Produk dan Gaya Hidup Globalisasi Harus Mampu Dilampaui Pancasila

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam Webinar 'Pancasila sebagai Way of Life dan Sumber Segala Sumber Hukum', secara virtual di Jakarta, Sabtu (29/5/2021). (Foto : MPR RI)
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam Webinar 'Pancasila sebagai Way of Life dan Sumber Segala Sumber Hukum', secara virtual di Jakarta, Sabtu (29/5/2021). (Foto : MPR RI)

JAKARTA, balipuspanews.com – Meski Pancasila telah ditasbihkan sebagai pandangan hidup bangsa dan dasar negara, namun masih saja ditemui pandangan yang mempertanyakan bahkan mengabaikan kehadiran Pancasila.

Padahal, kedudukan Pancasila sebagai dasar negara memiliki pijakan legalitas yang kuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945).

Penegasan disampaikan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam Webinar ‘Pancasila sebagai Way of Life dan Sumber Segala Sumber Hukum’, secara virtual di Jakarta, Sabtu (29/5/2021).

Turut hadir antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman, Guru Besar Universitas Gadjah Mada Kaelan, Sestama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Kardjono, Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Katolik Parahyangan Ivan Petrus Sadik, serta host kanal ‘Inspirasi untuk Bangsa’ Bambang Sadono.

Baca Juga :  KIB Prioritaskan Airlangga, Pengamat: Pantas, Punya Karir dan Kinerja Cemerlang

Bamsoet mencontoh, survei yang dilakukan pada akhir Mei 2020 oleh Komunitas Pancasila Muda terhadap responden milenial dari 34 provinsi, mencatat hanya 61 persen responden yang merasa yakin dan setuju bahwa nilai-nilai Pancasila sangat penting dan relevan dengan kehidupan mereka.

Sementara 19,5 persen bersikap netral, dan 19,5 persen lainnya menganggap Pancasila hanya sekedar istilah yang tidak dipahami maknanya.

Survei LSI tahun 2018 juga mencatat bahwa dalam kurun waktu 13 tahun terakhir, masyarakat yang pro terhadap Pancasila mengalami penurunan sekitar 10 persen. Dari 85,2 persen pada tahun 2005, menjadi 75,3 persen pada tahun 2018. Bahkan publikasi survei CSIS mencatat sekitar 10 persen generasi milenial setuju mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain.

Baca Juga :  Penurunan Suku Bunga KUR Super Mikro Tepat untuk Cegah Gelombang PHK

Dengan demikian survei tersebut menggambarkan besarnya tantangan menjadikan Pancasila sebagai gagasan dan rujukan berperilaku yang menarik, terutama bagi generasi muda.

Globalisasi dan perkembangan teknologi telah mempengaruhi berbagai macam aspek kehidupan umat manusia melalui produk-produk dan gaya hidup yang dikemas dan ditampilkan secara sangat menarik.

“Daya tarik itu harus dapat dilampaui oleh Pancasila,” tandas Bamsoet.

Ia juga menyoroti permasalahan yang tidak kalah penting menyangkut metode pembelajaran Pancasila di berbagai tingkatan pendidikan. Mengingat Pancasila sebagai sistem nilai bukanlah sekedar bahan untuk dihafal atau dimengerti saja.

Padahal tidak kalah pentingnya adalah dihayati dan dipraktekkan sebagai kebiasaan. Bahkan dijadikan sifat yang menetap pada diri setiap anak bangsa. Sehingga Pancasila senantiasa menjadi bagian dari kepribadian orang Indonesia.

Baca Juga :  Orasi Ilmiah di UBK, Puan Ajak Wisudawan Teruskan Cita-cita Bung Karno Membangun Karakter Bangsa

“Sebagai sumber dari segala sumber hukum, mengamanatkan bahwa Pancasila adalah inti terdalam dari sumber cita hukum. Segala peraturan perundang-undangan harus selaras, tunduk, dan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila,” tegas Bamsoet.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan