Anggota DPR RI Gde Sumarjaya Linggih saat memberikan sambutan kegiatan Metatah massal digelar Yayasan Sri Aji Sakya Muni di Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja.
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

SINGARAJA, balipuspanews.com — Sebanyak 82 Kepala Keluarga (KK) mengikuti rangkaian metatah massal dan digelar Yayasan Sri Aji Sakya Muni Singaraja, di Gedung Kesenian Gde Manik, pada Minggu (7/4) pagi. Tak hanya metatah massal, pada saat itu sekaligus dilaksanakan pawintenan Saraswati dan Pemangku.

Jero Gede Komang Sujana selaku Ketua Panitia mengataka, rangkaian metatah massal sejatinya berlangsung sejak Sabtu (6/4) kemarin. Peserta metatah massal mengikuti prosesi ngekeb, dimana peserta tidak boleh keluar dari areal metatah massal, sebelum puncak acara dilangsungkan Minggu (7/4) pagi.

Jero Sujana menyebut, kegiatan baru pertama kali digelar itu, diikuti sebanyak 82 peserta dan dipuput oleh Ida Bhagawan Agra Segening dari Griya Sanggulan, Tabanan. Peserta sebagian besar berasal dari Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.

Suksesnya acara tidak lepas dari dukungan semua pihak, khususnya Gde Sumarjaya Linggih selaku Anggota DPR RI Dapil Bali.

“Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak, khususnya kepada Gde Sumarjaya Linggih telah bersedia memfasilitasi hingga kegiatan metatah massal ini bisa terlaksana,” ujar Jero Sujana saat memberi sambutan, Minggu (7/4).

Imbuh Jero Sujana, metatah massal merupakan upaya meringankan beban umat Hindu tanpa mengurangi makna metatah. Makna dan tujuan Metatah massal dilakukan untuk membantu orangtua menjalankan kewajiban kepada anaknya agar bisa Metatah. Plus mempermudah tahapan prosesinya.

Sebelum acara digelar, panitia telah mensosialisasikan Metatah massal ke banjar-banjar di wilayah Kabupaten. Peserta bisa mengikuti Metatah massal dengan syarat perempuan yang sudah mengalami haid pertama kali. Sementara laki-laki sudah beranjak remaja dengan ditandai suara parau dan mandi basah.

“Sarana upacara berupa banten kami pastikan lengkap, sama seperti melakukan metatah mandiri. Bedanya, kalau dilaksanakan massal biayanya kan relatif kecil. Perbandingannya jauh, kalau metatah  mandiri bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 10 juta, namun metatah massal, peserta hanya dikenakan biaya Rp 100 ribu, lengkap dengan pawintenan saraswati. Begitu juga biaya prosesi pawintenan pemangku. Mereka (peserta pawintenan pemangku) langsung diberikan ilikita patra (piagam) kepemangkuan,” ungkapnya.

Sementara, Gde Sumarjaya Linggih saat di lokasi mengaku terharu akhirnya metatah massal se-Kabupaten Buleleng berjalan dengan baik. Sebab, dalam agama Hindu orangtua memiliki tiga tanggungjawab. Mulai dari upacara kelahiran, upacara metatah dan upacara pernikahan.

“Ini merupakan salah satu Swadarma (kewajiban) saya selaku wakil rakyat untuk memberikan pelayanan kepada seluruh umat Hindu di Bali,” kata Gde Sumarjaya Linggih.

Politisi Golkar akrab disapa Demer berjanji akan terus memperjuangkan hak masyarakat Bali serta melestarikan adat dan tradisi dengan rutin menggelar metatah massal setiap tahunnya.

“Kedepan acara seperti ini perlu dikembangkan lagi, misal dengan menggelar pabayuhan massal atau gedongan massal untuk ibu hamil. Saya akan terus perjuangkan agar kegiatan ini bisa rutin digelar setiap tahun,” tandasnya.

Advertisement
Loading...