Ida Rai Bhagawan Smerthi
Ida Rai Bhagawan Smerthi

Penulis: Ida Rsi Bhagawan Smerthi Kusuma Wijaya Sebali

OPINI ANDA, balipuspanews.com – Wabah corona (Covid-19) tak pelak membuat ekonomi warga Bali kini terpuruk. Namun dari sisi kehidupan beragama, banyak hal yang bisa dipetik sebagai sebuah pelajaran berharga untuk umat Hindu Bali dari wabah ini.

Mewabahnya virus corona harus diakui telah memberi dampak yang signifikan, bahkan juga mengubah segala sendi2 kehidupan. Hal ini dapat dibuktikan secara nyata, khususnya bagi masyarakat yang beragama Hindu di Bali. Pelaksanaan upacara yang biasanya dalam skala besar dan mengeluarkan dana lumayan banyak, saat wabah corona masih bisa tetap berjalan normal. Namun pelaksanaannya menjadi jauh lebih simpel dan biaya yang dikeluarkan bisa lebih irit karena menyesuaikan dengan situasi dan kondisi atau keadaan ekonomi yang terjadi saat ini. Selain juga sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kemungkinan bahaya penularan dari orang per orang karena melibatkan orang banyak atau kerumunan. Termasuk juga sebagai bentuk tunduk, taat, tertib dan menghormati anjuran pemerintah.

Wabah virus corona ini seakan membuat umat kita harus melakukan introspeksi diri. Khususnya terhadap kelangsungan umat Hindu di Bali. Mengapa demikian, karena sebelumnya banyak sekali pandangan orang-orang yang memvonis bahwa beragama Hindu di Bali sangat berat. Setiap prosesi upacara bisa mengeluarkan uang yang cukup banyak.

Sesungguhnya beragama Hindu itu sangatlah simple dan fleksibel. Sedangkan prosesi upacara besar atau kecil itu, tergantung niat dan kemampuan masing-masing orang yang melakukan upacara. Tidak ada kata harus karena semunya itu kembali pada kemampuan dari yang punya hajatan.

Hindu akan selalu bisa dan dapat menyesuaikan diri dengan adat dan budaya, dimana Hindu itu berada dan berkembang. Hanya saja, umat yang terkadang belum paham akan hal-hal tersebut menjadi tidak sepaham atau juga jadi gagal paham karena sudut pandang berbeda dan tolak ukurnya pun berbeda-beda. Walaupun itu tidak semuanya benar dan juga tak semua nya salah.

Ketidakpahaman pelaksanaan dalam berupakara inilah yang menjadi faktor penyebab. Ini terjadi karena semua dilihat dari sisi ekonomis, bukan dari rasa syukur dan ketulus ikhlasan dalam melakukan suatu yadnya. Juga dari adanya perbedaan sudut pandang terhadap kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di suatu tempat yang situasi dan kondisi mereka disana sangat berbeda.

Termasuk juga esensi upakaranya yang berbeda-beda sesuai dengan pamahaman mereka masing-masing. Artinya niat, kemampuan, tempat, waktu, jenis dan dasar sastranya masing – masing umat berbeda sehingga timbullah penafsiran berbeda-beda pula .

Mirisnya lagi, orang yang belum paham berritual dan esensi upakara ikut memperkeruh dengan memvonis yang tidak-tidak. Yang mana wujud bakti pada Tuhan semuanya tak bisa dilogikakan, tetapi yang diutamakan adalah sebuah keiklasan dan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa beragama Hindu di Bali sangat sulit, ribet, boros segala-galanya dan banyak biaya.

Padahal, yang mempersulit itu adalah diri kita sendiri sehingga sangat tidak bijak kemudian ketika mengkambing-hitamkan agama. Karena beryadnya berdasarkan atas kemauan, ketulus ikhlasan bukan atas dasar pamer kemampuan apalagi pamrih.

Penulis: seorang sulinggih, tinggal di Griya Kusuma Sebali, Tembau, Denpasar