Ritual
Ritual Ngadegang di Sampalan,Nusa Penida yang tetap eksis

NUSA PENIDA, balipuspanews.com -Ritual Ngadegang yang digelar setiap tahun sekali yang jatuh pada empat hari sebelum tilem kepitu pada Bulan Januari yang diselenggarakan oleh Banjar Sampalan, Desa Adat Dalem Setra Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, upacara ini diawali ritual melasti dengan pelawatan barong bangkal yang telah disucikan dan sakral dan pelawatan yang lainnya diusung diikuti karma banjar.

 Upacara ngadegang sebagai makna mengingatkan umat atau karma agar tetap menjaga keharmonisasi, kesimbangan antara bhuana alit dengan bhuwana agung. Dualitas saling berhubungan dimana antara manusia dengan Pecipta, alam serta manusia itu sendiri dan juga meningkatkan spiritual umat.

Hal ini disampaikan, Kelian Banjar Sampalan I Dewa Made Suarjana, Kamis(16/1).

Ia juga mengatakan Ida Bhatara pelawatan kepundut dari Pura Gunung Hyang kesuciang ke segara.

 ” Perlengkapan upakara dan persiapan lainnya secara gotong royong dilakukan baik krama maupun sekahe. Rasa kebersamaan terus berdenyut walaupun gempuran globalisai terus menyerang,” ujar Dewa Suarjana.

 Usai pelastian di segara, pelawatan barong bangkal dan pelawatan lainya menuju perempatan desa dengan sigap pecalang mengatur arus lalu lintas selama 45 menit terhenti.

Pemangku haturkan segehan agung dengan anak ayam hitam disembleh dijadikan korban.

 Upacara ngadegang, menurut Dewa Suarjana upacara ini sebagai wujud terima kasih atas karunia yang sudah berikan oleh Penguasa Alam.

Ngadegang sendiri berasal dari kata ngadeg artinya berdiri. Ida Bhatara pelawatan barong bangkal melasti disucikan di segara setempat. Setelah itu, Ida Bhatara nyejer selama 11 hari.

 ” Awal tahun musim penghujan upacara ini digelar, hal dimaksudkan agar jagat landuh , teduh dan kerahayuan serta terciptanya kedamian setiap insan, ” terangnya.

Tradisi ini mendapat tempat bagi wisatawan yang sedang berlibur di Nusa Penida. Terlihat wisatawan dengan asyiknya mengabdikan moment tersebut.

 Nyadegang Mempererat Persaudaraan

 Aci pelaksanaan upacara selesai, karma terutama Ibu-ibu PKK sibuk mempersiapkan makanan.

Tradisi nyadegang bagian dari upacara ngadegang dimana setelah usai pelaksanan upacara karma diajakan makan bersama yang lebih dikenal dengan Nyadegang.

 Tradisi nyadegang tidak seterkenal mebigung, Dewa Suarjana menambahkan sejatinya hampir sama dengan megibung, namun ada sedikit perbedaan, kalau di Karangasem umumnya pesertanya berjumlah 8 orang, tempat makanan menggunakan dulang, dan lauk pauk disajikan tahap demi tahap.

Nyadegang berarti duduk secara bersama-sama menikmati hidangan yang disajikan sebagai ungkapan terima kasih atas karunia Tuhan yang sudah berikan. Tradisi ini juga bisa digelar saat acara adat Pelebon, Pawiwahan, Ngotonin dan upacara lainya.

 Dan untuk menggiring pemuda agar bangga dengan tradisinya, maka kita melibatkan mereka langsung dalam tradisi tersebut, memberi dia tanggung jawab mengerjakan step by step acara tersebut,” sambung nya.

Menurutnya, selain untuk tetap melestarikan tradisi yang ada, kegiatan ini juga dapat memupuk rasa kebersamaan di antara anggota krama dan pemuda karena kegiatan yang bersifat tradisi biasanya membutuhkan orang banyak untuk mengerjakannya .(Roni/BPN/tim)