PHDI dan MDA Bali Keluarkan SE Perayaan Nyepi, Pengarakan Ogoh-ogoh Ditiadakan

Ketua PHDI Bali I Gusti Ngurah Sudiana. (Ist)
Ketua PHDI Bali I Gusti Ngurah Sudiana. (Ist)

DENPASAR, balipuspanews.com – Perayaan Hari Raya Nyepi pada tahun Caka 1943 bulan Maret mendatang kembali tanpa adanya arak-arakan atau pawai Ogoh-Ogoh sama seperti tahun lalu mengingat suasana masih dalam pandemi Covid-19 yang belum ada tanda-tanda virus bakal mereda.

Hal ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali dalam surat Nomor 009/PHDI-Bali/I/2021, dan 002/MDA-Prov Bali/I/2021 tentang Pelaksanaan Rangkaian Hari Suci Nyepi tahun Saka 1943, Selasa (19/01/2021).

Kebijakan ini keluar mengacu pada Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 01 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), Peraturan Gubernur Bali Nomor 46 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 dalam Tatanan Kehidupan Era Baru. Dan, Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 3355 Tahun 2020 tentang Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru.

Selain itu, ditambahkan pula pada Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 01 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Masyarakat dalam Tatanan Kehidupan Era Baru di Provinsi Bali.

Ketua PHDI Bali I Gusti Ngurah Sudiana didampingi Bendesa Agung MDA Bali Ida Panglingsir Putra Sukahet menegaskan dalam rangkaian Upacara Malasti, Tawur, Pangrupukan agar dilaksanakan dengan memperhatikan pembatasan jumlah peserta yang ikut dalam prosesi paling banyak 50 orang.

Kepada para pemangku agar menggunakan “panyiratan” yang sudah bersih untuk “nyiratang tirta” kepada Krama, dan memberikan bija dengan peralatan yang bersih.

Selain itu, dilarang memakai/membunyikan petasan atau mercon dan sejenisnya saat pangrupukan atau perayaan hari nyepi.

“Bagi umat yang sakit atau merasa kurang sehat, agar tidak mengikuti rangkaian upacara, guna menghindari berbagai potensi penyebaran Covid-19. Dan semua panitia, peserta agar mengikuti Protokol Kesehatan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 dalam Tatanan Kehidupan Era Baru,” tegasnya.

Khususnya kepada Umat Hindu di Bali, kegiatan Malasti Tawur Kasanga Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1943 dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Segara, Malasti di pantai.

b. Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Danu, Malasti di danau.

c. Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Campuhan, Malasti di Campuhan.

d. Bagi Desa Adat yang memiliki Beji dan/atau Pura Beji, Malasti di Beji.

e. Bagi Desa Adat yang tidak melaksanakan Malasti sebagaimana huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, dapat Malasti dengan cara Ngubeng atau Ngayat dari Pura setempat.

Upakara malasti ditambahkan bagi Desa Adat yang malasti di Segara, ngaturang Banten Guru Piduka, salaran ayam itik (bebek) dan tipat kelanan, pakelem itik katur ring Bhatara Baruna.

Sedangkan bagi Desa Adat yang malasti ring Danu, Beji, atau Campuhan, ngaturang Caru Panglebar Sasab Merana (caru ayam ireng). Dan bagi Desa Adat yang malasti Ngubeng utawi Ngayat, ngaturang Caru Panglebar Sasab Merana ring Pangulun Setra, saka sidan (sesuai dengan situasi setempat).

Pada hari puncak, lanjut Sudiana, upakara Tawur dilaksanakan serentak pada Saniscara Pon Gumbreg tanggal Masehi 13 Maret 2021 dengan tingkatan sebagai berikut :

a. Tawur Agung ring Bencingah Agung Besakih (Giri Tohlangkir), dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali, dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali pada Pukul 09.00 Wita nemu kerta ikang rat.

b. Tawur Labuh Gentuh ring Catus Pata Kabupaten/Kota, dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, dan Majelis Desa Adat Kabupaten/Kota pada Pukul 13.00 Wita.

c. Tawur Manca Kelud ring Catus Pata Desa Adat, dilaksanakan oleh masing-masing Desa Adat setempat pada Pukul 16.00 Wita. Biaya upakara dapat menggunakan Dana Desa Adat yang bersumber dari APBD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2021.

d. Upacara lan Upakara setingkat keluarga dan rumah tangga dilaksanakan sesuai dengan Surat Edaran Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali.

Selain itu, Tawur Agung sebagaimana dimaksud pada angka 4 huruf a, disertai dengan Upacara Segara Kerthi miwah Danu Kerthi : Mapakelem, Mapulang Panyegjeg ring Nawa Segara yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali dan difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.

Adapun upacara Segara Kerthi akan dilaksanakan di segara Pura Batu Mejan, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, di segara Pura Silayukti, Desa Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Sedangkan untuk di segara Pura Wimukti, Labuan Sait, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Selanjutnya, di segara Pura Indra Kusuma, Desa Candi Kusuma, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Di segara Pura Segara Gilimanuk, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Dan di segara Pura Pabean, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.

Sedangkan di segara Pura Ponjok Batu, Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Segara Pura Dalem Batu Grombong, Desa Baturinggit, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Dan di Pura Segara Danu, Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Sementara untuk upacara Danu Kerthi ring Catur Danu akan dilaksanakan di Pura Jati Danu Batur, Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Danu Beratan, Pura Ulun Danu Beratan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Danu Buyan, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, dan di Danu Tamblingan, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

Pihaknya berharap dengan ini disampaikan kepada seluruh masyarakat Bali hal-hal yang berkaitan dengan Pelaksanaan Rangkaian Hari Raya Suci Nyepi Tahun Saka 1943 di Bali agar ditaati dan melaksanakan dasar hukum di atas yang berkaitan dengan Pelaksanaan Kegiatan Masyarakat dalam Tatanan Kehidupan Era Baru di Provinsi Bali.

“Bagi umat lain di Bali agar bersama-sama mendukung dan menyukseskan Pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1943 dengan tetap menjaga dan merawat kerukunan antarumat beragama. Surat Edaran Bersama ini agar menjadi pedoman untuk dilaksanakan dengan penuh disiplin dan bertanggung jawab secara niskala-sakala,” pungkas Sudiana.

Penulis/Editor : Budiarta/Oka Suryawan