Kepala Desa Antiga I Wayan Madra Arsana, SE. di TPST Asri Winangun yang baru beroperasi belum lama ini.
Kepala Desa Antiga I Wayan Madra Arsana, SE. di TPST Asri Winangun yang baru beroperasi belum lama ini.
sewa motor matic murah dibali

MANGGIS, balipuspanews,com- Sampah menjadi momok masyarakat
Di Bali, tak terkecuali di Desa Antiga. Sampah memang menjadi persoalan ditengah masyarakat, baik pencemaran terhadap lingkungan maupun habitat yang berada dilaut yang sangat membahayakan khusunya sampah plastik.

Sampah di Desa Antiga sudah sejak lama tak terurus, namun berkat tangan dingin Kepala Desa I Wayan Madra Arsana, SE, kini masalah sampah sudah tertangani, meskipun belum berjalan 100 persen.

Sudah sejak tahun 2016 silam menjadi bahan pemikiran untuk mencarikan solusi terkait penangan sampah masyarakat di Desa Antiga. Tak semudah membalikkan telapak tangan, banyak masalah dan pro kontra terjadi dimasyarakat, padahal untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang bersih dan asri.

Perjuangan Madra tak kandas begitu saja tanpa membuahkan hasil dan tujuannya belum tercapai, pendekatan demi pendekatan terus dilakukan, mulai dari penyanding lokasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), pembebasan akses jalan, dan lain lain terus ditempuh demi terwujudnya TPST.

Usahanya pun membuahkan hasil, berkat apresiasi masyarakat yang peduli begitu pentingnya ada pengolahan sampah, mengingat jumlah penduduk Desa Antiga khususnya Banjar Kaler-Kelod begitu padat, dengan jumlah 300 KK volume sampahnya pun cukup banyak.

Sejak 1 Mei 2019, kini masyarakat Banjar Kaler dan Kelod Desa Antiga tak lagi membuang sampah ke sungai seperti biasanya. Pasalnya TPST Asri Winangun sudah mulai beroperasi melayani sampah masyarakat.

Tak harus membayar mahal, cukup membayar 5 ribu per bulan sampah masyarakat sudah bisa diangkut setiap hari, tinggal ditaruh didepan rumah, petugas sampah akan mengambil mulai pukul 08.00 hingga pukul 12.00 Wita untuk masyarakat Banjar Kaler, dan pukul 02.30-17.30 untuk masyarakat Banjar Kelod.

Dengan mempekerjakan enam orang pekerja yang terdiri dari 2 orang tenaga angkut, 3 orang tenaga pemilah, dan 1 orang tenaga untuk mesin.

Berjumlah 3 kendaraan pengangkut sampah yang didapat dari bantuan 2 unit dari Pemerintah Kabupaten Karangsem dan 1unit kendaraan dibeli oleh Desa sendiri. Diperkirakan jumlah volume sampah perhari dua banjar yang dilayani mencapai 5 motor dan diperkirakan 1 unit motor menampung hingga 200 kg sampah, jadi keseluruhan sampah mencapai 1 ton dengan 30% sampah plastik sisanya organik.

“Jumlah sampah 1ton ini pada hari-hari biasa-biasa, belum saat ada upacara seperti odalan di pura dadia, pura Desa bisa lebih dari 1ton,” Ujar Madra didampingi Plt. Banjar Kaler I Wayan Mara.

Tak hanya sampah masyarakat saja yang dilayani TPST Asri Winangun, sampah usai melakukan uapacara piodalan juga dilayani, agar sampah tidak dibuang ke sungai, cukup dengan membayar 10 ribu rupiah sampah upacara bisa langsung diangkut dibawa ke TPST.

Diatas lahan 4 are, dengan luas bangunan yang berdiri 2 are tempat olah sampah masyarakat akan diolah merupakan lahan milik desa yang digunakan hak guna pakai.

Madra menuturkan proses pengolahan sampah setelah berada di TPST mulai dari sistem peragian (payemisasi) setelah sampah turun lalu dipilah, antara sampah plastik botol nilai jual pisahkan, residu, kaca kayun, paku, selain itu masuk ke tong penampungan. Selama lima sampai tujuh hari dilakukan proses pencacahan, setelah itu baru dimasukkan ke mesin pelet.

Pelet ini pun nantinya akan bernilai jual, pelet yang dihasilkan dari sampah itu berupa pelet bahan bakar kompor pengganti gas LPG. Dengan
1kg gas sama dengan 5 kg pelet. Dengan harga pelet berkisar Rp 200-400 per kilogram.

Lebih lanjut Madra juga mengimbau masyarakat agar sampah yang tidak boleh dibuang seperti bangkai, kayu besar, puing bangunan, residu dan yang lain sesuai sosialisasi yang dilakukan ke banjar-banjar sebelumnya.

Dengan berdirinya TPST Asri Winangun, sebuah pararem juga dibuatkan melalui Peraturan Desa (Perdes) Nomor 6 tahun 2019 pasal 13 ayat 1 huruf B yang berbunyi Setiap orang atau badan yang membuang sampah di jalan, sungai, taman, jalur hijau, dan fasilitas umum, dan Pasal 12 ayat 2 yang berbunyi apabila peringatan dan teguran tidak dilakukan maka akan dikenakan denda sebesar Rp100.000. (Bud/bnp/tim).