Proses Internalisasi Nilai-nilai Pancasila pada Anak Jangan Pernah Berhenti

Sekretaris Jenderal MPR RI Ma’ruf Cahyono acara ‘MPR RI Menyapa Sahabat Kebangsaan' yang dirangkai dengan Peluncuran Novel 'Meraih Mimpi' dan Buku Digital MPR RI serta Pengumuman Lomba Karya Jurnalistik dan Foto di Lobi Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/11/2021). (Foto: MPR RI)
Sekretaris Jenderal MPR RI Ma’ruf Cahyono acara ‘MPR RI Menyapa Sahabat Kebangsaan' yang dirangkai dengan Peluncuran Novel 'Meraih Mimpi' dan Buku Digital MPR RI serta Pengumuman Lomba Karya Jurnalistik dan Foto di Lobi Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/11/2021). (Foto: MPR RI)

JAKARTA, balipuspanews.com – Penanaman nilai-nilai kebangsaan terutama pemahaman akan sila-sila dalam Pancasila kepada anak didik usia dini dinilai menjadi cara jitu membangun persatuan di tengah keberagaman.

Sebab untuk membangun pondasi negara yang kuat di masa depan harus diawali oleh pembentukan nilai-nilai kebangsaan (Pancasila, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI) yang melekat dan kokoh kepada anak didik usia dini.

Penegasan disampaikan Sekretaris Jenderal MPR RI Ma’ruf Cahyono acara ‘MPR RI Menyapa Sahabat Kebangsaan’ yang dirangkai dengan Peluncuran Novel ‘Meraih Mimpi’ dan Buku Digital MPR RI serta Pengumuman Lomba Karya Jurnalistik dan Foto di Lobi Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/11/2021).

Baca Juga :  Seluruh Fraksi DPRD Klungkung Setujui Penetapan 2 Ranperda Secara Aklamasi

Menurut Ma’ruf, ekosistem kondisi lingkungan luar biasa telah mempengaruhi perilaku anak-anak usia dini, sehingga harus dilawan dengan internalisasi nilai-nilai yang kuat.

“Internalisasi nilai-nilai yang never ending, nggak boleh berhenti. Jadi kalau ada style gaya yang berbeda kemudian anak jadi seperti nggak patuh sama orang tua. Itu ada learning proses berhenti,” ujarnya.

Menurut Ma’ruf, ada lima pondasi yang harus ditanamkan kepada anak usia dini. Yaitu pertama, Indonesia yang religius. Hal itu bisa digaungkan dengan menanamkan kuat sila pertama dari Pancasila. Bahwa seorang anak tidak bisa lepas dari ajaran agama karena sila pertamanya adalah Ketuhanan yang Maha Esa.

Kedua, nilai humanitas. Yaitu humanitas yang adil dan humanitas yang beradab.

Baca Juga :  Demi Stabilitas Pemerintahan, KIB Perlu Didorong Membangun Koalisi Besar

“Humanitas yang memanusiakan manusia lain, tidak boleh saling menyakiti, tenggang rasa, hormat menghormati dan lain-lain, itu nilai-nilai kita,” ujarnya.

Ketiga nilai nasionalisme. Yaitu pentingnya persatuan antara sesama anak bangsa yang diikat oleh korelasi sosial antar anak-anak di lingkungan masing-masing, di sekolah dan fasilitas sosial lainnya.

“Itu adalah bentuk dari implementasi bagaimana membangun persatuan bagi disebut di atas keberagaman,” kata Ma’ruf.

Keempat adalah demokrasi, serta kelima adalah Keadilan.

“Lima hal ini tolong disampaikan kepada anak didik dan lainnya sehingga pekan kehumasan memiliki makna yang lebih luas, dalam, bermanfaat dan tentu untuk kepentingan visi-misi lembaga MPR,” tegas Ma’ruf.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan