Ketut Sudikerta
Ketut Sudikerta

DENPASAR, balipuspanews. com -Kuasa hukum tersangka I Ketut Sudikerta yakni I Wayan Sumardika mengajukan surat penangguhan penahanan ke penyidik Ditreskrimsus Polda Bali, Senin (8/4). Surat pengajuan yang pertama kalinya sejak ditunjuk menjadi kuasa hukum Sudikerta Jumat (5/4).

Yang menarik, surat pengajuan penangguhan penahanan terhadap tersangka I Ketut Sudikerta, ditolak mentah-mentah oleh Direktur Ditreskrimsus Polda Bali Kombespol Yuliar Kus Nugroho.

Kombes Yulias menegaskan pihaknya tidak akan mengabulkan atau pun menyetujui surat pengajuan penangguhan tersebut.

“Gak, saya tidak ijinkan,” tegasnya, Senin (8/4).

Perwira melati tiga dipundak itu tidak menjelaskan alasan penolakan penangguhan tersebut. Namun dia mengatakan sampai saat ini penyidik masih focus memeriksa aliran dana dan penyitaan asset asset kejahatan tersangka Sudikerta.

“Penyidik masih melakukan penyidikan terkait aliran dana dan sebagainya. Sabar masih proses,” terangnya.

Terkait Sudikerta yang kabarnya hari ini dibawa ke RS Trijata Polda Bali karena diduga sakit, Kombes Yuliar mengaku tidak mengetahuinya.

“Biasa itu, tapi sakit apa saya kurang tahu,” ungkapnya. Sementara dari informasi dilapangan, tersangka Sudikerta sendiri mengalami tekanan darah tinggi dan hanya diperiksa sementara saja di RS Trijata Polda Bali.

Sementara itu informasi dilapangan, kuasa hukum tersangka Sudikerta yakni I Wayan Sumardika mendatangi Ditreskrimsus Polda Bali untuk mengajukan penangguhan terhadap kliennya Sudikerta. Kepada wartawan, I Wayan Sumardika mengatakan, pengajuan surat penangguhan tahanan ini dilakukan karena kondisi kesehatan Sudikerta menurun.

Dalam surat pengajuan itu, Sudikerta menyatakan siap untuk bersikap koperatif jika permohonan dikabulkan. Yakni, tidak akan menghilangkan barang bukti, tidak akan melarikan diri dan tidak mengulangi perbuatannya.

Selain itu, jika pengajuan penangguhan dikabulkan kepolisian, pihaknya akan mencari jalan keluar bersama termasuk akan mengupayakan jalan damai dengan pihak pelapor, dalam hal ini pihak Alim Markus dari PT Maspion Grup. (pl/bpn/tim)