GIANYAR, balipuspanews.com – Misi mulia ditanamkan Sanggar Brahma Manu Wisesa (BMW) kepada anak didiknya.

Sanggar yang beralamat  di Desa Tegallalang, Gianyar itu menerapkan  konsep “Ngayah Diastun Sing Mebayah”, yang merupakan motto dari anak-anak sanggar ini.

Sanggar tersebut memberikan pemberdayaan kepada anak-anak muda di Gianyar untuk mengasah potensinya di bidang seni tari dan tabuh. Bahkan, ada juga bidang seni lainnya seperti fotografer, teater dan lainnya yang bersifat seni.

Sanggar ini merekrut anak muda yang memiliki potensi-potensi yang kurang memiliki ruang untuk meluapkan potensinya. Saat ini sanggar ini terus memberikan “ayah-ayahan” tanpa meminta bayaran di sejumlah Pura. Sanggar ini memakai sistem gotong royong dimana ada anggota atau desa yang memerlukan ‘ayahan’ pasti maka semuanya akan bersama-sama berkumpul dan ngayah bersama.

Untuk operasional ‘ngayah’  sanggar BMW memiliki kerja sama dengan Kuwarasan Hotel dimana sanggar ini dibayar per minggu untuk memperkenalkan tarian dan tabuh ke tamu-tamu mancanegara yang menginap di Hotel, dimana penari dan penabuh kebanyakan anak-anak.

Sanggar ini sudah memiliki pasar untuk berkreatifitas dan menunjang operasional ngayah di Pura. Di hotel ‘mebayah’ untuk ‘ngayah’ itulah yang dikatakan oleh pengurus sanggar BMW.

Kedepannya pengurus Sanggar Brahma Manu Wisesa akan menjadikan sanggar menjadi yayasan karena sebagian besar kegiatannya yang bersifat sosial. Adapun pengurus sanggar BMW ini diantaranya adalah Pande Made Widia, Tu Bagus Dananjaya, Satya Bhuana, Nitha Suwitri, Kadek Surya, I Wayan Mertha, dan Agus Andika.

“ Mereka akan terus mengajak anak muda berkreatifitas tanpa ada ‘bayahan’ (bayaran) dan tetap menggunakan konsep ‘ngayah’ dan gotong royong. Jika ada batu-batu (punia) dari Pura untuk penghormatan ke kami, kami tetap terima dan dananya akan kami arahkan ke pemberdayaan kreatifitas anak-anak,” ungkap salah satu pengurus Sanggar, Pande Made Widia, Minggu (19/1/2020).

Untuk saat ini Sanggar BMW lebih menampilkan kesenian Calonarang untuk ‘ngayah’ di beberapa Pura ketika ada Ida Betara Mesolah dan di beberapa kesempatan setiap bulannya.(ctr/bpn/tim).