Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Denpasar, balipuspanews.com – Semangat berkesenian seniman yang terlibat dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 tahun 2018 terus ditunjukkan dalam setiap pementasan yang ditampilkan. Seperti pada Selasa (10/7) lalu di areal Art Centre digelar pementasan tradisi Ngelawang Duta Kota Denpasar yang diwakili Sekaa Rare Kumara Banjar Anggabaya, Desa Penatih, Denpasar Timur. Rute Ngelawang dimulai dari Depan Gedung Krya hingga menuju Panggung Terbuka Ksirarnawa.

I Made Gede Kariasa selaku Pembina Sekaa mengatakan Sekaa Rare Kumara di PKB 2018 ini menerjunkan sekitar 80 orang penari dan penabuh. Cerita dibagi hingga dua – tiga babak yang ditampilkan singkat. Ditampilkan tiga jenis Barong yaitu Barong Buntut melambangkan Betara Rambut Sedana dan dua Barong Bangkal melambangkan Budug Basur dan Bawi Srenggi “Kami melibatkan penari dan penabuh usia sekolah, maka jadwal latihan disesuaikan setiap hari libur. Dalam prosenya kami mengajarkan tidak hanya harus pintar secara teknik seni tapi juga bagaimana anak didik kami menghayati proses menggarap suatu pertunjukan. Diajarkan juga proses memproduksi perangkat Barong agar mereka paham bagaimana proses produksi baik garapan maupun perlengkapan pendukungnya. Hal ini dapat melatih mental anak- anak.” ujarnya.

Disinggung mengenai cerita yang ditampilan Gede Kariasa menceritakan kisah Purana tentang Budug Basur dan Bawi Srenggi yang menjadi abdi surga namun karena sesuatu mereka dihukum turun kedunia. Mereka berdua lalu jatuh cinta dan mengejar Dewi Sri hingga memunculkan angkara murka dari Sakti Dewi Sri yaitu Bhatara Rambut Sedana sehingga mereka dikutuk menjadi hama yang menggangu lahan pertanian perkembang biakan ikan hasil laut. Setelah diketahui penyebabnya diadakanlah Upacara Yadnya Nangluk Merana untuk mengembalikan fungsi Budug Basur dan Bawi Srenggi “Mengenai perkembangan tradisi Ngelawang mencapai kejayaannya diera 70 hingga 90an. Bila dulu hanya diperuntukkan untuk fungsi sakral, kini diinovasikan sebagai apresiasi berkesenian. Berkaitan dengan tema PKB tahun ini yaitu Teja Dharmaning Kahuripan atau api spirit penciptaan maka istilah “Dharmaning Kahuripan” disini merujuk pada menjalankan Swadharma (kewajiban) kita secara maksimal. “Di satu sisi, sebagai orang Bali, Yadnya merupakan salah satu hal utama. Bila Yadnya yang kita lakukan direstui yang maha kuasa niscaya dapat memunculkan sesuatu yang baik bagi kita semua” ungkap Gede Kariasa.

Mirah Pramiyogi, salah satu penari dolanan petani saat dijumpai dibelakang panggung mengaku sangat senang dan bangga dapat tampil di PKB sebagai Duta Kota Denpasar. “Saya dan teman- teman berlatih sejak bulan maret lalu. Tentu, pengalaman baru dan dapat belajar banyak didalamnya” ujar gadis siswi SMPN 8 Denpasar ini, (rls/bpn/min).

Advertisement

Tinggalkan Komentar...