Rabu, Oktober 21, 2020
Beranda Bali Buleleng Sampah Botol Plastik di Buleleng Diolah Jadi Kaki Palsu, Penyandang Disabilitas Tak...

Sampah Botol Plastik di Buleleng Diolah Jadi Kaki Palsu, Penyandang Disabilitas Tak Dipatok Harga

BULELENG, balipuspanews.com – Perasaan bahagia sekaligus syukur tak bisa disembunyikan oleh para penyandang disabilitas lantaran saat ini mereka bisa terbantu dengan diberikan kaki palsu yang diserahkan secara cuma-cuma oleh salah satu yayasan yang bergerak di bidang kesehatan bernama Yayasan Kaki Kita beralamat di Jalan Pratu Mas Nomor. 7 Sangket Sukasada, Buleleng.

Akan tetapi dalam penyerahan bantuan tersebut ada hal yang cukup menarik, sebab bahan yang digunakan untuk membuat kaki palsu itu semuanya berasal dari botol sampah plastik yang diproses untuk menjadi replika bagian tubuh manusia.

Pendiri Yayasan Kaki Kita, I Made Aditiasthana mengatakan bahwa banyak cara yang dapat dilakukan untuk berbagi kepada saudara yang membutuhkan, khususnya para penyandang disabilitas.

Salah satu caranya yakni dengan membuat kaki palsu, ide awal ia membuat kaki palsu disebabkan selama ini harga kaki palsu memiliki kisaran harga yang cukup mahal, sementara kebutuhan terhadap kaki palsu terbilang banyak.

“Kami melihat dimana penyandang disabilitas sebagai besar di Buleleng dengan usia produktif. Sehingga hati kami terdorong untuk membantu mereka, melalui hal ini,” tuturnya beberapa hari sebelumnya.

Yayasan yang sudah berdiri sejak tahun 2019 lalu tersebut diawal menggarap kaki palsu dilakukan bersama rekannya Beni Ariadi, bagi penyandang disabilitas pihaknya tak pernah mematok harga terhadap kaki palsu yang akan dibuat. Akan tetapi jika ada yang memang ingin memesan kisaran harga yang diberikan jika Rp 1 sampai 1,5 juta per buahnya.

Namun, khusus penyandang disabilitas yang ada di yayasan dan berada diluar yayasan harganya sesuai solidaritas, bahkan pihaknya kemungkinan berikan secara gratis sebagai wujud kepedulian sosial.

“konsep dari saya, eksekutor pembuatan kaki palsu nya adalah rekan saya Beni Ariadi,” imbuhnya.

Sementara itu Beni Ariadi mengaku kendati dulu ayahnya sebagai pembuat kaki palsu dan penyandang disabilitas, saat ini justru dalam proses pembuatan kaki palsu dirinya belajar secara otodidak. Selain itu dalam pembuatan kaki palsu berbahan sampah botol plastik membutuhkan waktu 3-5 hari, dengan menghabiskan sampah botol plastik yang sudah dicacah sekitar 2 kilogram. Pembuatan tetap menggunakan cetakan sesuai dengan ukuran kaki palsu bagi penyandang disabilitas.

“Cacahan plastik tersebut yang dimasukkan kedalam cetakan. Barulah di oven dalam kompor gas dengan suhu panas sekitar 250 derajat. Cacahan plastik untuk terurai cair dan membeku membutuhkan waktu sekitar 1 jam 20 menit,”terangnya

Bakalan kaki palsu sudah berbentuk kaki, nantinya akan ada proses selanjutnya yaitu proses penyesuaian, dengan cara kaki palsu berbahan plastik coba digunakan oleh penyandang disabilitas. Cara mengukurnya terbilang mudah jika saat digunakan maka beberapa hal akan ditanyakan langsung seperti posisi kaki yang kurang pas, ada kemiringan, lentur tidak digunakan dan apakah sudah nyaman.

Setelah itu apabila masih dikira ada yabg kurang maka akan dilakukan servis kembali sampai kaki palsu dirasakan nyaman digunakan bagi penyandang disabilitas baru dilatih berjalan.

“Saat ini baru kami buat ada sekitar 3 kaki palsu berbahan sampah botol plastik,”sinkatnya.

Tak hanya itu untuk menunjang biaya operasional yayasan pihaknya tak hanya membuat kaki palsu berbahan olah sampah botol plastik yang dicacah. Ada juga sejumlah papan tripleks untuk pembuatan meja, kursi, rak buku, tempat rak pot bunga, meja belajar dan dekorasi ruangan rumah yang diakuinya sudah sampai dipasarkan dibeberapa daerah di Bali.

“Kalau untuk, meja kursi dan lainnya berbahan baku sampah botol plastik kami sudah mencapai puluhan buah. Bahkan sudah masuk pemasaran ke daerah Gianyar, Tabanan dan Denpasar,” tutupnya.

Penulis/Editor :  Nyoman Darma/Oka

- Advertisement -

Kakek Gantung Diri di Gubuk Ditemukan Oleh Cucunya

ABIANSEMAL, balipuspanews.com -Seorang cucu, Putu Darmiati, 23, tidak menyangka menemukan kakeknya, Ketut Sumerta, 65, tewas gantung diri di gubuk sawah di Pondok Subak Munduk...

Kasus Dugaan Pemerkosaan Pelajar, Diduga Terjadi di Lima Tempat Berbeda Oleh 10 Pelaku

BULELENG, balipuspanews.com - Penyelidikan terhadap kasus dugaan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur terus berlanjut. Kasus yang korbannya dibawah umur ini dari hasil penyelidikan sementara...
Member of