Desa Adat Buleleng Lakukan Penilaian Ogoh Ogoh Untuk Mewakili Lomba Tingkat Kabupaten

Salah satu Ogoh - Ogoh dari Banjar Adat Liligundi, Buleleng
Salah satu Ogoh - Ogoh dari Banjar Adat Liligundi, Buleleng

BULELENG, balipuspanews.com – Persiapan lomba ogoh ogoh untuk mengikuti perlombaan di tingkat kecamatan dan kabupaten mulai di lakukan Desa adat Buleleng.

Pihak Desa Adat Buleleng sudah menggelar penilaian terhadap tiga banjar adat sejak Minggu (2/8/2020) Guna mempersiapkan ogoh-ogoh yang akan mewakili desa adat Buleleng pada lomba ditingkat Kabupaten.

Tim juri yang diketuai Kelian desa adat Buleleng Nyoman Sutrisna secara bergiliran mendatangi lokasi pembuatan ogoh ogoh dimaksud di balai banjar masing-masing.

Ketua Tim Juri Nyoman Sutrisna mengatakan Desa Adat Buleleng nantinya akan mengikuti lomba ditingkat kecamatan. Maka untuk mempersiapkan hal itu pihaknya akan mengutus satu banjar adat untuk mengikutinya atas nama Desa Adat Buleleng.

Ogoh Ogoh yang bisa memenuhi kriteria penilaian yang meliputi anatomi, tanpa plastik, karya orisinil, pakem dan tema. Peserta yang berhak mewakili akan diumumkan tanggal 4 Agustus lusa serta akan didaftarkan tanggal 7 Agustus mendatang.

“Kita melakukan penilaian terhadap tiga ogoh-ogoh yang telah dibuat oleh sekehe truna di tiga banjar adat untuk pengerupukan Nyepi bulan Maret lalu. tak ada yang baru. Kita akan umumkan tanggal 4 Agustrus siapa yang berhak mewakili mengikuti lomba ditingkat Kecamatan dan Kabupaten,” jelasnya Minggu (2/8/2020)

Lanjutnya setelah mendapat siapa yang mewakili untuk lomba ogoh ogoh. Peserta nantinya akan mendapatkan uang pembinaan dengan rincian yang sudah ditentukan pihaknya.

“Peserta yang berhak mewakili akan mendapatkan uang pembinaan sebesar 2 juta rupiah ditambah 3 juta rupiah untuk penyempurnaan, sedangkan juara kedua berhak atas uang pembinaan satu setengah juta rupiah dan juara ketiga berhak atas uang pembinaan satu juta rupiah,” paparnya

Sementara itu Wakil Ketua Teruna Abhirama Devari Banjar Adat Liligundi Gede Taragita Sandre Putra mengungkapkan bahwa ogoh-ogoh yang dibuatnya bulan Januari lalu dihentikan pengerjaanya akibat dari situasi Covid-19.

Bahkan ogoh ogoh yang bernama Sang Bogor Manik tersebut penyelesaian sudah mendekati 90 persen dengan biaya yang telah dihabiskan tujuh juta rupiah.

“Sudah 85 persen biaya habis sebesar tujuh juta rupiah. Dierjakan sejak bulan januari lalu, tapi karena terganjal covid-19 terpaksa kami hentikan,” ungkapnya

Tim penilai nantinya akan menilai dari 14 banjar adat yang di Desa Adat Buleleng, Tiga Banjar Adat diantaranya telah membuat ogoh-ogoh persiapan pengerupukan pada Nyepi Caka 1942 pada tanggal 25 Maret lalu.

Akan tetapi terganjal Covid-19 akhirnya pengerjaannya dihentikan. Ketiga ogoh-ogoh dimaksud masing-masing ogoh-ogoh Sang Kala Wimurca dari banjar adat Delod Peken, Sang Jogor Manik dari banjar adat Liligundi dan Sang Bhuta Cuil dari banjar adat Banjar Tegal.

Penulis Nyoman Darma