Petugas keamanan dibantu warga melakukan penyemprotan disinfektan sebelum piodalan berlangsung
Petugas keamanan dibantu warga melakukan penyemprotan disinfektan sebelum piodalan berlangsung

DENPASAR, balipuspanews.com- Tanda tanya umat Hindu tentang pelaksanaan piodalan di Pura Agung Besakih Karangasem dan Pura Batur Kintamani, Bangli ditengah wabah virus corona akhirnya mendapatkan jawaban.

Sabtu (28/3/2020), bertempat di kantor PHDI Bali, diambil keputusan bersama antara PHDI Bali dengan Majelis Desa Adat (MDA)Provinsi Bali. Kedua lembaga umat Hindu dan desa adat itu memutuskan piodalan yang puncaknya berlangsung saat Purnama Kedasa itu tetap berjalan. Namun, umat yang tangkil dibatasi jumlahnya.

Adapun point penting dari keputusan bersama PHDI dan MDA ini tertuang dalam keputusan bersama nomor : 020/PHDI- Bali/III/2020 dan nomor : 04/SK/MDA-Prov.Bali/III/2020 tentang ketentuan pelaksanaan upacara Panca Yadnya dan/atau kegiatan adat dalam status pandemi covid-19 di Bali.

Dalam point 4 dan 5 disebutkan, pelaksanaan Karya Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih pelaksanaan mulai ngawit sampai ngeluur akan diempon oleh krama desa adat Besakih. Prosesi melasti akan dilangsungkan ngubeng. Ida Bhatara Nyejer selama tujuh hari. Untuk warga diluar desa adat Besakih, warga diminta ngayeng dari merajan soang – soang.

Sementara prosesi di pedharman mengikuti apa yang berlangsung di Pura Besakih. Hanya saja, Ida Bhatara di Pedharman katuran nyejer sehari.

Sementara Karya Ngusaba Kadasa di Pura Batur pelaksanaan upacara dari pangawit sampai panyineban hanya melibatkan Krama Desa Adat Batur. Ida Bhatara nyejer tujuh hari. Warga diluar desa adat Batur ngayeng dari merajan soang soang.

Untuk warga subak yang akan menghaturkan suwinih ke Pura Batur, hanya boleh diwakili oleh dua orang saja.

Selain itu keputusan bersama juga menyinggung pelaksanaan upacara Pitra Yadnya bagi yang meninggal karena positif COVID-19, dilakukan dengan kremasi langsung atau makingsan di gni sesuai dengan Protokol Kesehatan COVID-19.

Bagi yang meninggal bukan karena COVID-19, supaya dilaksanakan upacara makingsan di gni atau dikubur, kecuali Sulinggih dan Pamangku. Apabila Ngaben tidak mungkin ditunda, dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut yaitu upacara dilaksanakan dengan sederhana dan jumlah peserta yang terbatas. Tidak ada undangan, atau bentuk keramaian lainnya.

Sementara soal Manusa Yadnya,
Upacara Manusa Yadnya yang terkait dengan kelahiran, seperti upacara bayi telu bulanan (tiga bulan), otonan (hari lahir/siklus enam bulanan) dapat dilaksanakan dengan upacara sederhana dan jumlah peserta yang terbatas. Tidak ada undangan, atau bentuk keramaian lainnya. Apabila Upacara Pawiwahan tidak dapat ditunda, maka pelaksanaannya dengan ketentuan sebagai berikut yaitu
dihadiri hanya oleh kedua pihak keluarga inti dan saksi-saksi. Upakara paling inti berupa pakala-kalaan/pabyakaonan, tataban di Bale (Atma Kerthl), banten nunas Tirta Tri Kayangan Desa Adat, Tirta Mrajan, dan Tirta dari Sulinggih—cukup dilaksanakan oleh 2-3 orang.

Pawiwahan cukup dipimpin pamangku dibantu oleh sarati banten. Karena dalam status copid 19, tidak diperbolehkan adanya resepsi pernikahan sampai ada kebijakan mencabut status copid 19 oleh pihak berwenang.

Sementara terkait kegiatan adat,
semua kegiatan adat yang melibatkan banyak orang, seperti pasangkepan, patedunan, dan sejenisnya supaya ditunda, atau kalau harus dilaksanakan agar pesertanya dibatasi.

Keputusan bersama itu ditandatangani oleh ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, Bendesa Agung MDA Bali Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet dan diketahui oleh gubernur Bali I Wayan Koster. (bas/tim/bpn)