Singaraja, balipuspanews.com – KPU Buleleng menggelar evaluasi pelaksanaan pilkada yang juga dikemas dengan acara Pemberian Penghargaan Kepada Penyelenggara Adhoc diselenggarakan di Hotel Melka, Lovina, Jumat (28/4).
Rendahnya partisipasi pemilih masih menjadi perbincangan hangat, bahkan menjadi sorotan sejumlah pengamat politik.
Persoalan itu pun nantinya akan dijadikan salah satu pertimbangan dan harus diantisipasi oleh penyelenggara pemilihan, khusunya pada Pilgub Bali.
Penyelenggara pemilihan diminta lebih gencar dalam melakukan sosialisasi, dan tentunya bersifat lebih inovatif.
Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Prof. Dr. Sukadi, M.Pd., M.Ed dalam evaluasi pelaksanaan pilkada yang diselenggarakan KPU Buleleng di Hotel Melka, Lovina, Jumat (28/4).
Pada acara yang juga dihadiri KPU Bali dan kabupaten lain ini, Sukadi menjelaskan pada Pilkada lalu, tercatat dari 583.381 orang penduduk yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT), 45,13 persen memilih golput. Berdasarkan hasil penelitiannya, itu disebabkan beberapa faktor.
Mulai dari calon pemilih yang memiliki mobilitas tinggi, dalam artian secara de facto sebagai warga Buleleng, namun secara de jure tinggal di daerah lain atau merantau. Selain itu, juga akibat tempat pemilihan yang jauh dari tempat tinggalnya maupun calon yang bertarung belum sepenuhnya sesuai dengan keinginannya.
“Kedua calon yang bertarung, awalnya kan dari partai yang sama. Hanya saat maju saja pisah. Ini juga mempengaruhi warga untuk tidak memberikan suara,” jelasnya.
Pelaksanaan pemilu tidak berhenti tahun ini. Tahun depan hal serupa juga kembali bergulir, berupa pilgub. menggenjot partisipasi pemilih, perlu ada langkah-langkah yang lebih inovatif dari penyelenggara, khususnya dalam sosialisasi.
Caranya tak hanya melalui pertemuan dan mementaskan kesenian. Namun, juga perlu dilakukan secara blusukan. Demikian juga dengan pelaksanaan kampanyenya.
“Kedepan perlu ada reward, itu untuk memancing warga supaya mau datang dan memilih. Namun, dananya ya, dari KPU,” ucapnya.
Menghadapi pesta demokrasi ini, dipaparkan Sukadi data pemilih juga masih sering menjadi persoalan. Sejumlah warga yang sudah memiliki hal, justru masih tercecer. Hal itu pun dirasa sangat perlu mendapat perhatian sejak dini, salah satunya dengan menjalin kerja sama yang baik antara KPU dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
“Pendataan penduduk harus dilakukan dari sekarang supaya nantinya akurat,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua KPU Buleleng, Gede Suardana mengatakan bahwa dari hasil penelitian tersebut nantinya bakal menjadi masukan penting untuk pemerintah, partai politik maupun penyelenggara pemilu untuk diformulasikan pada pilkada selanjutnya.
“Masukan ini sangat penting. Tetapi patut juga disyukuri pemilih Buleleng cukup tinggi, bahkan sangat tinggi jika dibandingkan yang lain,” katanya.



