Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita F. Moeloek (tengah) didampingin Gunernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kanan) saat peringatatan HMS di Desa Budaya Kertalangu, Kesiman Denpasar.
Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita F. Moeloek (tengah) didampingin Gunernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kanan) saat peringatatan HMS di Desa Budaya Kertalangu, Kesiman Denpasar.
sewa motor matic murah dibali

DENPASAR TIMUR, balipuspanews.com- Hari Malaria Sedunia (HMS) jatuh pada tanggal (25/5) yang kini peringatannya dilaksakana di Bali, dipilihnya di Bali, pasalnya seluruh Kabupaten/Kota di Bali telah mencapai eliminasi Malaria, Senin (13/5), di Desa Budaya Kertalangu, Kesiman, Denpasar.

Selain itu, para juru Malaria Desa di Provinsi Bali tetap berjalan dengan baik pada tahap pemeliharaan, dengan demikian diharapkan Eliminasi Malaria di Provinsi Bali akan dapat dipertahankan untuk seterusnya menuju tercapainya Eliminasi Tingkat Provinsi. Diharapkan pula agar prestasi Provinsi Bali ini akan menginspirasi provinsi-provinsi lainnya di Indonesia.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan RI  Nila Djuwita F. Moeloek, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo beserta istri, Direktur P2P Kemenkes dr. Anung Sugihantono, Gubernur Bali I Wayan Koster, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, beserta Bupati/Walikota dan Gubernur peraih Sertifikat Eliminasi Malaria.

Adapun tema global HMS adalah ‘Zero Malaria Starts With Me’ dan tema nasional adalah ‘Bebas Malaria Prestasi Bangsa’ dengan tiga sub tema yaitu Keluarga Sehat, Keluarga Bebas Malaria, yang kedua Bersama Mitra, menuju Bebas Malaria dan yang terakhir, Generasi Hebat, Generasi Bebas Malaria.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia (RI), Nila F Moeluk mengatakan, saat ini program malaria telah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Kasus malaria menurun lebih dari 50 persen dari tahun 2010-2018. Tercatat pada tahun 2010 kasus malria sebanyak 465.764, sedangkan tahun 2018 menurun menjadi 222.085 kasus.

“Sampai dengan April 2019 sebanyaj 290 Kabupaten /Kota telah mencapai eliminasi malaria dan sebanyak 201.426.577 (76 persen) pendiduk Indonesia telah hidup di daerah bebas malaria,” jelasnya.

Namun pun demikian, tantangan yang masih dihadapi dalam upaya eliminasi malaria yaitu disparitas kasus kejadian malaira antara wilayah timur Indonesia terutama Provinsi Papua denhan wilayah lainnua, yaitu sebanyak 79 persen kasus berasal dari Provinsi Papua.

Untuk mencapai eliminasi malaria Indonesia tahun 2030, maka Indonesia dibagi menjadi 5 Regional. Jawa dan Bali merupakan regional pertama yang ditergetkan untuk diverifikasi eliminasi malaria oleh WHO pada tahun 2023, sampai sampai saat ini terdapat 11 kabupaten/kota yang belum mencapai eliminasi malaria.

Dari 11 Kabupaten/Kota tersebut, pada tahun 2018 sebanyak lima kabupaten masih ditemukan kasus malaria penularan lokal yaitu Purworejo, Banjarnegara, Kulonprogo, Pandeglang, dan pengandaran.

Masalah malaria, lanjut Nila, tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan sendiri, tetapi merupakan masalah bersama yang memerlukan dukungan dari lintas sektor terkait seperti masalah lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembang biakan dan perindukan nyamuk malaria seperti tambak dan pertambangan yang terbengkalai, persawahan, rawa-rawa, lagun, dan lain-lain.

Daerah yang mencapai eliminasi malaria sekarang, masih mempunyai resiko terjadi penularan kembali, pasalnya Ondonesia mempunyai iklim dan lingkungan yang mendukung nyamuk anopheles berkembang biak, serta mobilitas penduduk yang tinggi dari dan ke daerah endemis malaria. (Bud/bpn/tim).

Tinggalkan Komentar...