Komunitas GRAK (Gerakan Anti Radikalisme) Bali memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni dengan menggelar buka puasa bersama (Bukber) dengan anak yatim, piatu dan dhuafa

Denpasar, balipuspanews.com- Komunitas GRAK (Gerakan Anti Radikalisme) Bali memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni dengan menggelar buka puasa bersama (Bukber) dengan anak yatim, piatu dan dhuafa serta kelompok masyarakat lintas daerah dan agama, Jumat (1/6) sore hingga malam.

Acara juga diisi ceraman keagamaan dari berbagai tokoh lintas agama, dari Hindu, Muslim, Budha, Khatolik, dan Kristen. Peserta yang hadir dari berbagai komunitas masyarakat, di antaranya IKawangi (Ikatan Keluarga Banyuwangi), Pawang (Paguyuban Warga Nganjuk), KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan), IWJ (Ikatan Warga Jember), Flobamora, KKPSS (Komunitas Klaten Perantauan Saling Sapa), Bamus Sunda, Arema, dan lainnya. Dari kelompok mahasiswa ada PMKRI, GMKI, Pemuda Khatolik, KMHDI, Pemuda Muhamadiyah, PMII. Kemudian ada pula dari NU, Banser, Anshor. Acara digelar di rumah Nyoman Sudiantara Jalan Yudistira 31 Denpasar yang juga penggagas GRAK Bali.

Sebelum berbuka puasa bersama, acara diisi penampilan hadrah dan games yang melibatkat anak- anak yayasan Sakinah dan yayasan Hindu Dharma Jati Denpasar. Setelah berbuka puasa bersama dan salat berjamaah, acara ditutup dengan doa untuk kejayaan Indonesia dalam kebhinekaan yang dipimpin Wakil Ketua PWNU Bali Haji Syaifudin.

“Dalam rangka peringatan Hari Lahir Pancasila ini, kami sengaja memperingati secama bersama-sama, sekaligus Waisak, Galungan dan bulan Ramadan. Makanya yang kami undang dari berbagai lintas agama dan komunitas untuk menikmati kebersamaan dalam kemajemukan yang terkandung dalam NKRI dan Pancasila,” ujar Nyoman Sudiantara.
Intelektual Hindu, Dr Suamba saat diberi kesempatan berbicara menyebutkan, peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar GRAK menjadi bukti nyata bahwa keberagaman itu indah. Di Bali, menurut dia, keberagaman sudah terjalin sejak lama. Semua hidup berdampingan dan rukun.

“Ada istilah nyama selem di sini (Bali). Yang jelas ini mengacu pada Pancasila sebagai dasar negara. Dan semoga selalu terjalin rasa saling memiliki antar umat beragama dan ini dapat dilakukan tidak hanya di sini (Bali). Tapi di semua atau seluruh daerah di Indoenesia,” tegasnya.

Sementara itu, Haji Syaifudin menuturkan, bahwa dalam sejarahnya memang Nadhlatul Ulama (NU) sudah menyatakan Pancasila adalah final sebagai dasar negara Indonesia. Bahkan, dalam perumusan Pancasila sebagai dasar negara, ulama-ualama NU menjadi motor penggerak dan menyatakan Pancasila sebagai dasar lahirnya Indonesia.

“Dan ini akan dipertahankan hingga titik darah penghabisan,” ungkapnya.
Tokoh Umat Budha, Romo Gede Karyadi menyatakan, sebagai anak bangsa para pendahulu kita sudah berjuang untuk memerdekakan Indonesia yang tujuan untuk melahirkan kebahagiaan. Usaha perjuangan itu adalah untuk bersatu dalam Pancasila dan menjadi hal yang terpenting.

“Pancasila sebagai dasar negara di momen lahirnya pancasila terinspirasi nilai-nilai luhur, supaya mendapatkan manfaat dan menuju pada kebahagiaan,” tuturnya.(rls/bpn/tim)