Wayan Sudiksa alias Ogoh (baju kaos putih bertopi).

SAWAN, balipuspanews.com — Penyebab bentrok berdarah di SPBU Giri Emas, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, pada Jumat (28/2) malam, akhirnya mulai terkuak. Perkelahian antar dua kelompok pemuda desa Giri Emas, Kecamatan Sawan dan desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, berujung penusukan diduga lantaran rebutan cewek cafe.

 

Wayan Sudiksa (31) alias Ogoh warga Banjar Dangin Yeh, Desa Giri Emas menuturkan, kronologi bentrok itu bermula dari cekcok mulut antara dirinya dengan  lima (5) orang tak dikenal yang mendatangi rumah kost pacarnya berinisial Ang yang sehari-hari berprofesi sebagai waitress di salah satu tempat hiburan malam di kawasan terminal Penarukan, Kelurahan Penarukan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, pada Jumat (28/2) sekitar pukul 19.00 WITA.

 

“Satu diantara 5 orang pria tak dikenal menggedor pintu kost. Pacar saya kost di Jalan Kabaena, persis di depan terminal Penarukan,” kata Ogoh, Sabtu (29/2).

 

Tak hanya menggedor pintu, mereka pun berteriak memanggil nama Ang secara berulang-ulang hingga keduanya memutuskan keluar kamar kost menemui 5 orang pria tersebut.

 

Ketika berhadapan dengan kelompok pemuda berjumlah 5 orang belakangan diketahui 3 diantaranya (I Gede Arca, Komang Pujayasa dan Gede Adi Darmawan) merupakan warga Banjar Kanginan, Desa Bila itu, Ang dan Ogoh langsung dicerca sejumlah pertanyaan.

 

“Salah satu pria diantara mereka bertanya, cen kabakne Ang? (Mana pacarnya Ang). Lantas saya jawab, saya pacarnya Ang. Namun, orang yang bertanya itu malah menunjuk dan memberitahu jika pacarnya Ang adalah bukan Ogoh, melainkan  temannya,” terangnya.

 

Merasa ada yang tak beres, Ang mengajak Ogoh masuk ke kamar kost. Ditinggal begitu saja, kontan membuat 5 tamu tak diundang geram. Satu diantara 5 orang itu kembali menggedor pintu kamar kost, sebelum Ang meneriakkan ancaman akan melaporkan kepada tuan rumah pemilik rumah kost. Tak pelak, kelima orang itupun langsung lari tunggang langgang.

 

“Sebelum pergi, mereka sempat  menggedor pintu kost sambil melontarkan tantangan bunyinya, jelema Giri Emas sing ade ape, ene uli Sangsit adine Rauh (manusia Giri Emas nggak ada apanya, ini dari desa Sangsit adiknya Rauh). Ya, mereka ada yang mengaku adiknya Rauh. Saya ditahan didalam kamar oleh pacar, sebelum mereka pergi setelah diancam akan dilaporkan kepada tuan rumah kost,” ungkapnya.

 

Perkara rupanya tak berhenti sampai disana, Ang kembali menerima sms bernada tantangan di HP miliknya, sebelum Ogoh akhirnya meminta kepada pacarnya Ang untuk meladeni tantangan duel.

 

“Isi sms itu berbunyi, ne aget ane cerik-cerik ajak mai, ene konden ane gede-gede (ini syukur masih orang yang kecil-kecil diajak ke kost, belum orang yang besar-besar). Dalam benak saya berpikir, ini sudah mencampakkan harga diri. Saya minta ke pacar untuk sms balik menerima tantangan duel,” imbuhnya.

 

Tak berselang lama, Ogoh pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya di Banjar Dangin Yeh, Giri Emas.

 

“Sampai di rumah baru liat HP, ternyata lagi ada sms berbunyi, men engken bani? (Terus bagaimana, kamu berani). Kemudian langsung saya sms balik, nah ije, ije ne. Lalu dijawab oleh mereka, katanya mereka di Sangsit. Kemudian langsung saya telepon dan mereka sudah menunggu di SPBU Giri Emas. Saya kurang tahu apakah mereka menunggangi motor atau memakai mobil,” tuturnya.

 

Sejurus kemudian, Ogah pun bergegas menuju ke SPBU Giri Emas meladeni tantangan.

 

“Maksud saya datang ke mereka baik-baik, malah langsung dijotos berulangkali hingga dahi benjol dan kelopak mata memar. Kadus Mertadana yang berusaha melerai malah ikut kena jotos, sebelum mereka dikejar oleh sejumlah warga yang tak terima karena Kadus dipukul. Soal penusukan tidak tahu karena saya mengejar 2 orang yang lari ke arah barat. Sedangkan satunya (korban Arca) lari ke arah timur,” sebut Ogoh.

 

Sementara, Gede Jaya asal Banjar Rendetin, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan mengaku sempat menerima sms dari korban Arca, sebelum terjadi bentrok berdarah. Jaya merupakan rekan akrab korban di arena tajen (sabung ayam) berusaha menasehati korban agar tidak memperpanjang masalah lantaran hari itu rainan Penampahan Hari Raya Kuningan.

 

“Isi smsnya, cang uyut di Penarukan (saya ribut di Penarukan). Sudah dinasehati agar tidak melanjutkan permasalahan apalagi rainan Penampahan Kuningan. Saya bergegas meluncur ke Penarukan, ternyata sampai di Giri Emas sudah mejaguran (berkelahi),” singkatnya.

 

Terpisah, Kasubbag Humas RSUD Buleleng, Ketut Budiantara saat dihubungi melalui telepon seluler pada Sabtu (29/2) menerangkan, pasien Arca masih dalam perawatan paska menjalani operasi.

 

Hasil pemeriksaan diketahui, pasien Arca mengalami luka pada tangan kiri dan perut dengan kedalaman kurang lebih 30 centimeter.

 

“Kondisi pasien terkini, masih dirawat secara intensif. Kesadaran pasien apatis, masih memakai ventilator. Tensi, nadi dan suhu stabil,” jelasnya.