Jumat, Juni 14, 2024
BerandaBulelengSapi Gerumbungan dan Mengarak Sokok Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Sapi Gerumbungan dan Mengarak Sokok Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

BULELENG, balipuspanews.com – Dua tradisi khas di Kabupaten Buleleng diantaranya Tradisi Sapi Gerumbungan Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar dan Mengarak Sokok Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional usai melewati sidang akhir WBTB 2023 di Jakarta, 31 Agustus 2023 lalu.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng I Nyoman Wisandika dua tradisi asal Buleleng ini ditetapkan sebagai WBTB bersama 19 karya budaya Bali lainnya yang diusulkan dalam sidang yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Kedua tradisi diusulkan Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng pada tahun 2022 lalu sebelum akhirnya ditetapkan dalam sidang akhir yang digelar secara offline di Jakarta.

“Bertambahnya dua tradisi masuk WBTB jadi total sudah 14 tradisi asal Buleleng sudah mendapatkan sertifikat WBTB. Tentu ini salah satu upaya kami bagaimana agar tradisi ini bisa terlindungi dan tetap bisa dilestarikan,” ungkapnya saat ditemui, Selasa (12/9/2023).

Sekedar diketahui tradisi sapi gerumbungan di Kabupaten Buleleng memang berkembang di beberapa wilayah. Akan tetapi sampai sekarang terpusat dan masih eksis di Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Buleleng. Tradisi unik ini diperkirakan dimulai sejak tahun 1923 silam.

BACA :  Cegah Perundungan, Bupati Gede Dana Sosialisasi ke Sekolah

Tradisi Sampi Gerumbungan ini diinisiasi petani saat membajak sawah menggunakan alat tradisional yang bernama tenggala atau lampit yang ditarik dua ekor sapi. Dari aktivitas membajak sawah ini, petani mulai berkreasi. Salah satunya melatih cara berjalan dan berlari sapi dengan cantik.

Tontonan sapi gerumbungan awalnya hanya dinikmati petani, usai panen sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Seiring berjalannya waktu aktivitas membajak sawah ini menjadi seni tontonan menarik dan hiburan masyarakat pada masa itu.

Sehingga saat ditampilkan sebagai tontonan, sapi-sapi ini dihias dengan pernak pernik untuk menambah keindahan. Sejak tahun 1986 tradisi sampi gerumbungan tumbuh menjadi atraksi budaya yang menghibur wisatawan di kawasan Lovina Buleleng.

Sedangkan Tradisi Mengarak Sokok, merupakan tradisi Umat Muslim di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahunnya setiap peringatan Maulid Nabi yang jatuh pada 12 Rabiul Awal.

Masyarakat Pegayaman di rantau pun biasanya lebih mementingkan untuk pulang di hari raya Maulid dibandingkan dengan hari raya lainnya.

BACA :  Ratusan Calon Bintara Polri Jalani Tes Kesamaptaan Jasmani

Sebelum masuk ke peringatan Maulid Nabi, terdapat satu tradisi di hari Rabu terakhir di bulan shafar, yaitu membuat ketupat di masing-masing rumah sebagai simbol keselamatan keluarga. Setelah membuat ketupat mereka pergi mandi ke sungai atau ke mata air bersama keluarga.

Tradisi ini dilaksanakan pada sore hari setelah makan siang. Usai mandi dan menikmati ketupat kembali ke rumah masing-masing. Tradisi shafar ini dipercaya oleh masyarakat untuk menghilangkan penyakit.

Sokok yang dibuat ada 3 jenis yaitu sokok base/sosok pajegan, sokok taluh (telur) dan sokok kreasi. Bagian uniknya ada pada sokok base.

Dasar dari sokok menggunakan dulang (wadah upakara umat Hindu) sebagai alas. Komponen wajib yang ada di sokok base. Sokok dibuat oleh perorangan. Saat Mauludan sekitar 30 sokok diarak oleh Sekaa (kelompok) Hadrah untuk dibawa ke masjid. Setelah Shalat Maghrib dan membaca Al Barzanji sokok akan dibagikan kepada masyarakat.

Keberadaan Tradisi Mengarak Sokok menunjukkan adanya akulturasi budaya antara Agama Islam dan Hindu Bali. Semangat toleransi dan kebersamaan sangat jelas terlihat pada prosesi pembuatan dan pengarakan sokok.

BACA :  Rapat Bersama DPR RI dan Pemerintah, Komite II DPD RI Beri Catatan Terkait RUU KSDAHE

Lanjut Wisandika mengatakan untuk tetap menjaga serta melestarikan setiap warisan budaya tak benda yang ada di Kabupaten Buleleng dan sudah diakui. Pihaknya terus berusaha menampilkan tradisi-tradisi yang ada dalam event-event yang diadakan didalam ataupun di luar daerah.

“Usai ditetapkan kami selalu berusaha agar bagaimana bisa ditampilkan dalam acara atau event seperti misalnya lukis kaca khas Desa Nagasepaha kami tampilkan di Buleleng Devlopment Festival (BDF). Jadi mereka akan lebih dikenal,” imbuhnya.

Sementara itu, untuk tahun 2023 pihaknya telah menyiapkan tradisi Meamuk-amukan Desa Padangbulia, Kecamatan Buleleng dan Janger Kolok Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan yang akan diusulkan untuk bisa mendapatkan WBTB di tahun 2024.

“Mudah-mudahan setiap tahun kita bisa usulkan, kami juga masih terus melakukan pendataan terhadap warisan budaya lainnya yang berpotensi diusulkan menjadi WBTB,” harapnya.

Penulis : Nyoman Darma 

Editor : Oka Suryawan 

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular