Singaraja, balipuspanews.com — Badan Penanggulangan Bencana Alam Daerah (BPBD) Buleleng, kembali mengajukan proposal permohonan rehabilitasi dan rekontruksi bencana alam di tahun 2017, senilai Rp 74 Miliar, kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Sebelumnya, BPBD Buleleng sudah menerima dana hibah senilai Rp 15 miliar dari pemerintah pusat. Hibah tersebut digelontorkan setelah Pemkab Buleleng mengajukan bantuan rehabilitasi serta rekonstruksi pasca bencana akibat banjir bandang menerjang tiga desa, yakni Desa Banyupoh, Desa Penyabangan, Desa Musi, Kecamatan Gerokgak pada 2016 lalu.
Data dihimpun, dari hibah senilai Rp 15 Miliar digelontorkan BPBD Buleleng untuk rehab dan rekontruksi di tiga desa itu, kini dana tersebut tersisa Rp 4 Miliar.
Sekretaris BPBD Buleleng, Ketut Susila
menjelaskan, pihaknya kembali mengajukan proposal permohonan kepada BNPB, senilai Rp 74 Miliar, untuk program rehabilitasi dan rekontruksi bencana alam di tahun 2017 lalu.
Menurutnya, permohonan bantuan dana rehab dan rekontruksi itupun tinggal menunggu survey berdasarkan proposal yang disodorkan pihak BPBD Buleleng.
Namun begitu, nasib usulan bantuan dana rehabilitasi dan rekontruksi tahun 2017, bergantung pada pemanfaatan dana hibah tahun 2016 yang sudah dicairkan.
“Artinya begini, kita kan sudah terima dana hibah dari pusat Rp 15 miliar, untuk penanganan pasca bencana di tahun 2016 di Gerokgak. Setelah ditenderkan, dana itu (hibah) saat ini tersisa Rp 4 miliar. Sisa dana ini kami konsultasikan lagi ke pusat. Petunjuk pusat, sisa dana itu agar dimanfaatkan lagi untuk penanganan pasca bencana tiga desa di Gerokgak. Nah, jika penanganan pasca bencana di Gerokgak dianggap bagus, maka pusat akan memberikan lagi dana rehab dan rekontruksi bencana tahun 2017 senilai Rp 74 miliar, sesuai dengan proposal yang kita mohon,” ungkap Sekdis Susila, Kamis (6/9).
Sekdis Susila menambahkan, bantuan penanganan bencana diajukan senilai Rp 74 miliar ke pusat itu, nantinya akan dialokasikan untuk rehabilitasi dan rekrontruksi kerusakan fisik, seperti saluran irigasi subak, juga perbaikan jembatan di Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan.
“Perkiraan kami, perbaikan jembatan Bungkulan menelan anggaran sekitar Rp 4 miliar, termasuk jembatan penghubung Bebetin-Pakisan diprediksi menelan biaya perbaikan Rp 1,5 miliar, belum lagi untuk kerusakan saluran irigasi dan bendung,” jelasnya.



