Senin, Juli 22, 2024
BerandaBadungPKM Unwar Kembangkan Kelompok  Industri Kerupuk Sapi di Darmasaba

PKM Unwar Kembangkan Kelompok  Industri Kerupuk Sapi di Darmasaba

BADUNG, balipuspanews.com-Sebagai bentuk dukungan dan kepedulian dunia pendidikan terhadap masyarakat khususnya bagi pelaku UMKM, Universitas Warmadewa menggelar Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Darmasaba Kecamatan Abiansemal, Badung, Selasa (1/6/2021).

Kali ini, Unwar dalam program PKM berupaya untuk pengembangan usaha industri kerupuk sapi. Esensi dari kegiatan ini mengingat pentingnya sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diharapkan mampu menjadi sumber kekuatan baru perekonomian nasional dalam menghadapi krisis.

Seperti diketahui, inovasi dari rata-rata Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) selama ini dirasa masih minim, sehingga bisnis UMKM kerap jalan ditempat.

Belum lagi persoalan financial atau modal usaha yang kerap menghambat pelaku UMKM untuk meningkatkan produktivitasnya.

Ketua tim PKM dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Warmadewa, A.A. Media Martadiani,
SE., MM, mengungkapkan, era new normal bisa menjadi momentum bagi para pelaku UMKM untuk melakukan transformasi digital agar dapat beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.

Beberapa penelitian menunjukkan
keterkaitan antara pengguna media digital seperti media sosial dengan volume penjualan peningkatan penjualan paling banyak dirasakan ukm sebesar 10-50 % setelah menggunakan media sosial sebagai alat pemasaran.

BACA :  Polisi Gelar Patroli di Sepanjang Titik Rawan Kejahatan, Sasaran Bawa Sajam

Martadiani melanjutkan, salah satu desa yang menjadi sasaran kegiatan PKM adalah Desa Darmasaba, tepatnya di UD. Putra Maju milik Made Putra Bentar yang merupakan  pengusaha kerupuk di Banjar Bersih.

Berdasarkan hasil observasi di
tempat usaha kerupuk milik Made Putra Bentar yang dilakukan A.A Martadiani bersama Dewa Ayu Putu Niti Widari SE.,MM dan I Gusti Ayu Athina Wulandari, SE., M.Si terjadi penurunan volume penjualan kerupuk.

Penurunan terjadi, lanjut Martadiani,   kerupuk babi disebabkan karena harga kulit babi yang mahal. Sehingga diputuskan tidak memproduksi kerupuk babi. Menurut pak Bantar usahanya kini fokus pada
pembuatan kerupuk sapi.

Setelah diidentifikasi, permasalahan prioritas yang dihadapi pelaku UMKM yaitu berbagai hambatan
dalam persaingan dunia usaha. Lemahnya jaringan usaha dan kemampuan menembus pasar.

Hal ini disebabkan karena mitra memiliki modal terbatas, mempunyai jaringan usaha yang sangat terbatas dan kemampuan penetrasi pasar yang rendah.

Selain itu, masih kata Martadiani, mitra tidak memahami
sistem pembukuan, belum mempunyai identitas usaha atau corporate identity.

Walaupun di tengah pandemi Covid-19, dengan menggunakan aturan protokol kesehatan yang sangat ketat semua peserta dikumpulkan di rumah pak Bantar untuk diberikan ceramah tentang materi kegiatan.

BACA :  Buka Desa Kuwum Fest 2024, Bupati Giri Prasta Apresiasi Tokoh dan Masyarakat Desa Kuwum

Adapun materi yang diberikan terkait dengan mengedukasi arti pentingnya kewirausahaan, bagaimana perhitungan harga pokok produksi, bagaimana cara membuat pembukuan yang sederhana dan pentingnya pengemasan dan pemasaran berbasis digital.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan metode diskusi untuk memperdalam pemahaman mitra.

Sehingga makin termotivasinya mitra usaha kerupuk sapi untuk mengembangkan bisnis dengan memanfaatkan pemahaman dan materi yang diberikan.

“Diharapkan kegiatan ini dapat memotivasi dan menjadi bekal mitra pelaku usaha kerupuk dalam berwirausaha,” harapnya.

Dalam kegiatan PKM ini juga dilakukan pendampingan dalam pembuatan pembukuan dan laporan keuangan secara sederhana. Tujuannya, setidaknya mitra dapat memahami laba/rugi yang diperoleh dan mengetahui harga dasar dari bahan-bahan yang dipakai dalam pengolahan jajan kiping.

Selain pendampingan pembukuan, pendampingan juga diberikan untuk memasarkan produk melalui peningkatkan kualitas produk, promosi lewat media online sehingga dapat meningkatkan jumlah
pelanggan.

“Yang tidak kalah pentingnya,  pendampingan pengadaan peralatan proses produksi yaitu berupa bantuan barang dan modal berupa kuali dan sendok saringan,” sambungnya.

Martadiani menambahkan outcame dari kegiatan PKM ini adalah meningkatnya pengetahuan dan  keterampilan mitra dalam menerapkan konsep kewirausahaan dapat membuat membuat laporan keuangan yang sederhana, dapat mempergunakan aplikasi media
sosial dalam hal ini Whatsapp, Instagram dan Facebook dalam memasarkan produk kerupuk sapi
berbasis online.

BACA :  Selidiki Helikopter Jatuh, Tim Investigasi Turun ke Lokasi

“Dengan PKM ini diharapkan pendapatan dari usaha pengolahan kerupuk sapi semakin
meningkat. Dan dengan adanya pendampingan kendala yang dialami mitra dapat diminimalkan.  Pada akhirnya, usaha pengolahan kerupuk sapi akan mampu meningkatkan pendapatan keluarga dan membantu perekonomian masyarakat khususnya pada saat kondisi pandemi seperti ini,” pungkasnya mengakhiri.

Penulis: Budiarta
Editor: Oka Suryawan

 

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular