Jumat, Oktober 30, 2020
Beranda Bali Gianyar PHDI Gianyar : Tidak Ada Larangan Ngelawang

PHDI Gianyar : Tidak Ada Larangan Ngelawang

GIANYAR, balipuspanews.com – Surat himbauan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali bersama Majelis Desa Adat (MDA) terkait pembatasan pelaksanaan upacara keagamaan berpengaruh juga terhadap kegiatan ngelawang.

Ngelawang yang biasanya ramai dilakukan oleh anak-anak maupun remaja di Hari Raya Galungan hingga datangnya Hari Raya Kuningan, kini nampak sepi aktivitas.

Ketua PHDI kabupaten Gianyar, I Nyoman Patra mengatakan, dalam surat tersebut tidak adanya sebuah pelarangan terhadap aktivitas sosial keagamaan. Hanya yang ditekankan adalah penundaan sementara terhadap upacara yadnya yang sifatnya sekala besar.

“Yang menjadi acuan dalam hal ini adalah jarak. Tidak ada larangan untuk melakukan atau mengikuti kegiatan sosial keagamaan. Asal tetap mengikuti protokol kesehatan,” ujarnya, Minggu (20/9/2020).

Pria asal Celuk, Sukawati ini menegaskan, seperti apa yang telah ia dapatkan saat mengikuti kegiatan Germas, di desa Siangan, Gianyar belum lama ini. Bahwa selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga harus dijaga.

“Karena itu nilai spiritual, ia pun masih bertanya-tanya apakah upacara agama itu menjadi penyebab seseorang sakit atau karena tidak dapat beraktivitas keagamaan,” ungkapnya.

Dikatakannya juga, filosofi ngelawang sendiri, kenapa ada banyaknya sesuhunan yang harus tedun. Karena Ketika ada wabah grubug, Ida akan tedun, secara kasat mata hal tersebut akan membangkitkan semangat kehadapanNya. Orang-orang pun akan lupa pada sakitnya.

“Pada saat orang happy ia akan lupa sakitnya, minimal imun tibuh meningkat,” jelas Patra.

Mantan anggota DPRD Gianyar yang dikenal vokal ini menegaskan, parisada tidak ada pelarangan, yang ada penundaan terhadap upacara yang bersekala besar, seperti Karya Agung.

Termasuk ngelawang yang dilakukan oleh anak-anak saban hari Raya Galungan datang tidak ada pelarangan. Hanya saja harus ada restu dari bendesa adat dan yang bertanggung jawab adalah kelian sekaa. Dengan tetap mengacu kepada protokol kesehatan.

“Karena bendesa yang mewenangi desa adat tersebut, kegiatan ngelawang dikembalikan kepada bendesa setempat, dan kelian sekaa, agar dalam berkegiatan ngelawang tetap mengikuti protokol kesehatan,” tandasnya.

PENULIS : Ketut Catur

EDITOR : Oka Suryawan

- Advertisement -

Bayi Yang Dibuang, Lahir Di Kamar Mandi

NEGARA,balipuspanews.com- Kedua orang tua bayi perempun yang dibuang di bale bengong panti asuhan Giri Asih, Melaya, sudah diamankan polisi. Dari keterangan sementara, bayi hasil hubungan...

Usut Praktik Jual Beli Senjata Ilegal ke Separatis Papua

JAKARTA, balipuspanews.com - Praktik jual beli senjata ilegal ke Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, yang melibatkan oknum anggota Brimob harus diselidiki secara tuntas...
Member of