Uji Kompetensi Wartawan di Gedung Dewan Pers, Jakarta
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Inspirasi, balipuspanews.com – Sejarah mencatat betapa teknologi mempengaruhi eksistensi dan perkembangan inustri media dan jurnalisme di dunia. Mulai dari penemuan mesin cetak Gutenberg di abad ke 15 di Jerman, yang memungkinkan terjadinya pencetakan materi tertulis secara cepat, hingga terjadi ledakan informasi di Eropa Renaisans.

BERITA TERKAIT : 

Ratna Komala Pemimpin Redaksi Jurnal Dewan Pers/Ketua Komisi Penelitian, Pendataan dan Ratifikasi Perusahaan Pers Dewan Pers dalam buku jurnal Dewan Pers menyebutkan era telekomunikasi dengan penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell di tahun 1870,
memungkinkan telekomunikasi dapat tersebar luas dan mampu mentransformasi kerja jurnalis dalam mengumpulkan, melaporkan dan mendistribusikan berita melalui telepon.

Tak lama kemudian ada penemuan televisi yang akhirnya dapat digabungkan dengan teknologi digital telepon, sehingga lahir komputer pada tahun 1960-an yang kemudian berkembang amat pesat.

Di era inilah ditemukan berbagai sarana yang memungkinkan manusia berhubungan satu sama lain tanpa terhalang oleh faktor jarak, kecepatan, dan waktu. Hingga di akhir abad 20 lahir era komunikasi interaktif ditandai dengan diversifikasi teknologi informasi dengan bergabungnya telepon, radio, komputer, dan televisi menjadi satu dan menandai
teknologi yang disebut dengan internet.

Intenet dalam perkembangannya mampu mentransmisikan enam jenis media: teks, grafik, suara, musik dan animasi, serta video.

Oleh karenanya dimungkinkan adanya layanan-layanan VOD (Video on Demand) dimana penggunanya bisa memilih program yang diinginkan dengan bebas. Misalnya, langsung dapat menonton penggalan lima menit dari berita sepanjang 30 menit,
sesuai keinginan mereka.

Perkembangan lain dari internet adalah mesin pencari dan lacak, seperti browser dan search engines,yang memungkinkan para pengguna internet dapat mencari segala informasi dari situs manapun.

Perubahan revolusioner kemudian terjadi pada perilaku masyarakat dalam mengakses informasi akibat perkembangan teknologi digital ini.

Menurut data penelitian Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia 2014, ada tiga alasan
utama orang Indonesia menggunakan internet.

Tiga alasan itu adalah untuk (1) mengakses sarana sosial/komunikasi (72%), (2) sumber informasi harian (65%), dan (3) mengikuti perkembangan jaman (51%)

Sementara perangkat yang digunakan pengguna internet di seluruh provinsi di
Indonesia paling sering adalah telpon selular, dengan angka tertinggi pengguna
dari Pulau Jawa dan Bali (92%).

Perangkat ke-2 yang digunakan mengakses internet adalah laptop tertinggi berasal dari Pulau Kalimantan (68%), dan ketiga penggunaan perangkat PC (21%).

Dampak dari teknologi digital bagi industri media dan praktek jurnalisme
sayangnya selalu menjadi pisau bermata dua.

Di satu sisi memberi dampak positif mendorong ketrampilan dan kemampuan
baru bagi jurnalis, lebih efisien dan inovatif. Di sisi lain bila tidak direspons
dan diantisipasi segera oleh pelaku bisnis media dan jurnalisnya, maka perkembangan
teknologi digital justru akan melibas eksistensi media yang sudah berjalan.
Fakta yang menggelisahkan jagat media di Indonesia terjadi di akhir tahun 2015, yang
ditandai dengan tutupnya sejumlah media cetak.

Harian Sinar Harapan yang terbit sejak tahun 1965 dan pernah mengalami pembredelan di masa Orde Baru akhirnya memutuskan untuk tidak terbit mulai Januari 2016. Harian berbahasa Inggris, Jakarta Globe, juga berhenti terbit di akhir September 2015, dan beberapa penerbitan di bawah Kelompok Kompas Gramedia pun melakukan hal yang sama.

Namun demikian, industri media dan jurnalisme di Indonesia tidak mati, sepanjang mampu adaptif dan cepat merespons perkembangan teknologi yang mengubah perkembangan perilaku pasar.

Temuan dari penelitian mengenai “Persepsi Media Terhadap Perkembangan Teknologi
Digital”, yang dilakukan oleh Dewan Pers bekerja sama dengan Universitas Multimedia
Nusantara 2016, menggambarkan, bahwa dari persepsi SDM dan Perusahaan-Perusahaan
Media terhadap teknologi digital, tidak ada keberatan atau kesulitan dalam menerima
dan menerapkan teknologi digital untuk menjalankan perkerjaan jurnalistik sehari-hari,
seperti yang dilakukan Koran Jakarta, karena dapat meningkatkan kinerja,
produktivitas serta efektivitas kerja di perusahaan media.

Meski Perusahaan Media secara umum menyatakan bahwa keuntungan yang didapat perusahaan darisektor digital belum sebesar keuntungan dari sektor tradisional/media cetak.

Merekatidak punya pilihan lain harus beradaptasi, apabila tidak ingin mati.

Setidaknya teknologi digital memberikan peluang untuk meningkatkan efisiensi dalam proses produksi berita, dapat menjangkau khalayak yang lebih cepat, luas, bahkan global. Bagi MNC TV, bukan cuma mempercepat dalam pengiriman data atau berita, tetapi juga
mempercepat berita terkonfirmasi dan terverifikasi, serta peningkatan kualitas
audio dan visual yang semakin baik.

Pilihan bagi industri media dan jurnalisme menghadapi fenomena sunset
media industry, tiada lain harus kreatif, inovatif dengan strategi konvergensi media.
Pengalaman Kompas TV dan TV group lainnya menggunakan teknologi digital
antara lain membantu pengembangan bisnis, dengan mengembangkan outletoutlet
multiplatform. Melalui kompastv.com, materi tayangan Kompas TV diunggah
kembali.

Meski jumlahnya kecil, Kompas TV mendapatkan pemasukan tambahan.
Di samping itu materi tayangan Kompas TV pun dapat dikemas ulang dalam durasi
pendek untuk ditayangkan di social media resmi Kompas TV.

Adopsi teknologi digital yang bersifat konvergen dan multiplatform,
mengharuskan media menyiapkan sumber daya manusia yang multskilling,
yakni Jurnalis yang taat beretika, mampu mengambil gambar, menulis berita, baik
untuk televisi, radio, cetak atau online.

Mengubah kultur kerja yang tradisional menjadi multiplatform, serta pemenuhan
sistem remunerasi yang sesuai dengan kapasitas jurnalis yang multiskilling,
tentunya menjadi tantangan yang harus dipenuhi perusahaan media ke depan.

Termasuk perusahaan media harus antisipatif menyiapkan model bisnis digital
dan multiplatform yang sesuai dengan perkembangan industri media di Indonesia,
tanpa mengabaikan kehadiran Google, Facebook, Amazon, yang sekarang sudah
mengontrol masa depan berita.

Tinggalkan Komentar...