Punya Tuah Netralisir Penyakit, Prosesi Ngerebeg di Tegallalang Digelar dengan Jumlah Terbatas

Prosesi ngerebeg di Pura Duur Bingin, Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Kamis (22/10/2020)
Prosesi ngerebeg di Pura Duur Bingin, Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Kamis (22/10/2020)

GIANYAR, balipuspanews.com – Pelaksanaan tradisi Ngerebeg di Pura Duur Bingin, Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang tetap berlangsung dengan protokol kesehatan, Kamis (22/10/2020).

Tradisi itu tetap dilaksanakan lantaran masyarakat setempat pantang jika tidak ditiadakan. Sebab diyakini sebagai penetralisir wabah penyakit segera berlalu dan puluhan pemuda tetap berias yang menyerupai wong samar mengeliling desa setempat.

Bendesa Pakraman Tegallalang, I Made Jaya Kesuma menyampaikan, tradisi ngerebeg kali ini pesertanya dibatasi. Dimana masing-masing banjar hanya ikut sekitar 55 orang.

“Upacara berjalan seperti biasa, karena kami tidak berani meniadakan tradisi ini. Namun bedanya prosesi tetap menggunakan protokol kesehatan dan upacara piodalan hanya berlangsung sehari saja,” jelasnya.

Pelaksanaan ngerebeg tersebut dilakukan oleh anak-anak sampai orang dewasa di desa setempat. Tujuannya untuk nyanggra pujawali yang akan berlangsung di Pura Duur Bingin, lantaran pandemi sehingga langsung dilaksanakan pada hari piodalan berlangsung.

Biasanya ngerebeg ini dilakukan sehari sebelum piodalan di pura tersebut. Prosesi berawal diselenggarakannya pecaruan di areal pura. Setelah itu baru prosesi ngerebeg berlangsung yang menyerupai rencangan pura dan diyakini berupa wong samar mengelilingi desa dan melintasi panngkung (jalur sungai).

“Sementara untuk prosesi ngerebeg sekarang ini kami bertujuan untuk memohon agar alam kembali normal seperti sedia kala. Dan bebas dari wabah penyakit, khususnya pandemi covid-19,” harapnya.

Dijelaskan juga bagi krama yang tidak ke pura atau disebut dengan nyawang agar sembahyang dari pemerajan masing-masing. Selain untuk tetap menerapkan protokol kesehatan, dibatasinya warga yang ke pura karena piodalan hanya berlangsung sehari saja.

“Untuk tirta yang ditunas di pura sudah dibagikan oleh juru arah ke masing-masing rumah warga,” imbuh Jaya Kesuma.

Sebelum pandemi mewabah, tradisi ngerebeg itu biasanya jumlah yang ikut mencapai ratusan orang. Karena bukan saja yang dari daerah Desa Tegallalang saja yang ikut, tapi ada juga yang ngayah ngerebeg dari desa tetangga. Tradisi itu pun biasanya berlangsung hanya tiga sampai empat jam saja. Dimulai dari pukul 12.00 hingga pukul 15.00 dengan mengelilingi desa.

Dijelaskan saat ngerebeg pemuda berhias nampaknya wong samar. Membawa sebuah penjor dari pohon enau dihiasi juga dengan bunga dan janur. Penjor tersebut diungkapkan sebagai bebaktan (yang dibawa) rencangan di pura tersebut saat jalan-jalan.

Salah satu peserta ngerebeg, I Gede Pasek Manik Pradana mengaku sudah ikut tradisi tersebut sejak ia masih SD. Setiap ngerebeg ia selalu ikuti tanpa pernah absen.

“Dari SD sudah ikut, dan ngerebeg ini simbol dari rencangan Pura Duur Bingin. Salah satu yang disukai konon sangat menyukai anak-anak. Maka saat anak-anak sudah berkumpul di pura akan ngerebeg semua merasakan kegembiraan dan sorak-sorak dengan keras,” tandas pemuda asal Banjar Penusuan, Tegallalang tersebut.

PENULIS : Ketut Catur

EDITOR : Oka Suryawan