Sejak Jadi Abdi Negara hingga Pensiun, JKN Setia Temani Plekarya Berobat Rutin

- Advertisement -
- Advertisement -

BANGLI, balipuspanews.com– Seorang pensiunan guru bernama I Wayan Plekarya,61, baru saja menjalani setahun masa pensiunnya. Meskipun usianya tidak muda lagi tetapi Plekarya nampak masih sangat energik, ia masih bisa mengendarai sepeda motor, berkativitas layaknya anak muda, dan bahkan masih mampu joging berkilo-kilo meter.

Terlepas dari kondisinya yang masih nampak sehat tersebut, ternyata ia menyimpan cerita kaitan penyakit yang sebenarnya ia derita dari sejak aktif bekerja. Ia menderita diabetes melitus dan hipertensi.

Penyakitnya tersebut membuat Plekarya harus menjalani pengobatan tiada henti. Hari-harinya tidak bisa lepas dari tablet mungil yang tergolong obat paten untuk mengendalikan diabetes melitus dan hipertensi yang dideritanya.

Setiap sebulan sekali, ia harus menjalani kontrol rutin untuk memastikan tekanan darahnya berikut gula darahnya tetap stabil dan aman. Lantas apakah biaya berobatnya sedikit? Plekarya menjawab tidak.

“Kesehatan saya bukan hanya karena olahraga tetapi juga menjaga kondisi tubuh dengan obat, jika tidak mengkonsumsi obat ini maka saya akan pusing dan lemas, syukur terdeteksi sebelum parah. Pengobatan yang saya jalani rutin dan berbiaya besar tetapi bersyukur tidak dari kantong saya sendiri tapi dari BPJS Kesehatan yang menyelenggarakan Program JKN,” jelas warga asal Metre, Bangli tersebut sambil memperlihatkan obat-obatannya kepada Jamkesnews, Jumat (19/1/2024).

BACA :  Bupati Adi Arnawa Dorong Transformasi Pariwisata Badung yang Berkualitas dan Berkelanjutan

Ayah dua anak ini merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kelas 1 sedari ia aktif berstatus sebagai ASN hingga pensiun. Ia rajin mengunjungi Puskesmas Tembuku 2 tempatnya terdaftar. Di samping itu ia juga sudah menjadi salah satu anggota klub Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Selama terdaftar sebagai peserta Prolanis, Plekarya mengaku tidak pernah mengalami kendala.

Ia menyatakan layanan Prolanis terhadap dirinya sangat baik dan mudah. Setiap menjalani pemeriksaan kesehatan dan mencari obat, ia mengaku tidak perlu berlama-lama mengantre karena sudah diarahkan petugas Puskesmas tentang bagaimana caranya mendaftar melalui aplikasi.

“Jaman sekarang teknologi sudah canggih. Kalau dulu masih belum secanggih ini, jadi saya harus mengatur waktu agar dapat pelayanan paling cepat. Sekarang anak saya di rumah sudah bisa membantu menggunakan handphone agar saya dapat mendaftar dari rumah secara online. Jadi nanti tinggal ke puskesmas kalau nomor antreannya sudah dekat. Berobat jadi lebih mudah,” katanya.

Plekarya sangat yakin jika biaya berobat menggunakan uang sendiri, pastilah mahal. Apalagi obat-obatan yang diberikan terbilang paten. Meski demikian, dari awal pengobatan hingga saat ini, ia tidak pernah membayar sepeserpun berkat BPJS Kesehatan. Ia juga menuturkan bahwa saat ini ia masih mengantongi kartu Askes berwarna kuning yang ia peroleh sewaktu masih berstatus aktif sebagai abdi negara. Menurut Plekarya, kartu tersebut masih bisa dipakai untuk berobat di Puskesmas dan masih menjamin biaya pengobatan sepenuhnya.

BACA :  BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome dalam Program JKN

Ia meyakini jika biaya iuran yang selama ini dipotong dari tempatnya bekerja tidak pernah sia-sia dibandingkan manfaat yang didapat. Ia juga memang tidak pernah menuntut akan haknya sebagai peserta JKN. Sebagai seorang guru ia mengerti tentang prinsip gotong royong JKN dan ingin memberikan pendidikan kepada peserta lainnya.

“Namanya program pemerintah pastinya untuk kepentingan rakyat, apalagi mengenai prinsip gotong royong program. Kami sebagai masyarakat adat di Bali sudah menjalankan dan sangat merasakan prinsip ini. Saya sendiri menyadari jika iuran yang selama ini saya bayarkan tidak perlu dimintai timbal balik, karena jika tidak kita sendiri yang pakai artinya akan bermanfaat untuk membantu orang lain yang juga membutuhkan pelayanan kesehatan,” tegas Plekarya.

Menutup perbincangan dengan Jamkesnews, Plekarya mengungkapkan bahwa pada masa tuanya saat ini, ia hanya berharap dapat berobat dengan disiplin dan tidak terputus demi kondisinya agar tetap dapat berjualan sembako di toko bersama istrinya. (adv)

Penulis: Gde Candra 

Editor: Oka Suryawan

Follow Balipuspanews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News
RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular