Tokoh masyarakat menerima Dewan Pimpinan Wilayah Provinsi Bali Indonesia Bersatu 3 Pilar, I Putu Eka Budiasa sebagai tindaklanjut kunjungan staf khusus Presiden Jokowi, Lenis Kogoya yang mewacanakan desa percontohan desa wisata adat Pesaban, Karangasem pada hari Sabtu (2/2/2019).
Tokoh masyarakat menerima Dewan Pimpinan Wilayah Provinsi Bali Indonesia Bersatu 3 Pilar, I Putu Eka Budiasa sebagai tindaklanjut kunjungan staf khusus Presiden Jokowi, Lenis Kogoya yang mewacanakan desa percontohan desa wisata adat Pesaban, Karangasem pada hari Sabtu (2/2/2019).
sewa motor matic murah dibali

KARANGASEM, balipuspanews.com – Lantaran mata air banyak yang terbelangkalai serta tercemar sampah, serta mengkonservasi keberadaan rilief yang ditulis diatas batu berumur 30 ribu tahun yang lalu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesaban Bercahaya akan merancang live museum mata air dan rilief jaman batu.

“Kami sedang merancang live museum sebagai misi sosial konservasi mata air dan rilief jaman batu diharap mampu menjadi motor penggerak pariwisata Desa Adat Pesaban yang berkarakter berbasis masyarakat berlandaskan Tri Hita Karana sesuai Visi dari Pokdarwis,” Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesaban Bercaya, I Putu Artayasa saat menerima I Putu Budiasa, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Provinsi Bali Indonesia Bersatu 3 Pilar, I Putu Eka Budiasa sebagai tindaklanjut kunjungan staf khusus Presiden Jokowi, Lenis Kogoya yang mewacanakan desa percontohan desa wisata adat Pesaban, Karangasem pada hari Sabtu (2/2/2019).

Lebih jauh, dalam pertemuan di Wantilan Pura Puseh dan dihadiri oleh Kepala Desa Pesaban, Dewa Sarjana dan Bendesa Adat Pesaban, I Made Sudiarta pada hari Minggu (11/8/2019), Artayasa menjelaskan alasan perancangan living museum tersebut lantaran konsep yang bertumpu pada nilai nilai kebudayaan dan leluhur serta sejarah yang bisa dijadikan narasi.

“Live museum ini sangat penting dibangun selain sebagai langkah pelestarian warisan leluhur juga sebagai bagian untuk pendidikan dalam bidang mata air serta benda bersejarah seperti rilief yang ditulis pada jaman batu,” jelasnya.

Sedangkan keberadaan mata air di Pesaban juga memiliki nilai sejarah dan budaya karena mata air secara turun temurun sejak dahulu kala untuk kegiatan ritual mulai dari memandikan jenazah, upacara ngaben serta untuk kegiatan menyucikan pretima.

“Sampai saat ini, ada sekitar 16 mata air kondisinya hampir 80 persen tidak terpelihara dengan baik, untuk itu sangat perlu untuk dikonservasi atau dilestarikan keberadaannya,seperti misalnya keberadaan mata air pangkung atau nila paksi. Mata air yang sebelumnya beradab abad tercemar dari kepungan sampah ini merupakan mata air sakral untuk memandikan jenazah hal ini yang mendasari kami merancang living museum, ” kata pria yang juga Pemimpin Redaksi Media Online balipuspanews.com.

Adapun sejumlah mata air yang dimiliki yakni mata air pangkung atau nila paksi, mata air bendul, mata air dalem sucu, Mata air camplung, mata air dagdag, mata air lompod, mata air rijasa, mata air sri, mata air sudamala, mata air pucak sari, mata air dukuh, mata air Kuing, mata air mampeh, mata air mati, mata air poh dua, mata air rijasa serta mata air lainnya yang masih belum teridentifikasi.

Kedepannya, dengan adanya living museum ini mata air sebagai sumber kehidupan bisa lestari keberadaannya, bahkan ditata dengan baik sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan upacara agama maupun untuk kegiatan yang berguna lainnya. (art/bpn/tim)

1 Komentar

Comments are closed.