Minggu, Oktober 25, 2020
Beranda Bali Bangli Petani Kintamani Keluhkan Harga Tomat Jauh Dibawah Pasaran

Petani Kintamani Keluhkan Harga Tomat Jauh Dibawah Pasaran

BANGLI, balipuspanews.com – Petani Kintamani mulai menjerit akibat harga jual hasil pertanian di pasaran “terjun bebas” akibat pandemi Covid–19. Seperti dituturkan Wayan Diana, salah satu petani asal Kintamani, Bangli kepada balipuspanews.com, Minggu (18/10/2020).

Menurutnya, saat ini dirinya memiliki 3 ribu tanaman tomat yang siap panen. Namun, dirinya tidak bisa berbuat banyak karena harga jual di pasaran Oktober ini hanya Rp. 1.500 perkilogram.

“Harga murah, pembeli sepi. Bagaimana bisa untuk melanjutkan pertanian kalau kayak gini. Balik modal saja susah,” ujarnya mengeluh.

Diana meyakini, sepinya pembeli akibat wabah corona yang hingga kini belum bisa dipastikan kapan akan berakhir. Pun demikian, dirinya berharap, di tengah kesulitan ini, semoga harga jual buah tomat bisa merangkak naik, atau setidaknya bisa mengembalikan modal pemeliharaan tanaman.

Lebih jauh kata pria 31 tahun ini menuturkan, di tengah anjloknya harga, tanamannya juga kebanyakan tidak tumbuh maksimal akibat guyuran hujan yang belakangan ini sering terjadi di daerah Kintamani maupun sekitarnya.

“Selain cuaca, hama seperti burung juga banyak sekarang. Kemungkinan ini diakibatkan berkurangnya habitat dan sumber makanannya,” jelasnya.

Dengan kondisi seperti ini, Diana pun hanya bisa berharap agar kondisi bisa segera membaik. Sebagai masyarakat, dirinya menyerahkan semua permasalahan kepada pemerintah untuk dicarikan jalan keluar agar petani tidak terus merugi.

Apabila faktor harga serta lesunya perekonomian tidak kunjung membaik, para petani bisa dipastikan akan rugi total.

PENULIS : Komang Rizki

EDITOR : Oka Suryawan

- Advertisement -

Warga Temukan Orok di Parit Areal Jogging Track Sanur Kauh

SANUR, balipuspanews.com - Penemuan orok membusuk berlangsung di pinggir parit areal jongging track di Jalan Prapat Baris, Sanur Kauh, Denpasar Selatan, Jumat (23/10/2020) sekitar...

Tak Hiraukan Teguran, Pabrik Penyulingan Daun Cengkeh Akhirnya Ditutup Paksa

Sebuah tempat usaha penyulingan daun cengkeh yang berada di Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada ditutup paksa oleh tim Satpol PP Kabupaten Buleleng. Hal itu dilakukan sebab pemilik tempat tidak menghiaraukan teguran petugas, sehingga Pol PP lalu bertindak tegas menutup paksa usaha penyulingan daun cengkeh yang beroperasi dan dianggap menimbulkan polusi udara.
Member of