Potret krisis air bersih eks transmigran Timtim di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak.

GEROKGAK, balipuspanews.com — Krisis air bersih masih menjadi momok bagi 107 KK eks transmigran Timor-Timur (Timor Leste) di lingkungan Bukit Sari, Banjar Tegal Bundar, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Meskipun telah memasuki musim penghujan di tahun 2020 ini, mereka harus rela merogoh kocek Rp 8000 hingga 10 ribu tiap dua (2) hari sekali hanya untuk mendapatkan air bersih layak diminum demi bertahan hidup.

 

 

Sejak tahun 1999 lalu, ratusan warga eks Timtim yang tinggal di lahan tandus Hutan Produksi Terbatas (HPT) itu, lebih memilih membeli air Sanggalangit untuk diminum. Pasalnya, air bersih dikelola Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Sumberklampok disuplai kepada masyarakat tidak jernih dan memiliki rasa asin.

 

 

Kelian Banjar Adat Bukit Sari, Ketut Nuragia (53) mengungkapkan, keluhan krisis air minum sudah berulangkali disampaikan ratusan warga eks Timtim kepada pihak pemerintah, khususnya pemerintah Desa Sumberklampok. Namun, keluhan tersebut sepertinya dianggap angin lalu alias belum mendapat respon apapun hingga saat ini.

 

 

“Memenuhi kebutuhan air minum, tiap 2 hari sekali kami terpaksa membeli 1 jiregen air Sanggalangit. Beli pakai uang pribadi, harga 1 jirigen isinya 20 liter Rp 8 ribu sampai Rp 12 ribu,” kata Nuragia, Selasa (21/1) sore.

 

 

Masih kata Nuragia, kebutuhan air untuk minum dan memasak akan tercukupi jika musim hujan tiba. Keadaan itu akan berbanding terbalik saat musim kemarau.  Masyarakat terpaksa harus rela antre berhari-hari untuk mendapatkan pasokan air minum dari Sanggalangit.

 

 

“Kami sudah biasa menadah air hujan untuk minum dan masak, ketimbang harus minum air dipasok BumDes,” imbuhnya.

 

 

Lalu, selama ini air yang disuplai BumDes digunakan untuk apa?

 

 

Nuragia mengaku, air BumDes memiliki rasa asin dan berwarna keruh keputih-putihan itu hanya dimanfaatkan untuk mencuci pakaian, mandi dan minum ternak peliharaan.

 

 

“Biasanya, air dipasok BumDes Sumberklampok kami gunakan untuk minum ternak. Namun tidak jarang air itu (BumDes), juga dipakai untuk minum dan masak. Kan tidak semua warga mampu membeli air. Dari dulu sampai sekarang, sama sekali belum pernah kami menerima bantuan pasokan air tangki untuk memenuhi kebutuhan air minum,” terangnya.

 

 

Nuragia meminta kepada pemerintah agar memberikan perhatian terhadap kebutuhan air minum masyarakat di Desa Sumberklampok, khususnya warga eks Timtim.

 

 

Terpisah, Perbekel Desa Sumberklampok, I Wayan Sawitra Yasa tak menampik soal krisis air minum selama puluhan tahun dialami warganya tersebut.

 

 

Perbekel Sawitra mengaku, pihaknya selama ini sudah melakukan berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih layak diminum.

 

 

“Kita sudah mencoba dengan memanfaatkan sumber mata air di pegunungan Sumberklampok, namun zat kapurnya tinggi. Kami akali dengan penyaringan manual memakai ijuk serta pasir untuk mengurangi zat kapur. Namun upaya itu gagal, setelah di tes, ternyata zat kapurnya masih tinggi. Terlebih memang terbentur aturan karena air pegunungan itu ada di wilayah pengawasan kehutanan,” ungkapnya.

 

 

Ditanya soal air dikelola BumDes yang didistribusikan kepada masyarakat setempat, pihaknya mengaku jika air tersebut memang tidak untuk dikonsumsi masyarakat.

 

 

“Kalau air BumDes memang tidak layak untuk dikonsumsi, hanya dipakai untuk mencuci. Sudah, kami sudah sosialisasikan kepada masyarakat jika air BumDes tidak layak untuk diminum karena air itu adalah air laut,” jelasnya.

 

 

Imbuh Perbekel Sawitra, saat ini pihaknya sedang melakukan kordinasi dengan Bupati Buleleng serta instansi terkait untuk memenuhi kebutuhan air bersih kepada masyarakat.

 

 

“Kami sudah mengajukan usulan melalui Pamsimas di tahun 2019 lalu, sebagai upaya menjawab pemenuhan air minum di Sumberklampok. Selain itu, kami juga sedang berusaha menggandeng para pemilik usaha agar menggelontorkan CSR mensuplai air bersih ke masyarakat,” pungkasnya.