Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Denpasar, Balipuspanews.com – Sebanyak 32 unit rumah yang terdiri dari 22 rumah adat dan 10 rumah warga di Desa Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, hangus dilalap api pada, Senin (29/10/2018) lalu.

Rumah-rumah adat yang sebelumnya berdiri kokoh dengan atap yang menjulang tinggi kini rata dengan tanah serta yang tersisa hanya puing-piung sisa kebakaran.

Warga yang menjadi korban kebakaran untuk sementara diungsikan di rumah-rumah penduduk dan juga los Pasar Nggela.

Atas duka yang menimpa desa Nggela tersebut, Perhimpunan Ngggela Bali (PNB) menyelenggarakan aksi penggalangan dana dengan konsep Malam Peduli Nggela pada Sabtu (01/12) bertempat di IKIP PGRI Bali.

Agus Dey Segu, ketua Perhimpunan Nggela Bali yang juga sebagai panitia malam Peduli Nggela mengatakan kegiatan ini dilakukan atas dasar keprihatinan seluruh orang Ende khususnya orang Nggela di seluruh Indonesia terhadap peristiwa kebakaran yang melanda desa Nggela satu bulan silam.

“Atas dasar keprihatinan seluruh orang Ende khususnya orang Nggela di seluruh NKRI punya cara dan gaya masing-masing. Khusus kami di Bali, kebetulan saya ketua PNB menjawab keprihatinan itu dengan membuat sebuah acara yaitu malam Peduli Nggela,” papar Agus Dey.

Menurut ketua PNB Bali ini, kegiatan Malam Peduli Nggela ini bertujuan mengembalikan rasa kepedulian 34 unit rumah yang terbakar. Diantaranya terdapat 22 unit rumah adat.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan rasa kepedulian
kita, rasa hati kita, rasa galau kita terhadap orang Nggela karena 34 unit rumah terbakar. Yang lebih mirisnya 22 rumah adat terbakar,” ujarnya.

Agus Dey Segu juga membandingkan antara Kebakaran Kampung Nggela dengan Kampung adat Gurusina di Ngada dalam hal mendapatkan bantuan.

“Kalau di Bajawa kemarin Gurusina, mereka sudah mendapat bantuan dari Puan Maharani. Kebetulan ada anakanya almarhum Yakub Nuwawea ngomong ke Puan. Nah, kami nggak bisa, orang Nggela ndak punya hubungan ke sana,” jelasnya.

Terkait kebakaran yang menimpa kampung Nggela, Agus Dey Segu menjelaskan, bahwa terdapat satu balai pertemuan mili misi dari Keuskupan Agung Ende ikut terbakar. 22 unit Rumah Adat dan 11 unit rumah penduduk.

“Kita kan di Ende itu terkenal dengan KAE (Keuskupan Agung Ende) yang bisa digunakan untuk pertemuan.
11 rumah penduduk,” terang Agus Dey.

Menurut Agus Dey, untuk membangun kembali rumah-rumah yang terbakar di kampung Nggela tersebut dibutuhkan dana sebesar Rp. 2,5 miliar

“Kita memerlukan dana untuk membangun rumah adat kami itu sekitar 2,5 miliar. Jadi perhari ini orang Nggela se Indonesia cari dana terus. Dengan satu komitmen kita tidak boleh mengemis, meminta-minta. Kalau kita membuat aksi-aksi itu ada keprihatinan orang,” ujarnya.

Terkait acara Malam Peduli Nggela ini, Agus Dey menjelaskan cara yang mereka lakukan untuk penggalangan dana ini yakni dengan mengedarkan undangan.

“Kami buat undangan. Undangan itu kami berikan ke kekerabatan, teman-teman baik kami, kenalan kami,” terangnya.

Konsep ini menurut Agus Dey adalah cara mereka saling mendukung dalam menghadapi bencana.

“Kita saling mendukung. Kami tidak undang orang yang tidak kami kenal. Sebab, Prinsip rerus terang saya orang tipikalnya keras. Orang beri habis itu bicara,” tukas Agus Dey.

Oleh karena itu kata Agus Dey lagi, undangan yang diedarkan itu benar-benar diberikan kepada yang punya rasa yang sama.

“Sehingga kita edarkan undangan betul-betul yang punya rasa the best friend. Sebab kita punya hubungan timbal balik, kalau mereka punya kesusahan kami bantu. Saling bahu-membahu,” ujar Agus Dey.

Pada kesempatan itu, Agus Dey menerangkan, bahwa dalam penggalangan dana peduli Nggela ini ada tawaran sumbangan dari partai politik. Namun, pihaknya tidak menerima tawaran tersebut.

“Yang paling sangat dipahami bahwa, ada tawaran dari teman-teman partai Politik yang mau bergabung tetapi saya katakan tidak. Karena saya katakan kepada orang Nggela nanti kita dimanfaatkan. Kalau kita mau main, main besar sekali. Jangan hanya main 10-15 Juta. Kalau bisa main Bansos lah Rp. 150 juta,” tegas Agus Dey Segu.

Agus Dey Segu juga pada kesempatan tersebut mengapresiasi kepada lembaga IKIP PGRI Bali yang ikut mendukung kegiatan ini dengan cara memfasilitasi tempat acara.

“Kita tahu kampus itu tidak boleh digunakan untuk kegiatan non akademik, tetapi orang Nggela bisa,” ujarnya.

Untuk diketahui, tamu undangan yang akan hadir pada acara Malam Peduli Nggela ini berjumlah sekitar 150 orang. Dengan kriteria, undangan diantaranya ada yang berisi Rp.50.000, Rp.100.000 sampai Rp. 250.00.

Adapun Konsep acara yang dikemas dalam penggalangan dana peduli Nggela ini menurut Agus Dey Segu akan dikemas secara adat Nggela salah satunya menarikan tarian adat Nggela yang natural atau asli misalnya tarian Gawi ditambah dengan minuman khas Ende yatu sopi atau arak.

“Nanti akan ditampilkan tarian yang asli adat Nggela. Misalnya pemasangan ekor kuda di mana, cara gerak kaki gimana. Jadi kita besok betul-betul menerangkan tarian Gawi yang asli. Bukan Gawi yang dilakukan oleh anak-anak muda yang di pesta sekarang,” papar Agus Dey.

Terkait dengan penyaluran bantuan, Ketua Peguyuban yang juga ketua panitia dari kegiatan penggalangan dana ini menjelaskan, semenjak terjadi peristiwa kebakaran kampung Nggela, seluruh perkumpulan orang Nggela se Indonesia yang beranggotaan 280 orang sudah membentuk panitia pembangunan untuk membangun kembali rumah-rumah yang terbakar tersebut.

“Dari 280 orang tersebut ada 25 orang yang dipilih menjadi panitia. Ada beberapa diantaranya ada para Pastor,” ujarnya.

“Sistem sudah dibuat. Untuk dana yang masuk dan keluar bisa diketahui oleh seluruh orang Nggela di Indonesia. Kita benar-benar transparan,” tambahnya.

Agus Dey yakin, bahwa penggunaan dana bantuan ini oleh para tetua adat Nggela nanti bisa digunakan semaksimal mungkin.

“Harapannya kepada para Musa Laki kami, semua hasil keringat kami ini bisa dimanfaatkan secara benar,” tutupnya. (Nahal/bpn/tim)

Advertisement

Tinggalkan Komentar...