Perbekel Desa Mengening, Ketut Angga Wirayuda, menunjukkan pohon cengkih mati diserang jamur akar putih di lahan milik Gede Sumardana.
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com — Sejumlah petani cengkih di Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, mengeluh karena banyaknya pohon cengkih yang mati akibat terserang hama jamur akar putih (JAP). Kondisi ini sudah terjadi sejak 8 tahun terakhir.

Tak pelak, sejumlah petani merugi lantaran hasil produksi cengkih menurun drastis setiap tahunnya. Mereka berharap, agar pemerintah bisa mencarikan solusi terkait kondisi ini.

Menurut penuturan sejumlah petani cengkeh di Desa Mengening, hingga saat ini sudah ada sekitar ratusan pohon cengkeh yang mati akibat terserang hama jamur akar putih, dengan ciri-ciri batang pohon dan daun mengering. Bahkan sejumlah petani pun mengaku, tidak bisa berbuat apa.

 

Mengingat, penyebaran hama ini sudah merembet ke pohon-pohon cengkih lainnya.

“Sudah banyak pohon kena. Kami sudah berusaha tanggulangi, tapi ada sebagian pohon yang sulit pulih kembali,” ungkap Ketut Mandiarsa (33) petani penggarap di Banjar Dinas Tegal, Senin (15/10).

Sementara, Perbekel Desa Mengening, Ketut Angga Wirayuda, ketika ditemui tidak menampik kondosi itu.

 

Kata dia, pihaknya sesungguhnya sudah menaggulangi penyebaran hama JAP itu bersama Dinas Pertanian (Distan) Buleleng. Hanya saja, untuk pemberantasan hama ini harus dilakukan secara serentak.

“Kami frustasi, banyak obat dicoba tapi belum ada hasil. Itu menjadi keresahan dari kami, karena cengkeh adalah andalan di desa kami,” terangnya.

Menurutnya, hingga kini tercatat sudah ada sekitar ratusan pohon yang mati akibat terserang hama tersebut, dan berdampak pada menurunnya penghasilan para petani cengkih. Misalnya, dari luas lahan 50 are kebun cengkih terjadi penurunan hasil produksi cengkih sekitar 80 kilogram.

“Biasanya 1 pohon menghasilkan 20 kilogram cengkih kering. Tapi kalau 1 lahan kena hama, pasti merembet. Kebanyakan yang diserang pohon usia tua sekitar 30 tahun. Ini sudah terjadi 8 tahun, terparah pada tahun 2017 dan 2018 ini. Kalau dulu, 1 hektare yang kena 1 pohon, sekarang sudah banyak,” ungkapnya.

Perbekel Wirayuda pun berharap, agar Distan Buleleng bisa menyikapi hal ini secara serius. Meski sebelumnya, dari pihak Distan Buleleng sudah turun menyikapi kondisi ini. Sebab, Buleleng dikenal sebagai penghasil produksi cengkih dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

“Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait, bahkan mereka sudah turun ke lokasi meninjau. Kami sudah obati sama-sama, dari pengobatan itu ada sudah pulih, ada yang malah mati. Biasanya kalau pohon yang sudah mati, kami tebang agar tidak merembet. Kami berharap, agar persoalan hama ini bisa tertanggulangi,” tandasnya.

Advertisement

Tinggalkan Komentar...