Ringankan Biaya Pendidikan Saat Pandemi Covid, Mahasiswa Venus One Tourism Academy Bayar Kuliah dengan Buah Kelapa

Wayan Pasek Adiputra, penanggungjawab Venus One Tourism Academy
Wayan Pasek Adiputra, penanggungjawab Venus One Tourism Academy

GIANYAR, balipuspanews.com – Manajemen Venus One Tourism Academy Tegallalang, Gianyar, Bali punya kiat tersendiri menyiasati kesulitan ekonomi mahasiswanya membayar biaya kuliah dimasa pandemi Covid-19 ini.

Trobosan kampus yang berlokasi dibanjar Penusuan, Tegallalang itu adalah memaksimalkan kewirausahaan yang dirintis pihak kampus dengan mengandeng mahasiswa dalam penyediaan bahan baku. Hal itu tidak ditampik Penanggungjawab Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) Venus One Tourism Academy Wayan Pasek Adi Putra, yang dikonfirmasi balipuspanews.com, Sabtu (25/10/2020).

“Awalnya skema pembayaran uang kuliah dicicil tiga kali, pertama 50 persen, kedua 20 persen dan ketiga 30 persen. Karena pandemi Covid ini, kami memberikan kebijakan yang fleksibel. Karena kami memproduksi minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) siswa bisa membayar uang kuliah dengan membawa buah kelapa,” kata Pasek Adiputra.

Kebijakan tersebut kata Pasek, sudah berlangsung sejak bulan Maret 2020 sampai sekarang.

“Banyak mahasiswa yang membawa kelapa. Kita angkat kewirausahaannya. Kita ajarkan bagaimana mereka bisa aktif menghadapi pandemi ini. Selain bisa membayar dengan kelapa, mahasiswa juga bisa membayar dengan daun kelor dan daun pegagan. Kita olah daun kelor dan pegagan itu menjadi produk turunan. Dari kombinasi produk VCO dengan daun kelor dan daun pegagan menjadi produk sabun herbal,” kata Pasek.

Selain itu, lanjut Pasek, mahasiswa juga bisa menjadi reseller dari produk yang dijual pihak kampus. Ini secara tidak langsungkan menumbuhkan jiwa entrepreneurship.

“Kita edukasi mereka. Betapa pentingnya memahami potensi hayati disekitar kita. Nanti ketika pandemi ini berakhir, mahasiswa kita akan kembali ke dunia hospitality dengan kemasan yang berbeda. Bisa saja nanti mereka menemukan pelanggan baru dalam ketika menjadi reseller,” sebut Pasek.

Disinggung penerapan protokol kesehatan saat masa perkuliahan, Pasek mengaku kampus yang dipimpinnya sudah disupervisi oleh dinas ketenagakerjaan Gianyar.

“Dari hasil supervisi, kita bisa mengadakan tatap muka saat praktek. Hal ini tentu dengan prokes yang ketat. Karena kita lembaga vokasi, praktek adalah wajib. Tanpa itu, mereka akan sulit memiliki kompetensi keahlian. Untuk pelajaran teori, kita tetap terapkan secara daring,” kata Pasek memberi alasan.

Pun demikian, pihaknya menerapkan alur praktek pembelajaran yang ketat. Misalnya ada siswa yang berasal dari satu banjar yang ada warganya terpapar covid-19. Mereka tidak diijinkan mengikuti praktek, kendati mahasiswa tersebut bersama keluarganya tidak terpapar covid-19.

“Ketika mahasiswa mengalami batuk, demam, pilek dan mata merah, mereka tidak kami ijinkan mengikuti perkuliahan,” sebut Pasek.

Agar tidak menimbulkan kerumunan, pelajaran praktek, kata Pasek, dibagi dalam tiga shift. Masing- masing shift dengan jumlah yang terbatas.

“Kami juga menerapkan prokes 3 M yang ketat. Begitu datang di kampus, mahasiswa kita arahkan mencuci tangan di wastafel yang kita sediakan. Selanjutnya test suhu tubuh dengan thermometer, memakai masker dan menjaga jarak. Bahkan, alat yang selesai digunakan untuk praktek kita bersihkan dengan disinfektan,” ujar Pasek menegaskan.

PENULIS : Tim Liputan Covid

EDITOR : Oka Suryawan