Ilustrasi selingkuh
Ilustrasi selingkuh

DENPASAR, balipuspanews. com -Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) setiap tahunnya cenderung meningkat. Bahkan mencapai puluhan kasus yang didominasi perselingkuhan suami. Hal ini disampaikan Kasubbag Humas Polresta Denpasar Iptu Andi Muhamad Nurul Yaqin, pada Jumat (22/11/2019).

Diterangkannya, peningkatan kasus KDRT ini berdasarkan data Satuan Reskrim Polresta Denpasar. Dimana, tahun 2018 terdapat sekitar 40 kasus KDRT dan. Tahun 2019 ada sekitar 35 kasus KDRT.

Dijelaskannya, penyebab kasus KDRT bermacam-macam, ada masalah ekonomi hingga perselingkuhan. “Paling banyak selingkuh yang  dilakukan pihak suami,” kata Yaqin, pada Kamis (21/11).
Diterangkannya, motif untuk kasus perselingkuhan rata-rata karena pengaruh media sosial. Sedangkan kekerasan yang paling dominan dilakukan suami pada istrinya adalah pemukulan. “Kekerasan tidak hanya dialami istri tapi anaknya juga. Artinya dari 35 kasus ini ada kekerasan yang dialami anak-anak,” ungkapnya.
Mantan Kanit Reskrim Polsek Kuta Selatan ini meneruskan, selain kasus aniaya ringan ada juga kasus aniaya berat, seperti kasus pembunuhan kepada istrinya. Contoh kasus, Rudianto membunuh istrinya Halimah akibat cemburu dan  tewas di Pasar Kreneng, Denpasar, Bali, Selasa (15/10) lalu.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuj membangun keharmonisan keluarga. Bila ada permasalahan silahkan dibicarakan dengan baik-baik,”pintanya.
Diterangkannya, rata-rata kasus KDRT dilakukan oleh usia 30 tahun ke atas. Bahkan, ada yang memilih bercerai karena sudah kesal. Tak jarang ada juga yang memilih rujuk kembali karena masih sayang anak-anaknya.
Sedangkan bagi pelaku KDRT yang kasusnya luka berat akan dijerat Pasal 44 Ayat 1 dan 2 KDRT dengan hukuman 5 sampai 10 tahun pidana  dan luka ringan bisa 4 bulan pidana. (pl/bpn/tim)

Tirto.ID
Loading...