Areal tambak Indukan Bandeng dan Nener serta Udang jenis vanamei di Desa Patas,Kecamatan,Gerokgak.
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng, nampaknya harus lebih serius menangani budidaya sektor kelautan. Pasalnya, sektor ini tidak tergarap optimal dan berpotensi merugikan Buleleng terutama dari sektor pendapatan asli daerah (PAD) Buleleng.

Kapasitas produksi budidaya dari sektor kelautan sangat tinggi, dihasilkan dari tambak-tambak yang tersebar di pesisir Kecamatan Gerokgak.

Beragam jenis ikan dan udang berkembang pesat untuk memenuhi kebutuhan pasar eksport. Alhasil, hal itu tentunya menghasilkan pundi-pundi bagi para pengusaha yang menggeluti sektor kelautan di pesisir Kecamatan Gerokgak.

Ironisnya, kapasitas produksi budidaya dari sektor kelautan sangat tinggi itu, tidak serupiah pun masuk ke kas daerah sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Buleleng, lantaran regulasi untuk itu belum tersedia.

Padahal, terdapat satu produk budidaya  primadona hanya ada di Buleleng sebagai satu-satunya penghasil benih Bandeng (nener) di dunia.

Seperti pengakuan Meddy (47), salah seorang petani tambak budidaya indukan Bandeng dan nener di Desa Patas, Kecematan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.

Menurutnya, Buleleng sebagai sentra  pengembangan budidaya kelautan tidak tergarap maksimal.

Meddy menyebut, banyak hal yang membuat Buleleng sebagai sentra budidaya dirugikan, diantaranya tidak tersedianya sarana pengurusan dokumen pengiriman barang maupun lokasi uji kelayakan pengujian laboratorium PCR (Polymer Chain Reaction) bebas virus.

 

“Buleleng ini satu-satunya penghasil benih bandeng terbaik dunia. Tapi, banyak hal yang saya lihat belum memberikan ruang yang cukup buat daerah Buleleng.Terutama dari masalah dokumen  hingga pengujian laboratorium,” ujar Meddy, Minggu (16/9).

Meddy menjelaskan, keunggulan produksi bibit nener di Buleleng karena faktor iklim yang tidak dimiliki oleh tempat lainnya.

Dulu, lanjut dia, selain Buleleng, sejumlah daerah lain seperti Kabupaten Marros di Sulawesi Selatan dan Aceh menjadi pesaing Buleleng. Namun, seiring waktu, tinggal Buleleng saja menjadi satu-satunya pengembangan bibit nener.

“Kabupaten Marros sudah berhenti dan Aceh juga sama akibat tersapu tsunami. Saya dengar sekarang sih Philpina, namun permintaan dari Indonesia masih tinggi terutama untuk eksport ke Taiwan,” imbuhnya.

 

Menurut Meddy, kapasitas produksi tambaknya mampu menghasilkan 50 hingga 70 rean nener perhari. Dalam satu rean, berisi 5.000 bibit bandeng, sedangkan produksi udang vanamei menghasilkan ratusan ton pertahun.

”Anehnya kami mendapatkan dokumen Surat Keterangan Asal (SKA) dari kabupaten lain padahal ini (nener dan udang) produksi asli Buleleng. Sedang untuk urus PCR kami terpaksa ke Situbondo karena di Gondol (Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP), Gondol,Gerokgak, tidak tersedia. Ini tentunya, sudah merugikan dari sisi waktu dan anggaran,”jelasnya.

Nah, pemenuhan sektor tenaga kerja, Meddy menyebut sangat signifikan terutama untuk tenaga kerja disekitar tambak.

”Jumlahnya cukup banyak dan itu mampu menggerakan roda ekonomi masyarakat. Bahkan, kami juga memberikan kontribusi melalui dana CSR  untuk kepentingan peningkatan sumber daya manusia di sekitar tambak,” ungkapnya.

Sementara, terkait tidak adanya PCR di Buleleng, Kepala Bidang Teknis Sarana dan Penyuluhan,Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP), Gondol, Gerokgak, Ir Ibnu Rusdi, MP membenarkan, jika Balai Riset Gondol selama ini menyediakan jasa pengujian PCR.

Namun belakangan diketahui PCR terkendala akibat kehabisan stok bahan kimia yang terlambat di order.

”Selama ini lancar untuk pengujian PCR nya. namun sekarang terhenti akibat kehabisan stok bahan kimia. Kami belum bisa pastikan sampai kapan kondisi ini berlangsung,” singkatnya.

Tinggalkan Komentar...