Ketua Komisi IV DPRD Buleleng, Luh Hesti Ranitasari saat melakukan kunjungan di Puskesmas Kubutambahan II di Banjar Tangkid, Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan.
sewa motor matic murah dibali

KUBUTAMBAHAN, balipuspanews.com –Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kubutambahan II di Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, diusulkan naik status menjadi Puskesmas Rawat Inap pada tahun 2020 mendatang.

Rencana usulan peningkatan status Puskesmas memiliki jangkauan wilayah kerja di delapan (8) desa, yakni desa Tambakan, Tajun, Mengening, Bulian, Bila, Tunjung, Bontihing, Pakisan, dan desa Tamblang, diungkapkan Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Buleleng, Luh Hesti Ranitasari, ditemui di ruang kerjanya, Selasa (5/11).

“Kita (Komisi IV DPRD Buleleng) usulkan Puskesmas Kubutambahan II naik status jadi Puskesmas rawat inap. Tentu hal ini sebagai upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” kata Luh Hesti Ranitasari.

Srikandi Partai Demokrat akrab disapa Rani mengaku, pihaknya sudah melakukan kordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buleleng terkait usulan tersebut.

“Kabar kami terima cukup menggembirakan, rencana usulan Puskesmas Kubutambahan II di desa Tamblang naik status jadi Rawat Inap bakal segera terealisasi di tahun 2020 mendatang,” terangnya.

Terpisah, Sekretaris Dinas (Sekdis) Kesehatan Buleleng, Nyoman Suasta Giri membenarkan jika pihaknya telah mengajukan usulan peningkatan status Puskesmas Kubutambahan II menjadi Puskesmas Rawat Inap.

Sekdis Suasta menyebut, selain Puskesmas Kubutambahan II di desa Tamblang, ada dua Puskesmas lainnya yang diusulkan naik status menjadi Rawat Inap.

“Tiga Puskesmas yang kami usulkan ke Dinas Kesehatan Provinsi Bali naik status Rawat Inap, yakni Puskesmas Sukasada II, Puskesmas Kubutambahan II dan satunya lagi Puskesmas Seririt III,” ungkap Sekdis Suasta dikonfirmasi melalui telepon seluler, Selasa (5/11) malam.

Menurut Sekdis Suasta, Puskesmas dapat berfungsi sebagai Puskesmas Rawat Inap tentu gedungnya harus representaif dan harus dilengkapi dengan ruang kamar berikut dengan alat-alat kesehatan.

“Biayanya bersumber dari BKK Provinsi Bali, per Puskesmas itu digelontor Rp 5 miliar. Ya, pembangunan gedung baru, termasuk pengadaan alkes (alat kesehatan). Astungkara terealisasi di anggaran induk 2020,” imbuhnya.

Sementara, Kepala Puskesmas Kubutambahan II, dr Asty Sanitha Dewi mengatakan, kondisi beberapa ruangan di Puskesmas Kubutambahan II sudah mulai mengalami kerusakan. Utamanya, ruangan Poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Keluarga Berencana (KB).

“Plafon atap di poli KIA dan KB cukup mengkhawatirkan, bahkan mengancam keselamatan. Plafonnya sudah retak-retak, kami takutkan plafon itu jebol, kemudian jatuh menimpa pasien yang sedang konsultasi atau berobat. Jika hanya diperbaiki, rasanya tidak bisa. Ya, mesti dibangun baru, namun dana tak mencukupi karena anggaran kami miliki sebatas pemeliharaan saja, dan bukan pembangunan ruangan baru,” terangnya.

Disinggung soal rencana Puskesmas Kubutambahan II diusulkan naik status jadi Rawat Inap, dr Asty mengaku belum menerima informasi tersebut.

Meski begitu, dr Asty menjelaskan jika Puskesmas Kubutambahan II naik status jadi Rawat Inap nantinya persoalan muncul adalah perlunya tambahan tenaga kesehatan.

“Pelayanan kesehatan wilayah kerja kami sebanyak 8 desa. Jika Puskesmas naik status, sudah pasti butuh penambahan tenaga kesehan untuk memaksimalkan dan menghasilkan pelayanan kesehatan bermutu kepada masyarakat,” tutupnya.