Sebelum Petaka, Kepala Syahbandar Gilimanuk Ikat Sumpah di Pura Jayaprana

Singaraja,balipuspanews – Isak tangis keluarga tak terbendung saat jenazah mendiang Made Astika (48) tiba di rumah duka, Banjar Dinas Munduk, Desa Anturan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Sabtu (4/11).

Kepergian almarhum Made Astika yang saat ini menjabat Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (KaUPP) Gilimanuk menyisakan luka mendalam bagi keluarga. Kepedihan itupun begitu sangat dirasakan oleh Ni Made Putri (70) selaku Ibunda almarhum.

Sejatinya, sebelum kecelakaan maut menimpa almarhum Made Astika beragam keganjilan dan pertanda hingga firasat buruk sempat dirasakan oleh Ni Made Putri.

“Gelagatnya berubah aneh beberapa bulan belakangan, anak saya (alm Made Astika) seperti orang bingung, sering marah-marah tidak karuan, dan saya pun sempat dicaci maki,” ucap Putri dengan suara terbata ditemui di rumah duka, Sabtu (4/11) siang.

BERITA TERKAIT:

Nah, saat acara melaspas sanggah bertepatan dengan Hari Raya Galungan, Rabu (2/11) lalu mendiang pun tiba-tiba menghampirinya, dan memeluknya dengan erat.

“Lama sekali saya dipeluk, setelah itu diajak photo bersama, lalu ditraktir minum teh botol, dan anak saya mengaku dalam waktu dekat segera akan luas joh (berangkat jauh),” katanya.

Belum sempat kalimat “berangkat jauh” terjawab, Putri kembali dikejutkan gelagat putra semata wayangnya tersebut.

“Belum terjawab kalimat berangkat jauh, almarhum mendadak membawa pulang sebuah tikar anyaman. Ya, katanya dipakai sendiri. Tikeh klase ne kal anggon kebat pules pang tis (tikar ini akan dipakai alas tidur biar lebih sejuk),” jelasnya.

Putri pun bermaksud mengutarakan sebuah fakta menyedihkan tentang sebuah kejadian kecelakaan hebat hingga menewaskan seseorang setelah membeli sebuah tikar anyaman. Namun, lagi-lagi dirinya terpaksa bungkam lantaran merasa khawatir hal tersebut bakal memicu kemarahan dari almarhum.

“Baru-baru ini, ada salah seorang warga di Banyualit membeli tikar dibawa sembahyang ke Jawa. Namun, belum sempat dipakai sudah tabrakan dan meninggal di wilayah Sendang. Biar tidak beban, cerita itu urung disampaikan ke almarhum,” terangnya.

Masih kata Putri, petaka dialami putranya itu sebenarnya tidak lepas dari sebuah sumpah yang pernah diucapkan beberapa bulan lalu di Pura Jayaprana.

Kala itu, pria kelahiran 23 November 1969 melakukan persembahyangan bersama istri, Ni Putu Emik Krisna Yeni (29). Saat prosesi persembahyangan berlangsung, almarhum spontanitas berteriak dengan suara lantang dihadapan istri serta Jro Mangku di Pura Jayaprana.

“Dihadapan Jro Mangku, dan istrinya, almarhum mengucapkan sebuah sumpah bahwa jika berbuat tidak baik terhadap istri supaya meninggal dengan cara tabrakan,” ungkapnya.

Kontan, Jro Mangku di Pura Jayaprana pun terkejut mendengar ucapan dilontarkan oleh almarhum Made Astika.

“Dalam waktu dekat ini, pihak keluarga akan menebus sumpah diucapkan almarhum di Pura Jayaprana dengan banten. Ya, agar almarhum diberi jalan, dan tenang di alam sana (surga),” tutupnya.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here