Pesanan Menurun, Pengerajin Anyaman Bambu Menjerit

Pengerajin anyaman bambu di Desa Kayubihi, Bangli merasakan dampak pandemi Covid-19
Pengerajin anyaman bambu di Desa Kayubihi, Bangli merasakan dampak pandemi Covid-19

BANGLI, balipuspanews.com – Pengerajin anyaman bambu di Bangli tetap eksis dan bertahan di tengah pandemi, walaupun harga jual dan pesanan belakangan ini mengalami penurunan akibat lesunya perekonomian.

Salah satu pengerajin keben, Putu Nanda, asal Desa Kayubihi, Bangli yang menekuni profesinya sejak sebelum corona, tidak menampik bahwa konsumennya jauh menurun semenjak adanya pandemi Covid-19.

“Konsumen jauh menurun. Harga keben (kerajinan bambu – red) untuk satu bijinya juga turun dari Rp. 120 ribu menjadi Rp. 100 ribu,” ungkap, Putu Nanda kepada balipuspanews.com, Minggu (25/10/2020).

Sementara untuk bahan baku, Putu Nanda yang juga berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini, mengaku membeli dengan harga Rp. 30 ribu untuk satu batang pohon bambu.

Lantas berapa keben (kerajinan bambu) yang bisa dihasilkan dari satu batang pohon bambu?

Ibu ramah ini mengaku, untuk satu batang pohon bambu bisa dihasilkan dua buah keben.

“Pembuatan satu keben, bisa dua hari. Tergantung dari bentuk, jenis, dan ukurannya juga,” ucapnya, sembari tersenyum.

Diakui juga, selain adanya pesanan pribadi terhadap kerajinannya, selama ini ia juga menjual/memasarkan kerajinannya kepada pengepul. Namun, belakangan dikatakan konsumen sangat sepi semenjak adanya wabah corona.

“Dengan kondisi seperti ini, saya hanya bisa berharap agar perekonomian bisa segera pulih. Sehingga nantinya, penjualan kerajinan saya bisa kembali normal,” harapnya.

PENULIS : Komang Rizki

EDITOR : Oka Suryawan