sewa motor matic murah dibali

Singaraja, balipuspanews.com| Sejarah Mejuk-jukan sendiri tak lepas dari foklor desa menyatakan bahwa dahulu kala pernah terjadi peristiwa memilukan yang dialami oleh seorang gadis berparas ayu di Desa Bengkala.

Nasib kurang beruntung dialami gadis berparas ayu nan jelita, lantaran dirinya mengalami perlakuan kasar dan tidak senonoh dari kaum laki-laki.

Mengenang peristiwa itu, dan bentuk penghargaan terhadap kaum perempuan maka digelarlah tradisi mejuk-jukan di Desa Pakraman Bengkala.

Cerita berawal saat pemerintahan Raja Jansadhu yang dikenal dengan Prasasti Pakuan, dan ditulis pada abad ke-11. Dalam Prasasti disebutkan bahwa Desa Bengkala memiliki wilayah kekuasaan hingga ke Desa Pakuan yang sekarang disebut Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan.

Dikisahkan, suatu hari pada Tahun Baru Saka, ada seorang gadis cantik yang tinggal di wilayah Klandis, Desa Pakuan sempat diperlakukan tidak senonoh oleh masyarakat setempat. Akhirnya, tetua desa setempat kala itu mengambil kebijakan dengan membuatkan Palinggih Ratu untuk pengayatan Ratu Cantik. Palinggih Ratu itu hingga kini masih ada di sebuah pura kawasan Klandis, Desa Pakisan.

Penyarikan Desa Pakraman Bengkala, I Ketut Darpa, mengatakan tradisi ritual Majukjukan ini sudah berlangsung selama ratusan tahun dan diwariskan secara turun temurun. Tidak ada rujukan pasti yang melatarbelakangi digelarnya tradiis Majukjukan saat Pangrupukan Nyepi ini.

Namun, Ketut Darpa kemudian mendapatkan rujukan soal tradisi ini tahun 2007 silam ketika dirinya ikut berpartisipasi dalam penelitian arkeologi di Kubutambahan.

“Rujukan soal tradisi ritual Majuk-jukan ini tertuang dalam Prasasti Pakuan,” ungkap Ketut Darpa saat ditemui di sela pelaksanaan tradisi ritual Majukjukan di Pura Desa Pakraman Bengkala.

Menurut Ketut Darpa, sejak kejadian tersebut, Desa Pakuan yang kini menjadi Desa Pakisan memisahkan diri dari Desa Bengkala.

“Namun, kami juga tidak berani menyimpulkan bahwa pecahnya Desa Pakuan dengan Desa Bengkala karena kasus gadis yang diperlakukan tidak sewajarnya itu,” jelas Ketut Darpa.

Berdasarkan Prasasti Pakuan, ketika krama Desa Pakisan menghormati gadis cantik yang sempat dilecehkan itu sebagai ratu dalam bentuk Palinggih Ratu, sementara krama Desa Pakraman Bengkala membuat tradisi ritual Majukjukan sebagai simbol penghormatan kepada gadis dan wanita umumnya.

Ketut Darpa mengatakan, tradisi ritual Majukjukan hingga kini dipakai krama Desa Pakraman Bengkala sebagai salah satu gambaran dan peringatan bahwa keberadaan gadis atau wanita senantiasa harus dihormati.

BERITA TERKAIT : Tradisi Mejuk-jukan di Bengkala, Simbol Penghormatan Kaum Perempuan

“Wanita sebagai lambang ibu dan ibu pertiwi, dipercaya memberikan kemakmuran. Sehingga ada kepercayaan yang berkembang, di mana wanita dihormati, maka di situlah aka nada kebahagian dan kesejahteraan,” jelas Ketut Darpa.

Ketut Darpa kembali meminta agar kedepannya para Ratu Bengkala berperan aktif dalam mengkampanyekan tata cara berpakaian adat ke pura yang baik dan benar kepada truna-truni di Bengkala.

“Kami minta mereka bisa menularkan tata cara berpakaian ke Pura yang sopan, dengan merujuk pada etika yang berlaku, kami bebaskan mereka mencari di internet, lewat PHDI sebagai sumber rujukan tentang cara berbusana ke Pura yang benar,” imbuhnya.

Sebuah cita-cita terbersit dalam benak Ketut Darpa untuk mengemas tradisi Mejuk-jukan tersebut menjadi lebih kreatif, sehingga menjadi sebuah event tahunan yang mampu mengundang para wisatawan untuk berkunjung ke Desa Bengkala.

“Kami rencananya akan mengemas tradisi mejuk-jukan ini sebagai atraksi budaya, humas ngga benar-benar bermanfaat dan mampu mengundang daya tarik wisatawan untuk datang ke Desa Bengkala,” tutupnya.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here