Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

OPINI ,balipuspanews.com – Jualan Ide dan gagasan yang menjadi dasar pemikiran untuk membangun kesejahteraan masyarakat secara umum masih dibayangi politik uang dalam pemilu legislatif di tahun 2019 ini, tak heran pertanyaan mulai bermunculan akankah ide dan gagasan para wakil rakyat di parlemen masih kandas dengan politik uang?

Tinggal beberapa bulan lagi tepatnya pada tanggal 17 April 2019, bangsa Indonesia akan menentukan pilihannya untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, DPD serta DPRD RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten.

Hajatan politik yang baru pertama kali dilaksanakan secara serentak di Negara Indonesia ini memberikan atmosfir baru bagi perkembangan politik di Tanah Air.

Para wakil rakyat yang menjadi pilihan rakyat akan bertumbuhan serta secara sah akan menduduki gedung wakil rakyat.

Proses menuju gedung yang ditempati para wakil rakyat ini tidaklah gampang, para calon yang mesti mengikuti beberapa tahapan untuk menjadi Calon Legislatif.

Tak berhenti sampai disitu untuk mendekati hati masyarakat, para calon legislatif mulai dari tingkat Kabupaten, Provinsi dan Pusat mesti bertarung untuk meraih simpati.

Nah pada proses pertarungan ini, sudah barang tentu akan memunculkan berbagai strategi dalam meraih kemenangan.

Pertanyaannnya disini adalah apakah masih manjur strategi yang hanya menjual ide dan gagasan tanpa ada politik uang?

Jika berbicara soal demokrasi yang sejati sudah barang tentu politik uang itu sesungguhnya sangat berbahaya dan sangat mencederai proses demokrasi.

Disamping memang politik uang itu cenderung melahirkan wakil rakyat yang korup. Namun kenyataannya politik uang masih bergerak secara diam -diam dan sistematis ditengah-tengah masyarakat.

Padahal jika rakyat cerdas semestinya memilih bobot wakil rakyatnya melalui ide dan gagasan yang dimiliki oleh para wakil tersebut.

Jika mau melahirkan wakil rakyat yang hebat, semestinya para pemilih mendebatkan masalah ide dan gagasan yang dimiliki para calon wakil rakyat sehingga jelas ketika mereka duduk di gedung DPRD tahu apa yang akan diperjuangkan demi kesejahteraan masyarakat banyak.

Tetapi yang saat ini terjadi masih saja ada bayang -bayang kelabu, ide dan gagasan dianggap tak penting oleh para pemilih.

Mereka cenderung memilih para calon wakil rakyat yang bisa memberikan sesuatu secara instan, pemberian sesuatu ini sudah barang tentu tak terlepaskan dari politik uang.

Pertanyaannya apakah terus pola pola ini terus dipertahankan? kenapa tidak membangun demokrasi yang benar benar sehat sehingga melahirkan pemimpin yang benar benar mensejahterakan masyarakatnya tanpa terikat dengan politik uang.

Demokrasi baru berkembang, masih banyak waktu untuk membuat pola memperkenalkan ide dan gagasan seorang calon legislatif ke tengah -tengah masyarakat luas.

Sehingga pilihan rakyat cerdas akan bermunculan karena mereka akan mengikat calon legislatif dengan ide dan gagasan yang telah disampaikan ke tengah -tengah masyarakat.

Pemilih Cerdas dengan wakil rakyat yang cerdas akan melahirkan kreativitas yang cerdas dalam membangun negara ini.

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi sendiri bagi pemilih untuk memilih wakil rakyatnya yang benar -benar memiliki ide dan gagasan yang hebat. (artayasa)

Advertisement
Loading...

Tinggalkan Komentar...