Putu Yoga Paramerta dan Yang Muda Yang Berorganik

I Putu Yoga Paramerta
I Putu Yoga Paramerta

TABANAN, balipuspanews.com – Lumbung beras. Demikianlah julukan yang disandang Kabupaten Tabanan. Julukan ini dikarenakan memang lahan-lahan di Tabanan sangat subur dan masih cukup luas. Meskipun tidak bisa dipungkiri alih fungsi lahan juga marak terjadi.

Ditengah gempuran alih fungsi lahan tersebut serta minimnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian, ternyata Tabanan masih menyisakan segelintir generasi mudanya yang peduli dengan aktifitas berbaur lumpur tersebut. Satu diantaranya I Putu Yoga Paramerta.

Ditemui dikediamannya Senin (19/10), sosok muda kelahiran Desa Pemanis, Kecamatan Penebel, Tabanan, 16 November 1991 ini mengatakan dirinya tergabung dalam Gapoktan Sari Rahayu di desa kelahirannya. Melalui gapoktan ini, Yoga Paramerta mengambil peran untuk mengajak petani melakukan sistem pertanian organik.

Terhadap perannya tersebut, sejak empat tahun lalu ia bersama empat tenaga kerja lokal memproduksi pupuk organik. Adapun bahan bakunya dengan memanfaatkan kotoran sapi milik anggota gapoktan setempat yang berjumlah 8 orang dengan 10 ekor sapi.

Diluar dari kotoran sapi anggota gapoktan setempat, bahan baku kotoran sapi ini juga didapat dari membeli dengan sistem borongan disekitarnya.

“Setiap tiga hari sekali kami membeli kotoran sapi sebanyak satu mobil pickup dari peternak disekitar Desa Biaung dan Senganan,” ungkapnya.

Kotoran-kotoran sapi tersebut kemudian diolahnya di lahan seluas 8 are. Adapun proses hingga pupuk organik siap kemas memakan waktu selama 21 hari.

Ia menyebutkan dalam setiap bulannya mampu memproduksi pupuk organik sebanyak 20 ton. Pupuk organik produksinya ini kemudian dikemas dalam dua ukuran. Yakni ukuran 10 dan 25 kilogram dengan harga jual perkilogramnya.

Ditambahkannya, untuk pemasarannya selain diseputaran Penebel dan Tabanan juga melayani pelanggan dari luar Tabanan. Seperti Gianyar, Buleleng, Kintamani, dan Karangasem.

Yoga Paramerta yang juga pengajar mata pelajaran prakarya di SMP 8 Denpasar ini kemudian mengatakan, ada tujuan besar dibalik kegigihannya mengolah kotoran sapi ini. Yakni sebagai bentuk kepedulian serta kecintaannya terhadap kelestarian dunia pertanian. Selain juga untuk memberi contoh kepada para peternak sapi untuk mau memanfaatkan kotoran sapi dalam mengembalikan kesuburan tanah akibat lamanya terkontaminasi dengan unsur-unsur kimia.

“Saya bermimpi para petani di Bali pada akhirnya secara serentak mau bertani dengan sistem organik,” tutupnya.

Penulis : Ngurah Arthadana

Editor : Oka Suryawan