelum Pemilu yang digelar pada 17 April lalu tidak benar.

 

 

 

“Apa yang dituduh money politik itu tidak benar. Mungkin lawan-lawan yang kalah itu kecewa berat. Saran saya, jangan kecewa, atau boleh kecewa tapi jangan cemburu. Karena suara Dr. Somvir itu tertinggi (di antara Caleg Nasdem Dapil Buleleng) di Buleleng,” aku Somvir kepada awak media.

 

 

 

Somvir mengklaim jika dirinya meraih kursi dalam Pemilihan Legislatif ini dilakukan dengan cara-cara yang benar, tanpa money politik. Pihaknya pun menegaskan tidak mengenal pria bernama Subrata, warga Desa Banjar Tegeha, Kecamatan Banjar yang disebut-sebut sebagai Tim Suksesnya yang membagi-bagikan uang jelang Pemilu kepada Warga Dusun Munduk Waban, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar.

 

 

 

“Saya tidak kenal (Subrata). Silahkan tanya ke Bawaslu. Yang penting saya tidak ada urusan dengan pelapor, terlapor. Terkait isu money politik itu sah-sah saja di demokrasi. Siapapun berhak, tetapi kami sudah klarifikasi ke Bawaslu” akunya.

 

 

 

Lalu apakah menempuh upaya hukum atas pencemaran nama baik? Somvir pun dengan lugas mengatakan jika dirinya tidak akan dendam dengan siapapun atas tuduhan itu.

 

 

“Saya orang spiritual. Tidak membalas dendam dengan siapapun. Misi politik saya adalah politik spiritual, berbuat baik. Kalau ada yang kecewa, saya sarankan agar dia datang dan belajar yoga ke rumah saya, biar tenang,” tutupnya.

 

 

 

Sementara, Ketua Bawaslu Buleleng, Putu Sugi Ardana mengatakan dari hasil klarifikasi, pada prinsipnya Dr. Somvir membantah memberikan uang untuk mencari suara (money politik). Bahkan, Somvir sebut Sugi Ardana juga tak mengenal pelapor maupun terlapor dalam kasus dugaan money politik tersebut.

 

 

 

Atas pengakuan itu, Sugi Ardana juga segera akan menggelar pertemuan dengan Sentra Gakkumdu untuk mengambil keputusan dan kesimpulan.

 

 

 

“Memang terlapor (Subrata) tidak hadir setelah kami memanggil dua kali. Tetapi bisa diambil kesimpulan, walaupun in absensia. Jadi kesimpulan itu diambil berdasarkan data pelapor, keterangan saksi, barang bukti,” ujar Sugi.

 

 

 

Seperti diketahui, sebelumnya Dr. Somvir disebut-sebut melakukan politik uang untuk memuluskan langkahnya menjadi Anggota DPRD Bali. Politisi Nasdem itu sempat dilaporkan oleh Warga asal Kelurahan Kaliuntu, Kecanatan Buleleng bernama Carulus Bisman Bela alias Karel pada Sabtu (20/4) lalu.

 

 

 

Hanya saja laporannya gugur karena dianggap kedaluarsa. Sebab kasus money politik yang dikabarkan dilakukan pada tanggal 29 Maret baru dilaporkan pada tanggal 20 April 2019. Hal itu sesuai dengan Peraturan Bawaslu Nomor 7 Tahun 2018 tentang Penanganan Temuan dan Laporan Pelanggaran Pemilu. Dimana, tujuh hari setelah peristiwa diketahui namun tidak dilaporkan, maka peristiwa itu dianggap kadaluarsa.

 

 

 

Tak cukup disana, belakangan Warga dari Munduk Waban, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar bernama Nyoman Redana, 60 juga melaporkan ke Bawaslu pada Senin (22/4) lalu. Ia juga melaporkan tuduhan money politik yang dilakukan pria bernama Subrata pada 15 April lalu atau dua hari jelang Pemilu.

 

 

 

Konon, dalam laporan Redana kepada Bawaslu, Subrata melakukan money politik atas suruhan Dr. Somvir. Bawaslu pun menindaklanjuti laporan tersebut. Namun, meski dilayangkan surat pemanggilan sebanyak dua kali, Subrata mangkir memberikan klarifikasi ke Kantor Bawaslu.

 

 

 

Tak hanya itu, Bawaslu bersama Sentra Gakkumdu sempat mendatangi ke rumahnya di Desa Banjar Tegeha dan Desa Sambangan. Tetapi yang bersangkutan tak ada di rumahnya.