Senin, Juni 24, 2024
BerandaLifestyleKesehatanPenurunan Stunting Punya Banyak Tantangan, Ini Pesan Dokter Hasto untuk Penyuluh KB...

Penurunan Stunting Punya Banyak Tantangan, Ini Pesan Dokter Hasto untuk Penyuluh KB Kutai Barat

JAKARTA, balipuspanews.com – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dokter Hasto Wardoyo hadir pada kegiatan ‘Peningkatan Akses dan Kualitas Program Bangga Kencana’ melalui pelayanan KB momentum, bertempat di ruang auditorium Aji Tulur Jejangkat, komplek perkantoran Bupati Kutai Barat, Sabtu (11/05/2024).

Tak dapat dipungkiri, terdapat berbagai permasalahan dan tantangan program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan  Keluarga (Bangga Kencana) di Kabupaten Kutai Barat. Sebuah wilayah yang memiliki luas 20.384,6 km², terdiri dari 16 kecamatan, 190 desa dan empat kelurahan. Tentunya tidaklah mudah ‘membumikan’  program tersebut di Kutai Barat.

Beberapa tantangan tersebut dipaparkan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Kutai Barat, Dr. Sukwanto, S. Keb, Ners., M.Si .

Ia melaporkan bahwa saat ini kondisi stunting di Kabupaten Kutai Barat turun sebesar 1 persen dari tahun 2022. Sejumlah 5.358 keluarga berstatus risiko tinggi stunting, 12.512 Pasangan Usia Subur (PUS) dengan 4Terlalu, jumlah baduta 2.029 anak dan balita sebanyak 5.808 anak. Ada 1.560 keluarga tidak punya sumber air minum layak dan 1.715 keluarga tidak punya jamban layak.

BACA :  Buka Pameran UMKM, Bupati Gede Dana Sebut Bangkitkan Perekonomian Masyarakat Kecil

Melihat tantangan program dan wilayah yang cukup besar bagi Penyuluh KB dan PLKB di lapangan diperlukan dukungan operasional pendampingan program, meskipun dari BKKBN sudah ada Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) sejak 2016 sampai sekarang. “Semoga bapak bupati bisa mengabulkan,” ujar Sukwanto.

Sukwanto menilai, program percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kutai Barat belum optimal. Hal ini disebabkan belum efektifnya penggunaan dana stunting atau tidak tepat sasaran, sumber daya dan kemampuan kader yang masih rendah, kurangnya partisipasi masyarakat dan beberapa daerah yang masih minim infrastruktur.

Menanggapi hal tersebut Kepala BKKBN RI, dokter Hasto, berpesan kepada Penyuluh KB agar memberikan pelayanan pada masyarakat untuk menyiapkan keluarga berkualitas melalui pengaturan jarak kelahiran, minimal tiga tahun. Hal ini juga untuk menjaga agar anak yang dilahirkan tidak stunting.

“Selain itu, yang perlu diperhatikan bahwa bonus demografi di Kutai Barat mulai tahun 2025 akan meninggalkan puncaknya. Maka, harus dijaga dan disiapkan lansianya agar menjadi lansia yang sehat dan produktif, sehingga tidak menjadi beban pembangunan,” ujar dokter Hasto.

BACA :  Usung Tajuk Chinaning Wetu, Drama Gong Duta Badung Selipkan Sampaikan Pesan Moral

Dalam rangka intervensi stunting, BKKBN melalui BOKB sudah mengalokasikan dana pendampingan bagi 624 orang Tim Pendamping Keluarga. “Serapan anggaran DAK BOKB tahun lalu cukup bagus sampai 96,88 persen dan menjadi juara 2 tingkat provinsi. Nanti tinggal bagaimana Pemda bisa memanfaatkannya dengan baik,” ucapnya.

Jika dilihat dari sisi anggaran dan sumber daya pangan lokal yang melimpah di Kutai seperti ikan sungai yang kaya akan omega 3 dan protein, dokter Hasto menilai tentunya tidak sulit untuk mencari sumber pangan yang penting untuk penanganan stunting. Namun, sumber daya manusia yang harus dilatih bagaimana mengolah ikan dan Pemberian Makanan Tambahan  (PMT) yang sehat dan menarik.

Dokter Hasto juga menyampaikan intervensi 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi kunci untuk menyiapkan generasi yang berkualitas. Selain itu, ASI eksklusif juga penting sebagai kunci sukses penurunan stunting.

“ASI mengandung oksitosin dan prolaktin yang penting untuk pertumbuhan bayi dan perkembangan otak. Sehingga seorang ibu harus mampu menyusui minimal dua tahun sesering mungkin,” tutup dokter Hasto.

BACA :  Menko PMK Minta Pemda Tancap Gas Kerja Keras Percepat Pengukuran dan Intervensi Pencegahan Stunting

Penulis/editor: Ivan Iskandaria

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular