Minggu, Oktober 25, 2020
Beranda Bali Denpasar Perajin Jangan Putus Asa dan Tutup Usaha

Perajin Jangan Putus Asa dan Tutup Usaha

DENPASAR, balipuspanews.com – Dampak yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 sangat dirasakan dampaknya, terlebih bagi mereka yang bergerak di sektor pariwisata atau perajin yang menggantungkan usahanya pada sektor pariwisata.

Ny. Putri Koster mengajak para perajin untuk tetap bertahan dan tidak pustus asa serta tidak menutup usaha karena mati surinya sektor yang diandalkan Bali.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny Putri Suastini Koster saat didaulat sebagai salah satu narasumber saat pembukaan Youth Festival 2020 di Atrium Sidewalk Jimbaran, Kabupaten Badung, Sabtu (17/10) malam.

Youth Festival yang dibuka Sabtu 17 Oktober ini akan berlangsung selama delapan hari hingga 25 Oktober mendatang. Dengan mengangkat tema “Pemuda Milenial Bangkit di Era Digital” diharapkan mampu menjadi momentum tumbuhnya kreativitas kawula muda untuk menuangkan ide ke dalam sebuah seni yang kemudian dapat dipasarkan dan dijual.

Ketua Dekranasda Provinsi Bali dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali I Wayan Jarta mengatakan, dengan kemampuan penguasaan teknologi, generasi milenial harus mampu bersaing memasarkan produk kerajinan tangannya secara online.

Suastini Koster menegaskan, para perajin Bali tidak boleh lemah, tidak boleh putus asa bahkan tidak boleh berkeinginan untuk menutup usahanya saat masa pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum berakhir.

“Belajar dari masa pandemi yang mengharuskan kita berbelanja dari rumah agar tidak menimbulkan kerumunan di luar rumah, sehingga handphone menjadi alat transaksi pemesanan sekaligus pembayaran selain sebagai alat komunikasi. Hal ini tentu sangat mempermudah transaksi dan juga menghindari sentuhan fisik antara satu orang dengan orang lain, termasuk dengan benda (uang kartal),” jelasnya.

Malah sebaliknya perajin Bali harus mampu menggunakan kesempatan seperti ini untuk mulai berkarya dalam menciptakan inovasi baru yang nantinya dapat memodifikasi model dan ciptaannya yang baru, yang dapat diterima dan tentunya bermanfaat bagi orang lain saat ini dan ke depannya.

“Apabila saat ini kita tidak bisa memasarkan hasil produksi ke luar negeri karena pengiriman yang terhambat, maka sebaiknya kita tetap melakukan pemasaran via online khusus bagi saudara-saudara kita yang ada di dalam negeri, termasuk saudara kita yang ada di Bali,” ujar Ny. Putri Koster.

Bagi perajin yang sudah memiliki nama (brand), dipersilahkan masuk dan bergabung ke dalam Baliyoni Group (Balimall) yang sudah ada pada aplikasi online. Dengan bergabung, maka semua barang kerajinan mulai dari harga dan kualitas, juga akan dapat diketahui oleh calon konsumen. Sehingga dari segi pemasaran dirasakan tidak akan begitu sulit, katanya, menekankan.

Lebih jauh Putri Koster juga menyebut kaum milenial adalah generasi yang kaya dengan ide dan kreatif di samping mereka juga menguasai informasi dan teknologi digital secara baik. Sehingga hasil kerajinan yang nantinya siap dipromosikan, akan langsung diunggah dengan seni yang dapat menarik mata konsumennya.

Dengan penguasaan teknologi dan informasi menjadi peran utama agar mempermudah cara perajin dalam memperkenalkan produk kerajinan dengan mencantumkan label, harga, kualitas bahan dan keunggulan produk yang ditawarkan dengan produk orang lain.

Dipilihnya mall sebagai tempat festival dan brand dan pemasaran di aplikasi, karena mall merupakan tempat yang sering dikunjungi banyak orang dari segala jenis umur. Dengan demikian, akan sangat mempermudah pemasaran dan menarik pengunjung.

Hasil produk atau kerajinan yang ditawarkan juga harus sesuai dengan selera pasar saat ini, agar produk kerajinan yang dipromosikan tidak mubasir, yang menyebabkan perajinnya merugi.

Perwakilan Bank BPD Bali Ida Ayu Tri Rasmiwinari menyatakan Bank BPD memberikan kesempatan bagi perajin yang kehabisan modal di masa pandemi untuk kembali memulai usahanya dengan pinjaman kredit usaha rakyat (KUR) yang bunga uangnya hanya 0,5% menurun.

Selain itu, untuk menghindari kontak langsung saat bertransaksi, BPD Bali telah menggunakan aplikasi pembayaran QRIS Bank BPD, merupakan transaksi pembayaran yang menggunakan barcode.

“Hal ini akan sangat melindungi konsumen dari sentuhan di masa pandemi Covid-19 ini,” ungkapnya.

Sementara CEO Baliyoni Group, Ni Wayan Sri Ariyan menyebut, dipilihnya nama Balimall karena nama Bali sudah dikenal ke mancanegara, sehingga untuk sebuah brand dalam aplikasi baru tidak membutuhkan waktu lama untuk diketahui banyak pihak.

Di Balimall barang-barang dari perajin akan diseleksi terlebih dahulu, baik itu kualitas produk maupun harga. Karena dalam Balimall harga harus bersaing dengan sehat (sudah ditentukan sesuai mufakat dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri oleh perajinnya).

“Produk yang dijual berupa kebutuhan pakaian, serta produk alas kaki hingga kuliner,” paparnya.

Penulis/Editor : Budiarta/Oka Suryawan

- Advertisement -

Warga Temukan Orok di Parit Areal Jogging Track Sanur Kauh

SANUR, balipuspanews.com - Penemuan orok membusuk berlangsung di pinggir parit areal jongging track di Jalan Prapat Baris, Sanur Kauh, Denpasar Selatan, Jumat (23/10/2020) sekitar...

Tak Hiraukan Teguran, Pabrik Penyulingan Daun Cengkeh Akhirnya Ditutup Paksa

Sebuah tempat usaha penyulingan daun cengkeh yang berada di Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada ditutup paksa oleh tim Satpol PP Kabupaten Buleleng. Hal itu dilakukan sebab pemilik tempat tidak menghiaraukan teguran petugas, sehingga Pol PP lalu bertindak tegas menutup paksa usaha penyulingan daun cengkeh yang beroperasi dan dianggap menimbulkan polusi udara.
Member of