BULELENG, balipuspanews.com – Animo masyarakat di Kabupaten Buleleng terhadap program transmigrasi masih menjadi yang tertinggi khususnya di Provinsi Bali. Terbukti di tahun 2019, Bali yang mendapatkan kuota program transmigrasi ke Sumba Timur, NTT untuk lima keluarga semuanya diisi warga Buleleng asal Desa Galungan, Kecamatan Sawan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Buleleng, Putu Arimbawa menjelaskan jika kuota program transmigrasi di tahun 2025 masih kosong. Pihaknya pun mengaku hanya menunggu informasi Pemerintah Pusat terkait kuota yang nantinya akan disampaikan melalui Pemerintah Provinsi Bali.
Meski begitu, sembari menunggu adanya kuota proses sosialisasi terus dilakukan ke desa-desa. Bahkan hingga awal Desember 2025 tercatat sudah ada sebanyak lima kepala keluarga (KK) yang mendatangi kantor Disnaker untuk mendaftarkan diri mengikuti program transmigrasi.
“Memang masih ada peminatnya (Program transmigrasi,red) tapi semua kita sudah catat. Selanjutnya kita menunggu kouta yang ada sekaligus dimana tempatnya. Nanti kita jajagi lebih dulu tempatnya apakah layak atau tidak. Yang sudah kesini ada dari Desa Panji, Desa Kayu Putih, Desa Mayong, Desa Rangdu, dan Desa Sawan,” jelasnya.
Arimbawa menjelaskan untuk kuota program transmigrasi, Provinsi Bali terakhir mendapat kuota lima dengan tujuan Sumba Timur, NTT. di tahun 2019. Akan tetapi semuanya sudah dialihkan ke Kabupaten Buleleng lantaran dari kabupaten lain tidak ada yang daftar untuk mengikuti program.
Adapun persyaratan umum untuk mengikuti program transmigrasi diantaranya WNI, KTP, pas foto, KK, SKCK, Umur Maksimal 58 tahun, Surat bebas hutang piutang dari desa, Surat pernyataan tidak pernah mengikuti program transmigrasi sebelumnya.
Setelah itu dilengkapi nantinya peserta yang akan mengikuti program transmigrasi akan kembali diseleksi oleh tim di tingkat provinsi. Jika semua terpenuhi dan dinyatakan bisa mengikuti program, maka mereka akan mendapat fasilitas lahan, pemukiman, tempat ibadah serta sarana prasarana pendukung lainnya.
“Kalau pendampingan dari kami selama ini belum ada, tapi mereka terus diawasi oleh instansi terkait dilokasi transmigrasi. Tapi kami juga berupaya memonitor dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi seperti sekarang,” tandasnya.
Penulis : Nyoman Darma
Editor : Oka Suryawan



