PLN UID Bali Catat Penurunan Biaya Pokok Produksi 6,01 Persen

Putu Putrawan, Senior Manager Perencanaan PLN UID Bali
Putu Putrawan, Senior Manager Perencanaan PLN UID Bali

DENPASAR, balipuspanews.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Bali mencatat adanya penurunan Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik hingga 6,01 persen, dengan selisih Penjualan Listrik dan BPP sebesar Rp 72/kWh. Turunnya BPP menjelang akhir tahun 2020 ini dipengaruhi oleh harga transfer price, kurs dollar, inflasi, dan harga minyak mentah (energy primer).

Putu Putrawan, Senior Manager Perencanaan menjelaskan penurunan BPP di Bali merupakan hasil upaya efisiensi yang dilakukan PLN antara lain dengan meningkatkan penjualan, menurunkan biaya operasional, dan masuknya energy primer yang lebih murah sesuai dengan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

“Setelah menghitung realisasi BPP pada bulan Oktober 2020 sebesar Rp. 1.186/kWh dan penjualan sebesar Rp 1.258/kWh maka terdapat penurunan BPP yang signifikan dan ini berarti PLN Bali semakin efisien,” jelasnya, Sabtu (28/11).

Putu menegaskan penurunan BPP sangat penting, tujuannya agar listrik semakin terjangkau bagi masyarakat.

Sebagai pedoman bagi PLN dan pelaku usaha di bidang kelistrikan, Pemerintah melalui Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan BPP Pembangkit melalui Kepmen ESDM nomor 55K/20/MEM/2019 tentang Besaran Biaya Pokok Penyediaan Pembangkitan PLN yakni untuk Wilayah Bali sebesar Rp. 985/kWh.

Penetapan BPP Pembangkit ini digunakan sebagai acuan dalam pembelian tenaga listrik oleh PLN apabila terdapat Pembangkit/Independet Power Producer (IPP) Baru.

Putrawan juga menambahkan pengembangan Energi Baru Terbarukan juga dapat menjadi salah satu upaya PLN untuk menurunkan BPP.

“Dengan masuknya tambahan Energi Primer yaitu PLTS Bali Timur dengan harga sekitar 5,8 Cent USD/kWh dan Bali Barat 6,2 Cent USD/kWh tahun 2022, BPP bisa turun lagi,” pungkasnya.

Harapannya Jawa Bali Connection (JBC) bisa terealisasi di tahun 2025 dengan kapasitas 2.000 MW, dan Bali akan memiliki cadangan reserved sharing yang berkecukupan sehingga harga Rupiah/kWh akan makin murah dari pembangkit – pembangkit yang ada di Bali.

Saat ini Bali memiliki Kapasitas Daya Mampu sebesar 1.305,80 MW, dan Beban Puncar per September 2020 sebesar 674,3 MW. Ini berarti terdapat penurunan konsumsi listrik hingga 24 persen dibandingkan dengan bulan Oktober 2019.

Terdapat cadangan daya atau reserve margin di Bulan September 2020 sebesar 92 persen atau 617,8 MW yang menandakan keamanan pasokan daya listrik. Peluang bagi masyarakat yang ingin tambah daya atau pasang baru sangat terbuka.

Khususnya bagi Industri Kecil Menengah (IKM) atau Usaha Kecil Menengah yang memiliki minat melakukan Tambah Daya dapat memanfaatkan Promo Super Merdeka diskon hingga 75 persen yang diperpanjang hingga 31 Desember 2020.

Tarif Bisnis dan Industri tegangan rendah mulai dari daya 450 VA sampai dengan daya 13.200 VA dengan pilihan daya akhir sampai dengan daya 16.500 VA. Masyarakat yang ingin menikmati promo ini dapat langsung menghubungi PLN melalui contact center PLN 123, website pln.co.id, atau aplikasi PLN Mobile.

Penulis/Editor : Budiarta/Oka Suryawan