Putu Yunita Angreswari, S.I.Kom., M.I.Kom
Putu Yunita Angreswari, S.I.Kom., M.I.Kom
sewa motor matic murah dibali

DENPASAR SELATAN,balipuspanews.com-
Setiap orang memiliki cita-cita sejak kecil. Namun, setelah dewasa sebagian besar orang cenderung menekuni profesi di luar apa yang ia inginkan. Alasan berubah haluan pun beragam. Mulai dari sikap yang labil, lingkungan hingga intervensi orang terdekat.

Dara asal Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, tiada lain Putu Yunita Angreswari, S.I.Kom., M.I.Kom, kini merupakan dosen termuda di kampus Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar. Bagaimana tidak, dirinya menjadi dosen di Undiknas sejak tahun 2016, saat usianya waktu itu 23 tahun.

“Jadi dosen merupakan cita-cita saya sejak kecil, karena jadi dosen itu bisa berpakain bebas dan rapi, selain bisa bicara didepan umum,” ungkap perempuan yang kerap disapa Tata, Rabu (22/5), ketika ditemui di kampus Undiknas Denpasar.

Berbekal pendidikan yang mumpuni, dengan gelar pendidikan
S1 ditempuh di Undiknas sendiri, dan gelar S2 atau Magisternya ditempuh di Universitas Airlangga, Surabaya, itu menjadi bekal dan syarat yang cukup untuk menjadi seorang dosen, terlebih di Universitas swasta terkemuka di Denpasar.

Tata berawal mempunyai basic seorang MC, penyiar radio, dan presenter, merupakan bekal baginya untuk berhadapan dengan banyak orang di kampus, khususnya dengan mahasiswa. “Berbicara di depan umum sudah hobby, kemudian di implementasikan menjadi dosen, meskipun sering dikira mahasiswa karena wajah masih muda, bahkan ada mahasiswa yang usianya lebih tua,” sebutnya polos.

Sebagai seorang dosen, tentu tak asing lagi dengan istilah Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang terdiri dari Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian.
Akhirnya Tata kepincut di bidang penelitian. Dipandang Tata penelitaian itu lebih menantang. Dan dari sejak awal dirinya memang fokus bidang penelitian.

“Awal digandeng sama dosen senior, sekarang sudah mampu mandiri, bahkan sudah bekerjasama dengan Pemda Badung, menggarap penelitian dibidang Indek Pembangunan Gender (IPG). Kerjasama dengan Pemda Badung ini merupakan kali kedua,” ungkapnya.

Dengan intelektual, pengalaman dan wawasan yang dimiliki, Tata dipercaya untuk mengemban jabatan di Lembaga Penelitaian dan pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) sebagai Head of Student Research yang bertugas untuk menjembatani penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa.

Sebagai seorang peneliti, hingga kini dirinya sudah mampu menghasilkan empat jurnal penelitian. Dua jurnal Nasional dan dua Internasional.

Tak berpuas dengan pendidikannya sampai diMagister, Tata juga merencakan untuk melanjutkan pendidikan Doktornya di Universitas Airlangga, ditempat menempuh kuliah S2 dulu.

Dengan kesibukannya sehari-hari menjadi dosen, tentu lebih banyak menghabiskan waktunya di kampus dibandingkan di rumah. “Dukungan dari keluarga sangat mendukung, karena ini merupaka resiko dan konsekuensi sebagai seorang dosen dan dituntut pula pendidikan sebagai seorang tenaga pendidik di perguruan tinggi,” tuturnya.

Sebagai perempuan Hindu yang sudah berkeluarga, tentu banyak pula kegiatan di Desa untuk menyama braya di tengah kariernya yang semakin menanjak di usianya yang masih muda. “Syukur sebagai tenaga dosen itu fleksibel, selama ini bisa berjalan antara pekerjaan dan karier, dan tidak ada yang mengganggu,” pungkasnya.
(Bud/bpn/tim).

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here