sewa motor matic murah dibali

DENPASAR UTARA, balipuspanews.com- Praktisi pendidikan yang juga Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Bali Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum., angkat bicara terkait peristiwa miris seorang siswa SMP yang menantang gurunya berkelahi di Gresik, Jawa Timur.

Menurut Suarta, peristiwa yang mencoreng dunia pendidikan Tanah Air itu bisa terjadi di mana saja, termasuk di Bali. Karenanya, para pendidik harus memiliki wibawa atau taksu.

Suarta mengatakan, untuk menjadi guru yang mataksu tidaklah sulit. “Tinggal implementasikan konsep Tri Kaya Parisudha (pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik) dipadukan dengan penguasaan materi, terus belajar. Maka jadilah pendidik yang mataksu, kemudian otomatis disegani,” ujar Suarta di Denpasar.

Guru, lanjut Suarta, harus berhasil menjadi sosok publik figur yang baik atau berperilaku sesuai dengan apa yang diucapkan. Berdasarkan pengalamannya, inkonsistensi guru terhadap waktu adalah ihwal pudarnya taksu yang menyebabkan peserta didik mulai tidak segan, ditambah cara mengajar yang monoton, terlalu bertumpu pada materi pelajaran, padahal yang mesti diutamakan adalah pendidikan karakter.

Dalam hal menangani siswa brutal usia SMP dan SMA, lanjut dia, diperlukan pendekatan persuasif. Jika guru membalas dengan kekerasan, maka perkelahian tak terelakkan. Pasalnya, siswa seusia itu sedang labil yang belum mengerti risiko dari perbuatannya. “Pengalaman saya, jika siswa usia SMP dan SMA itu berani melawan guru, adalah kebanggaan. Apa lagi ditonton teman-temannya. Ada kesan dia hebat,” ujarnya.

Di samping itu, koordinasi pendidik dengan orang tua siswa harus ditingkatkan. Sebab, peserta didik yang brutal lahir dari keluarga yang bermasalah. Kecanggihan teknologi komunikasi mestinya mampu dimaksimalkan seperti membuat grup WhatsApp agar pendidik dan orang tua lebih mudah mengawasi anak-anak mereka.

Selaku pemimpin institusi pencetak calon guru, rektor yang juga ‘pragina’ arja ini mengaku memiliki tanggung jawab moral terhadap kualitas guru yang dihasilkan. Sehingga di IKIP PGRI Bali, pendidikan karakter tak bisa ditawar lagi.

Lebih lanjut, ia berharap pemerintah lebih serius lagi memberikan jaminan guru dalam menjalankan profesinya. Dia meyakini tidak ada guru yang sengaja menyakiti peserta didik yang notabene anak keduanya. “Hubungan guru dengan peserta didik itu sama saja dengan anak dan orang tua di rumah. Tidak ada alasan oran tua melaporkan guru ke polisi selama tindakan guru itu wajar dan bisa dimaklumi,” tandasnya dia.(bud/bpn/tim)

Tinggalkan Komentar...