Sarwa Genep, Banjar Tempat “Nunas” Pelengkap Yadnya

Ir. I Nengah Mawan (warga Banjar Sarwa Genep/Perbekel Desa Gubug, Tabanan)
Ir. I Nengah Mawan (warga Banjar Sarwa Genep/Perbekel Desa Gubug, Tabanan)

TABANAN, balipuspanews.com – Dulunya banjar ini terkesan tersembunyi, meski keberadaannya tidak jauh dari jantung kota Tabanan. Kesan terisolir ini karena terlindungi pepohonan yang cukup lebat dan pesawahan pada sisi utara, barat dan selatan. Sementara pada sisi timurnya berbatasan dengan sungai.

Itulah Banjar Sarwa Genep yang termasuk salah satu banjar di Desa Gubug, Tabanan. Banjar ini berlokasi kurang lebih lima kilometer kearah selatan dari jantung kota Tabanan.

Penduduk banjar ini bisa disebutkan sedikit, yakni hanya 24 KK. Jumlah tersebut merupakan keturunan dari tiga leluhur warga banjar setempat yang namanya diringkas menjadi nama banjar tersebut.

Adapun ketiga nama leluhur warga Banjar Sarwa Genep ini adalah I Gede Wayan Sarwa, Ni Luh Sari, dan I Gede Nyoman Genep. Ketiganya ini yang kemudian menurunkan 24 KK Banjar Sarwa Genep ini merupakan keturunan Bendesa Manik Mas. Untuk menghormati nama leluhurnya ini, dipilihlah Sarwa Genep sebagai nama banjar tersebut.

Seorang warga Banjar Sarwa Genep Ir. I Nengah Mawan, Rabu (5/7) mengungkapkan, ketiga leluhurnya tersebut berasal dari Nyambu, Kaba-kaba, Kecamatan Kediri, Tabanan. Dulu dipercaya sebagai pengabih Puri Kaba-kaba.

“Tetapi kemudian leluhur kami berselisih paham dengan pihak Puri Kaba-kaba dan leluhur kami kemudian pergi melintasi Desa Abiantuwung dan memilih menetap di Alas Wayah (kini menjadi Banjar Sarwa Genep),” ungkapnya.

Merasa nyaman bermukim di Alas Wayah, ketiganya kemudian menata tempat tersebut. Terutama menata pelemahan dan parahyangan.

Khusus untuk parahyangan, dibangun tiga khayangan. Yaitu Pura Sari Genep, Pura Tugu Pusering Sari Genep dan Pura Taman Beji Sari Genep. Menariknya, pura yang disebutkan terakhir ini pujawalinya bertepatan dengan Hari Suci Galungan.

Meski banjar ini terkesan tersembunyi, namun ternyata sangat dikenal hampir oleh seluruh pelosok Bali. Ini dikarenakan di Pura Taman Beji Sari Genep menjadi salah satu tempat yang wajib dicari ketika akan melakukan karya agung. Seperti misalnya ngaben gede (utamaning utama) atau juga karya ngenteg linggih.

“Biasanya panitia karya agung tangkil ke Pura Taman Beji Sari Genep menjelang prosesi Maurup-urup untuk nunas jejaton pelengkap karya. Seperti beras, saang (kayu bakar) dan juga tirta pemuput,” jelas Mawan yang juga Perbekel Desa Gubug ini.

Untuk beras imbuhnya, akan dipaica empat warna. Yaitu beras putih, beras kuning, beras merah dan beras hitam.

Keberadaan Pura Taman Beji Sari Genep ini juga menyimpan cerita unik terkait dengan Pura Puseh Beda. Kisah unik ini bermula dari kisah lampau seorang leluhur warga Sarwa Genep menemukan sebuah arca di sungai yang lokasinya berada di timur banjar tersebut. Karena tidak tahu itu benda suci, sempat dijadikan mainan.

Arca tersebut kemudian diserahkan ke perbekel jaman itu (Jero Gubug). Namun karena tidak mampu merawat arca tersebut diserahkan kepada punggawa Tabanan. Ternyata sama, punggawa Tabanan juga tidak mampu merawatnya.

Hingga akhirnya arca tersebut dikembalikan ke Gubug hingga akhirnya distanakan di Pura Puseh Beda dengan pelinggih berupa meru tumpang pitu (tujuh).

“Sejak saat itu hingga kini salah satu keluarga besar kami pasti ada yang terpilih ngayah sebagai pemangku di Pura Puseh Beda,” tutupnya.

Penulis : Ngurah Arthadana

Editor : Oka Suryawan